Cara Menjaga Kesuburan dengan Pola Hidup Sehat

  • 13 Apr 2026 17:47 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Kesuburan merupakan bagian penting dari kesehatan reproduksi yang tidak dapat diabaikan, terutama di tengah gaya hidup modern yang serba cepat. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K), Sub.FER, Spesialis obstetri dan ginekologi - kebidanan dan kandungan RSUZA, dalam Dialog Klinik Angkasa Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu 11 April 2026 yang mengangkat tema “Menjaga Kesuburan dan Gaya Hidup: Apa Kata Dokter Subspesialis Kandungan?”.

Menurut Rajuddin, kesuburan bukan hanya persoalan pasangan suami istri yang telah menikah, tetapi merupakan bagian dari kesehatan individu sejak usia muda. Ia menekankan bahwa banyak masyarakat selama ini lebih fokus pada isu kontrasepsi, persalinan, atau penyakit menular seksual, sementara aspek menjaga kesuburan sering terabaikan.

“Kesuburan itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usia, pola makan, hormon, gaya hidup, hingga penyakit tertentu. Ini bukan sesuatu yang bisa ditunda karena ada batasan biologis,” ujar Rajuddin.

Ia menjelaskan bahwa usia reproduksi sehat perempuan berada pada rentang 20 hingga 35 tahun, dengan puncak kesuburan sekitar usia 25–26 tahun. Seiring bertambahnya usia, kualitas dan jumlah sel telur akan menurun, hingga akhirnya berhenti pada masa menopause yang umumnya terjadi pada usia 45–52 tahun.

Di sisi lain, laki-laki juga memiliki batas kesuburan yang dikenal sebagai andropause, meskipun terjadi lebih lambat, yakni sekitar usia 65–70 tahun. Namun, kualitas sperma tetap dapat menurun seiring usia.

Rajuddin menyoroti bahwa gaya hidup modern turut memperburuk kondisi kesuburan. Pola tidur yang tidak teratur, konsumsi makanan ultra-proses, kebiasaan merokok, serta paparan informasi yang tidak akurat menjadi faktor risiko yang semakin kompleks.

“Sekarang orang hidup dengan ritme cepat, kurang istirahat, makan instan, dan minim interaksi sosial. Ini berdampak langsung pada kesehatan reproduksi,” katanya.

Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG(K), Sub.FER, (Spesialis obstetri dan ginekologi - kebidanan dan kandungan) , yang juga ahli dalam subspesialis fertilitas, endokrinologi reproduksi, dan IVF (bayi tabung) di RSUZA, dalam Dialog Klinik Angkasa Radio Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (11/4). Foto : RRI/Lis

Ia juga mengingatkan bahwa menunda kehamilan demi karier atau pendidikan tanpa perencanaan yang matang dapat berisiko. Menurutnya, tubuh manusia tidak selalu berjalan selaras dengan tuntutan sosial modern.

Dalam sesi dialog, Rajuddin juga menjelaskan bahwa infertilitas atau ketidaksuburan telah dikategorikan sebagai penyakit oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Secara global, satu dari enam pasangan mengalami masalah kesuburan dalam hidupnya.

“Kalau sudah satu sampai dua tahun menikah belum memiliki keturunan, itu harus diperiksa. Karena infertilitas adalah penyakit yang perlu ditangani secara medis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa faktor penyebab infertilitas berasal dari kedua belah pihak, yakni sekitar 50 persen dari laki-laki, 40 persen dari perempuan, dan 10 persen sisanya tidak diketahui secara pasti.

Lebih lanjut, Rajuddin menekankan pentingnya keseimbangan dalam memilih pasangan, termasuk dari segi usia, kematangan emosional, dan kesiapan ekonomi. Secara medis, perbedaan usia ideal antara pasangan berkisar 2 hingga 7 tahun untuk mendukung keselarasan fase kehidupan.

Dalam menjaga kesuburan, ia menyarankan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, serta memperhatikan waktu reproduksi yang optimal.

“Kesuburan adalah hasil interaksi banyak faktor. Bukan sekadar bisa hamil atau tidak, tetapi bagaimana kita menjaga tubuh tetap sehat secara menyeluruh,” tutupnya.

Dialog ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesuburan sejak dini sebagai bagian dari upaya membangun generasi sehat di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....