FBA Dorong Kampus Hapus Stigma terhadap Penyandang Disabilitas

  • 27 Agt 2026 21:30 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Forum Bangun Aceh atau FBA mendorong perguruan tinggi di Aceh memperkuat lingkungan kampus yang inklusif dengan menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas. Perubahan cara pandang dinilai penting agar mahasiswa disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan dan kehidupan kampus.

Koordinator Program FBA, Nurul Asyura, mengatakan kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pendidikan, tetapi juga ruang untuk membentuk pola pikir dan sikap mahasiswa terhadap keberagaman.

Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Disabilitas RRI Banda Aceh Minggu 23 Agustus 2026, yang membahas workshop Inclusive Campus for Everyone hasil kolaborasi FBA dengan mahasiswa magang UIN Ar-Raniry.

Menurut Nurul, stigma masih menjadi salah satu tantangan utama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang inklusif. Penyandang disabilitas masih kerap dipandang berdasarkan kekurangan atau keterbatasannya, bukan berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

Ia mengatakan, perubahan juga perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana yang aksesibel serta penyesuaian proses belajar mengajar sesuai dengan ragam disabilitas.

Nurul menegaskan, penyandang disabilitas tidak membutuhkan label sebagai kelompok yang “istimewa”, melainkan membutuhkan akses dan akomodasi yang layak agar dapat berpartisipasi secara setara.

Ia mencontohkan, ketika seseorang menggunakan kursi roda, yang perlu diperhatikan bukan keterbatasan orang tersebut, tetapi bagaimana hambatan lingkungan dapat dihilangkan sehingga ia dapat mengakses ruang sebagaimana orang lain.

FBA juga mendorong mahasiswa untuk membangun interaksi yang setara. Mahasiswa diharapkan tidak menghindari penyandang disabilitas karena khawatir salah berinteraksi, tetapi menyapa, menawarkan bantuan tanpa memaksakan, serta melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan kampus.

Nurul berharap isu inklusivitas tidak berhenti pada kegiatan workshop. Perguruan tinggi perlu melibatkan penyandang disabilitas dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kebijakan dan pembangunan fasilitas kampus.

Menurutnya, keberhasilan kampus inklusif bukan sekadar banyaknya pembahasan mengenai disabilitas, tetapi ketika penyandang disabilitas benar-benar memiliki ruang, kesempatan, dan suara yang setara untuk berpartisipasi secara bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....