Tempe Koro Dorong Pangan Lokal Naik Kelas

  • 21 Agt 2026 22:26 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh –Kacang koro yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat Aceh mulai dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi melalui inovasi tempe. Rumah Tempe Nusa mengolah kacang koro menjadi tempe sebagai alternatif pangan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis bahan baku lokal.

Inovasi tersebut menjadi bahasan dalam program UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (17/8/2026), yang menghadirkan Founder dan CEO Rumah Tempe Nusa, Fauzi Arza, S.Pd., M.Pd.,Gr.

Fauzi mengatakan, pengembangan tempe koro berawal dari kegelisahan melihat melimpahnya sumber pangan lokal yang belum sepenuhnya dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Salah satu yang dikembangkan adalah kacang koro, sebagai alternatif terhadap kedelai yang selama ini menjadi bahan utama tempe.

Menurut Fauzi, ketergantungan terhadap kedelai yang sebagian besar masih berasal dari impor menjadi salah satu alasan pihaknya mengembangkan pangan lokal. Kacang koro kemudian diolah menjadi tempe untuk memperluas pilihan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Tempe koro memiliki karakteristik berbeda dari tempe kedelai. Fauzi menjelaskan, kacang koro memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dan lemak yang lebih rendah dibandingkan kedelai. Untuk menyesuaikan tekstur dan cita rasa dengan selera masyarakat yang telah terbiasa mengonsumsi tempe kedelai, Rumah Tempe Nusa melakukan inovasi dengan mencampurkan kacang koro dan kedelai pada produk tertentu.

Dari sisi produksi, pengolahan kacang koro membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan kedelai. Prosesnya dimulai dengan sortasi bahan baku, kemudian perendaman yang berlangsung lebih lama. Fauzi menyebut proses perendaman dapat mencapai 24 jam, dilanjutkan perebusan sekitar satu jam dan perendaman kembali sebelum masuk ke tahapan fermentasi.

Untuk menjaga kualitas, Rumah Tempe Nusa menerapkan standar operasional produksi secara ketat. Pemeriksaan dilakukan pada sejumlah tahapan, termasuk kondisi air, kadar air bahan, serta proses pemasakan dan fermentasi. Langkah tersebut dilakukan agar rasa dan tekstur produk tetap konsisten setiap hari.

Kacang koro mulai dikembangkan menjadi produk pangan bernilai ekonomi melalui inovasi tempe. Inovasi tersebut menjadi bahasan dalam program UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh, Senin (17/8), yang menghadirkan Founder dan CEO Rumah Tempe Nusa, Fauzi Arza, S.Pd., M.Pd.,Gr. Foto : RRI/Lis

Pengembangan tempe koro juga diarahkan untuk menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan petani lokal. Rumah Tempe Nusa menjalin kemitraan dengan petani melalui nota kesepahaman atau MOU. Saat ini, kemitraan pengadaan kacang koro disebut telah mencakup sekitar 32 hektare lahan di sejumlah wilayah Aceh, antara lain Aceh Selatan, Aceh Besar, Pidie, dan Simeulue.

Selain tempe, kacang koro dikembangkan menjadi produk turunan seperti keripik tempe. Ke depan, Rumah Tempe Nusa juga berencana mengembangkan tepung koro yang dapat digunakan sebagai bahan berbagai produk, termasuk kukis dan kue basah.

Dari sisi pemasaran, produk Tempe Nusa dipasarkan melalui jalur daring dan luring. Produk tersebut telah dipasarkan melalui sejumlah pasar dan toko bahan pangan di Banda Aceh dan sekitarnya, sementara penjualan daring dilakukan melalui media sosial dan layanan pesan langsung.

Fauzi mengatakan, tantangan terbesar bukan sekadar memproduksi tempe, melainkan menjaga kualitas agar tetap konsisten. Karena itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dari strategi pengembangan produk. Rumah Tempe Nusa melakukan pengenalan melalui kegiatan mencicipi produk, edukasi langsung, media sosial, hingga kolaborasi dengan influencer.

Menurut Fauzi, pengembangan pangan lokal tidak berhenti pada menghasilkan produk, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan pekerjaan. Rumah Tempe Nusa yang berada di Desa Alunaga, Kota Banda Aceh, juga memberdayakan masyarakat sekitar, termasuk ibu-ibu setempat, dalam kegiatan produksinya.

Fauzi menilai Aceh memiliki banyak sumber daya lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi. Menurutnya, komoditas pangan yang hanya dijual sebagai bahan mentah memiliki nilai ekonomi terbatas. Namun, melalui inovasi dan pengolahan menjadi produk turunan, nilai jualnya dapat meningkat sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi petani dan masyarakat.

Ia berharap tempe koro dapat menjadi salah satu contoh bahwa pangan lokal Aceh mampu dikembangkan menjadi produk UMKM yang berdaya saing. Lebih jauh, generasi muda Aceh didorong untuk melihat potensi di lingkungan sekitar sebagai peluang usaha, bukan hanya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan.

“Inovasi pangan lokal,” kata Fauzi, “dapat menjadi jalan untuk menciptakan pekerjaan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....