UMKM Si Onija Angkat Motif Pesisir Lampuuk Jadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomi
- 22 Mei 2026 08:45 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kelompok UMKM Sioen Ija di kawasan Pantai Lampuuk, Aceh Besar, terus mengembangkan kreativitas melalui produk ecoprint dan batik tulis dengan mengangkat kekayaan alam pesisir sebagai ciri khas utama.
Ketua KLP Sioen Ija, Nurul Fahmi, mengatakan usaha tersebut bermula dari kegiatan belajar masyarakat saat pandemi COVID-19 yang kemudian berkembang menjadi ruang kreativitas bagi ibu rumah tangga dan remaja di lingkungan setempat.
“Awalnya kami membantu anak-anak belajar saat COVID, lalu muncul ide membuat ruang kreativitas yang bisa menghasilkan pendapatan untuk ibu rumah tangga,” kata Nurul Fahmi dalam program UMKM Talks Senin 4 Mei 2026 bertajuk “Kreativitas Tanpa Batas Bersama Sioen Ija”.
Ia menjelaskan, kelompok tersebut sempat mencoba berbagai kerajinan seperti gantungan kunci resin dan rajutan sebelum akhirnya fokus pada ecoprint dan batik tulis melalui pendampingan dari Sentra Darussa’adah Kementerian Sosial RI serta CSR PT Solusi Bangun Andalas.
Menurutnya, nama “Sioen Ija” berasal dari bahasa Aceh yang berarti selembar kain. Dari filosofi itu, kelompoknya ingin membuktikan bahwa selembar kain dapat menjadi sumber penguatan ekonomi masyarakat.
“Jangan menganggap selembar kain itu sepele. Dari kain bisa lahir harapan dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Produk Sioen Ija mengusung motif khas pesisir Lampuuk seperti penyu, ubur-ubur, dedaunan pantai hingga ornamen Aceh. Motif tersebut dipadukan dengan konsep ramah lingkungan melalui teknik ecoprint menggunakan daun-daun yang tumbuh di sekitar kawasan pantai.
Nurul menyebutkan, pihaknya juga berkolaborasi dengan konservasi penyu di Lampuuk sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan laut.
“Kami ingin motif penyu menjadi ikon karena habitat penyu sekarang mulai berkurang,” katanya.
Selain memanfaatkan sumber daya alam lokal, proses produksi seluruh kain masih dilakukan secara handmade. Untuk batik tulis, proses pengerjaan satu kain bisa mencapai dua minggu, sedangkan ecoprint sekitar lima hari.
Harga kain batik tulis ukuran dua meter dipasarkan sekitar Rp650 ribu, sementara ecoprint dijual sekitar Rp300 ribu per lembar.
Nurul mengatakan, tantangan utama yang dihadapi UMKM tersebut masih berkaitan dengan modal usaha dan ketersediaan bahan baku yang sebagian besar harus didatangkan dari Pulau Jawa.
“Bahan baku fashion masih banyak dari luar Aceh dan ongkirnya cukup mahal. Itu jadi tantangan kami untuk tetap bersaing,” ujarnya.
Meski demikian, produk Sioen Ija mendapat respons positif, termasuk dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pantai Lampuuk. Konsumen luar negeri disebut lebih menyukai produk ecoprint karena dianggap unik dan alami.
“Kalau ada tamu luar negeri datang ke Lampuuk, mereka pasti tertarik karena produk seperti ini tidak mereka temukan di tempat lain,” katanya.
Saat ini, Sioen Ija memberdayakan sekitar 10 ibu rumah tangga dan enam remaja di kawasan Lampuuk untuk terlibat dalam proses produksi. Ke depan, kelompok tersebut berencana mengembangkan produk turunan seperti totebag, outer dan souvenir khas Pantai Lampuuk.
Nurul berharap keberadaan UMKM kreatif dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
“Jangan takut mencoba usaha. Kalau jatuh, cari di mana kekurangannya lalu perbaiki perlahan,” tuturnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....