Kenali Faktor Risiko Kanker Nasofaring

  • 27 Agt 2026 21:38 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Masyarakat diminta mengenali berbagai faktor risiko kanker nasofaring dan menerapkan pola hidup sehat untuk menekan risikonya.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher, dr. Oktaria Denantika, Sp. THT-BKL, mengatakan kanker nasofaring merupakan penyakit yang dipengaruhi berbagai faktor, sehingga tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu penyebab.

Dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh, Sabtu, 22 Agustus 2026, dr. Oktaria menyebut faktor genetik, paparan asap rokok dan zat karsinogenik, pola hidup, serta infeksi Epstein-Barr Virus atau EBV dapat berperan dalam terjadinya kanker nasofaring.

Ia menjelaskan, risiko juga dapat meningkat pada orang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker tertentu. Namun, faktor keturunan bukan satu-satunya penentu karena kanker nasofaring bersifat multifaktorial.

Selain itu, paparan asap rokok serta zat kimia tertentu di lingkungan kerja juga perlu diwaspadai. Masyarakat yang bekerja dengan bahan berisiko dianjurkan menggunakan alat pelindung diri sesuai ketentuan.

dr. Oktaria juga mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan menghindari kebiasaan merokok.

Bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker nasofaring, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi tubuh. Olahraga ringan, seperti berjalan atau senam, dapat menjadi pilihan selama kondisi pasien memungkinkan.

Sementara itu, pengobatan kanker nasofaring disesuaikan dengan stadium dan kondisi pasien. Penanganannya dapat berupa radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya.

dr. Oktaria menegaskan, pengobatan kanker membutuhkan waktu dan dukungan dari keluarga. Karena itu, pasien dan pendamping perlu menjaga kondisi fisik dan mental selama menjalani pengobatan.

Ia mengingatkan, kanker nasofaring bukan berarti tidak memiliki harapan. Dengan penanganan yang tepat, sebagian pasien dapat menjalani aktivitas sehari-hari dalam waktu panjang tanpa munculnya gejala kembali.

Masyarakat diimbau tidak melakukan diagnosis sendiri berdasarkan informasi di internet. Jika muncul keluhan yang menetap atau mencurigakan, pemeriksaan sebaiknya dilakukan melalui dokter dan dilanjutkan ke dokter spesialis THT bila diperlukan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....