Dari Tangan Petani Gayo, hingga Lahir Sambal yang Menjelajah Nusantara
- 31 Agt 2026 23:22 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Bener Meriah - Di bawah terik matahari yang perlahan meninggi, tampak sibuk seorang pria sedang merawat tanaman cabai di kebunnya. Tangannya cukup telaten membersihkan rumput yang mulai jadi ancaman hama. Sesekali ia terlihat memeriksa daun dan batang tanaman, memastikan cabai yang mulai berbuah tumbuh dengan baik.
Petani itu bernama Herry (36). Di atas lahan sekitar lima hektar, dia tidak hanya menanam cabai, tapi juga sayur mayur, daun bawang, dan tomat.
Meski matahari cukup menyengat, udara sejuk masih cukup terasa di daerah dataran tinggi Gayo dengan ketinggian 1500 MDPL. Sesekali, Herry menyeka keringat yang membasahi wajahnya sambari menatap penuh harap agar tanaman cabainya pada musim tanam tahun ini tidak gagal panen.
Satu per satu batang cabai yang ditanam Herry mulai memerah. Dari lahan yang ia tanami di Desa Gele, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh itu, Herry berharap hasil panen nanti bisa berlimpah dan balik modal.
“Kali ini selain cabai juga ada tanaman sisipan. Kita berharap tidak gagal panen saja karena cuaca kan sudah kemarau panjang ini,” ucap Herry saat ditemui RRI Minggu 30 Agustus 2026.
Dua puluh tahun menjadi petani membuat Herry memahami jalan kesuksesan jadi petani itu tidak instan. Ada modal yang harus disiapkan, perawatan yang harus dilakukan, serta berbagai risiko yang harus dihadapi sebelum hasil panen bisa dinikmati. Kata Herry, kenaikan harga pupuk, biaya perawatan tanaman hingga kebutuhan operasional lainnya membuat ongkos produksi semakin besar.
“Kalau sekarang, kalau dulu misal Rp7 juta (modal), sekarang mau dua kali lipat, mau Rp15 juta satu gulung. Karena pupuk mahal, obat mahal, semua mahal,” ucapnya.
Namun, kondisi itu tidak membuat Herry berhenti. Ia justru terus belajar dan agar kebun cabainya membawa hasil. Pengalaman selama bertahun-tahun di lahan menjadi modal utama Herry. Tetapi ia menyadari, pengalaman saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, ia mulai memanfaatkan teknologi untuk menambah pengetahuan. Berbagai referensi mengenai budidaya pertanian dari China dan Jepang dipelajarinya melalui internet. Ia menonton tutorial pertanian di YouTube, mencari informasi melalui Google, kemudian mencoba menerapkannya di lahan sendiri.
“Makin canggih. Sekarang motivasinya kita tengok kita belajar ke luar lah, luar daerah. Di luar negaralah kita belajar, ini semua ada ilmunya dari sana. Dari Cina, Bang. Luar biasa,” ujar Herry.
Pengetahuan tersebut tidak serta-merta diterapkan begitu saja. Herry menyesuaikannya dengan kondisi tanah, cuaca, serta karakter pertanian di dataran tinggi Bener Meriah.
Cara lama yang masih dianggap baik tetap dipertahankan, sementara inovasi baru dicoba untuk meningkatkan efektivitas budidaya. Baginya, petani harus mau belajar.
Perkembangan teknologi tidak seharusnya menjadi sesuatu yang jauh dari dunia pertanian. Justru teknologi dapat menjadi alat bagi petani untuk memperbaiki cara kerja dan meningkatkan hasil.
“Seperti pertanian, Orang Cina, nggak ada di pasar. Nggak ada jual di pasar Bang. Cuman dia mengolah tanamannya saja. Karena orang tuh lebih apa, lebih banyak uangnya di pertanian daripada di dagangnya. Jadi istilahnya mereka kalau fokus nanam ya udah nanam aja, nggak mikir lagi untuk jual atau gimana ya? Harga soal harga terakhir dia. Yang penting hasilnya,” ucapnya.
Dalam 10 tahun terakhir, Perjalanan Herry menjadi petani mulai berkembang. Dia yang awalnya pegawai di salah satu instansi Pemerintah Daerah Bener Meriah, memilih keluar agar bisa lebih fokus menjadi petani cabai. Herry kini mulai membuka ruang bagi generasi muda dan masyarakat dari berbagai profesi untuk belajar pertanian. Herry menyebutnya petani millennial.
“Para petani millenial ini dari berbagai profesi ya, mulai dari mahasiswa, ada juga yang tenaga Kesehatan hingga TNI Polri, itu jumlahnya udah 100 lebih, ada yang dari Bener Meriah ada yang dari Takengon,” kata Herry.
Hasil panennya pun kini tidak lagi dipasarkan secara tradisional, namun ia mulai merambah ke konsep digitalisasi sehingga cabai yang Ia tanam bisa dipromosi dan dijual lewat media sosial hingga e-commerce. Herry menyebut, setiap panen sudah ada agen jaringan di luar daerah yang menampung hasil panen.
Hasilnya mulai terlihat, salah satu pengalaman yang masih diingat Herry adalah ketika bencana banjir melanda Aceh pada November 2025 lalu . Saat itu, sejumlah wilayah dataran tinggi Gayo sempat terisolir. Di tengah kondisi tersebut, petani cabai justru sedang memasuki masa panen besar.
“Hasil panennya cukup luar biasa saat itu. Namun kita terkendala tidak bisa bawa keluar karena terisolir, sehingga saat itu ada jalan keluar hasil panen kami di bawah keluar, itu sampai ke Banda Aceh, Medan dan Pulau Jawa,” katanya.
Bagi pria dua anak itu, jadi petani cabai dataran tinggi Gayo memiliki potensi besar. Dari hasil bertani, Herry mampu mencukupi kebutuhan keluarga, membiayayi Pendidikan anak hingga mengembangkan lagi lahan yang dikelolanya.
Ketika produksi berjalan baik, hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga mampu menjangkau wilayah yang lebih jauh. Dalam kondisi budidaya yang optimal, hasil panen cabai yang dikelolanya bahkan dapat mencapai sekitar 30 ton.
“Kalau pemasaran cabai kita sudah sampai ke luar daerah, kalau Banda Aceh itu kita sebagai pemasok rutin,” katanya.
Gayung bersambut, ternyata disaat momen hasil panen cabai yang berlimpah bisa ditampung di sebuah usaha rumahan yang memproduksi sambal cabai hijau bernama Campli. Usaha yang dirintis oleh Murtala di Desa Deah Geulumpang Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh itu mampu menampung cabai dalam jumlah yang besar.
Usaha bernama Campli milik Murtala itu telah dirintis sejak 2018 lalu. Jatuh bangun usaha sambal botol PT Rayeuk Aceh Utama itu cukup membekas bagi Murtala dan istrinya Yuliana. Perjalanan usaha itu tidak dimulai dengan mesin besar dan modal ratusan juta rupiah.
“Awalnya kami dengan modal sekitar Rp500 ribu. Peralatan saat itu sangat sederhana menggunakan blender. Pada masa awal kami hanya produksi mereka hanya sekitar 60 botol sambal per bulan,” kata Murtala.
Dari skala kecil itu, perlahan Capli tumbuh. Bukan sekadar menjadi bisnis keluarga tapi juga membawa dampak yang lebih besar, menjadikan cabai petani lokal sebagai produk bernilai tambah dan membawa dampak kesejahteraan bagi petani, seperti Herry.
Murtala mengungkapkan, awal ide mengembangkan sambal Capli muncul dari kegelisahan melihat kondisi petani cabai di dataran tinggi Gayo.
“Saat panen melimpah, harga cabai dapat jatuh. Tidak semua hasil panen terserap pasar. Sebagian cabai akhirnya berisiko membusuk karena tidak segera terjual,” kata Murtala.
Murtala menyebutkan, bahan baku Capli berasal dari cabai lokal, termasuk cabai hijau dari dataran tinggi Gayo yang kemudian dipadukan dengan bumbu khas Aceh.
Produk yang dihasilkan antara lain sambal hijau khas Aceh, pasta cabai dan cabai kering. Produk inilah yang kemudian dipasarkan ke luar daerah. Murtala menyebutkan saat ini dirinya telah menjali kerja sama dengan sekitar 200 petani lokal untuk menjaga pasokan bahan baku.
“Saat ini Capli sudah dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Jakarta, Bali dan Lampung.
Hanya satu harapan Murtala, Ia mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat semakin serius membantu UMKM agar dapat naik kelas. Bukan hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga mempunyai kesempatan menembus pasar nasional hingga global.
Bagi pelaku usaha di Aceh, mengirim produk ke luar daerah membutuhkan biaya yang cukup besar. Kondisi geografis Aceh sebagai wilayah paling barat Indonesia ikut memengaruhi ongkos distribusi. Menurut Murtala, sejumlah kebutuhan produksi, termasuk kemasan, terkadang harus didatangkan dari luar Aceh. Akibatnya, biaya produksi dan distribusi menjadi lebih tinggi.
"Produk yang kita keluarkan di sini, untuk bersaing dengan produk nasional walaupun di luar daerah, harganya pun bisa kita tekan," katanya.
Murtala menilai produk UMKM membutuhkan ruang yang lebih besar di jaringan ritel yang beroperasi di Aceh, termasuk pemasaran secara digital.
“Kita berharap jangan UMKM ini bergerak sendiri-sendiri," katanya.
Kegelisahan Murtala, disahuti oleh Pemerintah Kota Banda Aceh. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mendukung pengembangan UMKM lokal yang berkualitas, salah satunya pelaku usaha Campli.
“Capli adalah contoh nyata UMKM yang mampu menghasilkan produk berkualitas yang mencerminkan cita rasa daerah, kami terus mendukung agar dikenal luas hingga pasar nasional,” kata Illiza.
Menurut Illiza, Capli Sambal Ijo Aceh dikenal sebagai salah satu UMKM yang berhasil mempertahankan cita rasa khas Aceh dengan kualitas tinggi. Produk ini tidak hanya digemari warga Banda Aceh, tetapi juga mulai merambah berbagai daerah.
Wali Kota Illiza menyampaikan, Pemko Banda Aceh berkomitmen membina UMKM secara berkelanjutan demi mewujudkan kota mandiri dan berdaya saing berbasis ekonomi kerakyatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....