Anyaman Rotan Ferdiyanti Angkat Kearifan Lokal Aceh

  • 11 Mei 2026 19:36 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO.ID, Banda Aceh – Anyaman rotan bukan sekadar kerajinan. Di tangan Ferdiyanti, owner Ratu SlimiT, rotan menjadi jembatan untuk mengangkat kearifan lokal Aceh agar tetap hidup di era modern.

“Banyak yang belum tahu, Aceh itu kaya motif anyam. Bukan cuma songket. Rotan kita punya cerita,” ujar Ferdiyanti saat diwawancara RRI, Senin 11 Mei 2026

Ratu SlimiT berdiri sejak 2018 dan konsisten memakai teknik anyam tradisional Aceh. Beberapa motif yang diangkat Ferdiyanti antara lain pucuk rebung yang melambangkan pertumbuhan dan harapan, serta bungong jeumpa yang menjadi identitas Tanah Rencong.

“Setiap motif ada doa dan filosofi hidup orang Aceh. Tugas kita jangan sampai anak cucu cuma dengar dari buku,” tegasnya.

Produk yang dihasilkan beragam: tas siba, tudung saji, keranjang meukeutop, hingga dekorasi rumah. Sentuhan modern ditambahkan lewat kombinasi warna dan kulit, agar relevan dengan pasar anak muda tanpa menghilangkan pakem anyaman.

Saat ini Ratu SlimiT memberdayakan 18 penganyam perempuan, mayoritas dari Percut dan beberapa perantau asal Aceh Timur dan Bireuen. “Ibu-ibu di sini dulunya hanya petani dan buruh. Sekarang mereka bisa sekolah dari rotan. Sekaligus jadi penjaga budaya Aceh di perantauan,” kata Ferdiyanti.

Ia rutin menggelar pelatihan ke sekolah dan komunitas. Tujuannya satu: regenerasi. “Kalau bukan kita yang ajarkan, anyaman Aceh bisa punah. Padahal ini kearifan lokal yang nilainya tinggi.

Konsistensi itu berbuah manis. Produk Ratu SlimiT kini langganan mengisi pameran UMKM nasional, jadi suvenir PON, hingga dipesan pembeli dari Malaysia. Omzet bulanan sudah menyentuh puluhan juta, ungkap Febriyanti

Ferdiyanti berharap pemerintah Aceh lebih gencar memasukkan kerajinan rotan ke program promosi wisata dan kurasi produk unggulan. “Pariwisata Aceh naik, kerajinan juga harus ikut naik. Wisatawan pulang bawa cerita, bukan cuma foto.”

Ke depan, Ratu SlimiT menargetkan sertifikasi HKI untuk motif khas dan membuka galeri edukasi anyaman Aceh di Percut.

“Rotan itu lentur tapi kuat. Sama seperti budaya kita. Kalau dirawat, dia nggak akan patah,” tutup Ferdiyanti.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....