Anyaman Bambu Aceh Jadi Produk Favorit Wisatawan Lokal
- 21 Mei 2026 11:17 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh - Program UMKM Talks Programa 1 RRI Banda Aceh pada Senin (18/5/2026) menghadirkan kisah inspiratif dari pelaku usaha kerajinan bambu asal Aceh, Attriani, pemilik usaha Atri Kerajinan Bambu. Dalam dialog bertema “Penghijauan Alami dari Bambu”, ia membagikan perjalanan panjangnya menekuni kerajinan bambu sekaligus membuktikan bahwa bahan alami dapat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan ramah lingkungan.
Attriani mengatakan dirinya mulai mengenal kerajinan bambu sejak duduk di bangku SMP pada 1995. Awalnya, keterampilan itu dipelajari dari keluarga dan dikerjakan secara sederhana di rumah. Namun, seiring waktu, kecintaannya terhadap bambu tumbuh hingga menjadi usaha yang kini telah bertahan lebih dari tiga dekade.
Menurutnya, bambu bukan hanya bahan kerajinan, tetapi juga bagian dari upaya penghijauan dan pengurangan sampah. Hampir seluruh bagian bambu dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai jual, mulai dari tampi, tudung saji, keranjang hampers, tas belanja, hingga gantungan kunci dari sisa potongan kecil bambu.
“Kalau di tangan saya, bambu tidak jadi sampah. Semua bisa jadi cuan,” ujar Attriani dalam dialog tersebut.
Ia menjelaskan, limbah kecil dari proses anyaman tidak dibakar, melainkan diolah kembali menjadi produk kecil seperti gantungan kunci yang banyak diminati wisatawan. Produk-produk itu dipasarkan di sejumlah toko miliknya di Banda Aceh, termasuk di kawasan Museum Tsunami Aceh.

Usaha yang dirintis dari rumah kini berkembang menjadi tiga toko dengan tujuh pekerja. Attriani juga aktif membina masyarakat dan warga binaan di rumah tahanan untuk belajar keterampilan menganyam bambu. Menurutnya, keterampilan tersebut dapat menjadi peluang usaha sekaligus bekal ekonomi bagi masyarakat.
“Siapa saja boleh belajar. Yang penting mau berkarya,” katanya.
Perjalanan usahanya bahkan membawanya menjadi instruktur kerajinan bambu di Songkhla, Thailand, saat pandemi Covid-19. Selama 15 hari, ia mengajarkan proses pembuatan anyaman bambu mulai dari pemilihan bahan hingga produk jadi. Pengalaman itu menjadi salah satu titik penting perkembangan usahanya.
Attriani menuturkan, kualitas bambu menjadi faktor utama dalam menghasilkan produk yang baik. Ia memilih bambu dengan tingkat kematangan sedang agar mudah dianyam dan tahan lama. Setelah dianyam, produk biasanya dipernis agar lebih mengilap dan awet hingga bertahun-tahun.
Selain mempertahankan teknik tradisional, ia juga memanfaatkan media digital seperti TikTok dan Instagram untuk memasarkan produknya. Melalui unggahan video proses menganyam, produknya semakin dikenal luas hingga mendapat undangan pelatihan dari berbagai daerah.
Menurutnya, media sosial menjadi sarana efektif memperkenalkan kerajinan bambu kepada generasi muda sekaligus memperluas pasar UMKM lokal.
Dalam dialog tersebut, Attriani berharap kerajinan bambu tetap memiliki penerus di masa depan. Ia ingin semakin banyak anak muda tertarik mempelajari anyaman bambu, baik untuk melestarikan budaya maupun mendukung gaya hidup ramah lingkungan.
“Harapan saya ada penerusnya nanti. Jangan sampai berhenti di saya,” ujarnya.
Melalui inovasi dan kreativitas, kerajinan bambu dinilai mampu menjadi alternatif produk ramah lingkungan di tengah meningkatnya penggunaan bahan plastik. Selain mendukung ekonomi masyarakat, pemanfaatan bambu juga ikut menjaga kelestarian alam melalui penghijauan alami yang berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....