Dokter Ingatkan Preeklamsia pada Ibu Hamil, Kenali Gejalanya

  • 29 Agt 2026 16:26 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Preeklamsia menjadi salah satu kondisi serius yang perlu diwaspadai selama kehamilan. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi eklamsia yang ditandai dengan kejang dan berpotensi mengancam keselamatan ibu maupun janin.

Hal itu disampaikan Dr. Cintia Habibi, Sp.OG, dokter dari Rumah Sakit Hermina Aceh, dalam program Dialog Klinik Angkasa Asokaya RRI Banda Aceh, Kamis (28/8/2026), yang membahas “Silent Killer pada Ibu Hamil, Waspada Preeklamsia”.

Cintia mengatakan preeklamsia merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan keselamatan ibu dan bayi. Ia menyebut pendarahan dan preeklamsia sebagai dua penyebab utama kematian ibu hamil yang perlu diwaspadai.

Karena itu, menurut Cintia, edukasi mengenai preeklamsia tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga tenaga kesehatan di tingkat layanan primer, seperti bidan dan dokter umum di puskesmas. Dengan pemahaman yang lebih baik, deteksi dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Cintia menjelaskan, preeklamsia berkaitan dengan peningkatan tekanan darah pada ibu hamil dan memiliki sejumlah faktor risiko. Salah satunya adalah usia ibu.

Ibu hamil yang berusia terlalu muda, khususnya di bawah 19 tahun, maupun usia lebih dari 35 tahun disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami preeklamsia.

Selain usia, faktor lain yang perlu diperhatikan antara lain obesitas atau indeks massa tubuh berlebih, jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.

Kondisi kesehatan tertentu yang sudah dimiliki sebelum kehamilan juga dapat menjadi faktor risiko. Di antaranya hipertensi, diabetes melitus, penyakit autoimun seperti lupus, serta gangguan tiroid.

Menurut Cintia, salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah peningkatan tekanan darah. Dalam penjelasannya, preeklamsia ditandai tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih dan disertai protein dalam urine.

Selain itu, ibu hamil perlu lebih waspada jika mengalami sakit kepala hebat, pandangan kabur, atau nyeri ulu hati bersamaan dengan tekanan darah tinggi.

“Kalau ada tekanan darah tinggi dengan gejala-gejala seperti itu, ibu harus lebih aware atau langsung datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat,” ujar Cintia.

Ia menegaskan, gejala tersebut tidak sebaiknya dianggap sebagai keluhan kehamilan biasa. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui kondisi ibu dan menentukan penanganan yang tepat.

Cintia menjelaskan, eklamsia merupakan komplikasi berat dari preeklamsia. Kondisi ini dapat terjadi ketika preeklamsia tidak ditangani dan tekanan darah semakin tinggi sehingga berdampak pada otak.

Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah pembengkakan otak hingga menyebabkan ibu mengalami kejang. Pada tahap tersebut, keselamatan ibu dan janin dapat terancam. Karena itu, deteksi dini menjadi bagian penting dalam mencegah preeklamsia berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Cintia menilai peningkatan edukasi kepada ibu hamil dan tenaga kesehatan di layanan primer penting dilakukan. Dengan mengenali faktor risiko serta tanda-tanda yang perlu diwaspadai, ibu hamil dapat lebih cepat mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.

Peringatan World Preeclampsia Day sendiri diperingati setiap 22 Mei sebagai momentum meningkatkan kesadaran mengenai kondisi tersebut. (Preeclampsia Foundation)

Melalui edukasi berkelanjutan, Cintia berharap masyarakat semakin memahami bahwa menjaga kehamilan bukan hanya soal mempersiapkan persalinan, tetapi juga mengenali tanda bahaya sejak awal.

Bagi ibu hamil, tekanan darah tinggi yang disertai sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, atau nyeri ulu hati bukan keluhan yang sebaiknya diabaikan. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penilaian medis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....