Preeklamsia Mengintai Ibu Hamil tanpa Gejala

  • 23 Agt 2026 08:53 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Preeklamsia menjadi komplikasi serius kehamilan yang dapat mengancam keselamatan ibu dan janin. Dokter kandungan mengingatkan ibu hamil mengenali faktor risiko serta menjalani pemeriksaan rutin.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Hermina Banda Aceh, dr. Shintya Habibie, Sp.OG, menjelaskan kondisi tersebut. Menurutnya, preeklamsia ditandai tekanan darah tinggi setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu.

Preeklamsia dapat disertai protein dalam urine serta gangguan fungsi organ tubuh. Kondisi tersebut termasuk salah satu penyebab utama kematian ibu selain perdarahan.

Shintya mengatakan preeklamsia memiliki banyak faktor risiko yang perlu diperhatikan sejak sebelum kehamilan. Faktor tersebut meliputi usia terlalu muda, usia di atas 35 tahun, obesitas, serta jarak kehamilan terlalu dekat.

Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya juga meningkatkan risiko kejadian serupa pada kehamilan berikutnya. Penyakit hipertensi, diabetes, lupus, dan gangguan tiroid turut meningkatkan risiko preeklamsia.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain tekanan darah tinggi, sakit kepala hebat, dan pandangan kabur. Nyeri ulu hati serta pembengkakan wajah dan tangan yang tidak membaik juga patut dicurigai.

“Preeklamsia tidak akan membaik dengan sendirinya dan dapat menyebabkan kerusakan organ,” ujar Shintya dalam Dialog Asokaya, Sabtu, 22 Agustus 2026. Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat berkembang menjadi eklamsi yang ditandai kejang dan mengancam nyawa.

Preeklamsia juga dapat mengganggu aliran darah menuju plasenta sehingga pertumbuhan janin terganggu. Dampaknya dapat berupa berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, kekurangan cairan ketuban, hingga kematian janin.

Shintya mengimbau calon ibu mempersiapkan kondisi kesehatan sebelum merencanakan kehamilan. Pemeriksaan tekanan darah, berat badan, gula darah, serta penyakit penyerta penting dilakukan sejak awal.

Selama kehamilan, ibu dianjurkan menjalani pemeriksaan antenatal secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan juga diminta melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menemukan risiko preeklamsia sedini mungkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....