Bahasa Aceh Bukan Kuno, Generasi Muda Diajak Bangga Menggunakannya

  • 14 Sep 2026 15:14 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya yang perlu terus dijaga. Generasi muda Aceh diajak menggunakan bahasa daerah tanpa merasa tertinggal oleh perkembangan zaman.

Bahasa Aceh tidak sekadar menjadi alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai budaya, dan jati diri masyarakat Aceh.

Persoalan tersebut dibahas dalam siaran RRI Pro 4 Banda Aceh bertema “Ketika Bahasa Ibu Mulai Dianggap Kuno”, Kamis, 10 September 2026. Dalam siaran tersebut, narasumber menyoroti tantangan bahasa Aceh di tengah globalisasi dan perkembangan media sosial.

Anggapan bahwa bahasa daerah sudah kuno dan kurang relevan dinilai perlu diubah. Penggunaan bahasa Aceh justru dapat menjadi cara sederhana untuk mempertahankan identitas sekaligus memperkenalkan budaya kepada masyarakat luar.

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah menunjukkan bahasa Aceh memiliki daya tarik tersendiri. Pertukaran bahasa juga menjadi ruang untuk saling mengenal dan menghargai kekayaan budaya masing-masing.

Hal tersebut disampaikan Ari Maulana, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Ia mengaku pernah bertukar bahasa dengan teman dari berbagai daerah, termasuk mempelajari bahasa Jawa dan Thailand.

“Ketika saya diajari bahasa Jawa maupun bahasa Thailand oleh teman-teman dari luar Aceh, saya juga berupaya menggunakan bahasa Aceh dan mengajarkannya kepada mereka,” ujar Ari.

Menurutnya, bahasa Aceh memiliki kekhasan dan nilai yang berharga untuk diperkenalkan kepada masyarakat luar. Ia menilai anak muda tidak perlu merasa malu ketika menggunakan bahasa daerah.

“Orang luar saja ketika mendengar nama Aceh dan bahasa Aceh bisa penasaran, bahkan takjub,” katanya. Ia juga mengingatkan kekayaan bahasa daerah lain, seperti bahasa Simeulue dan Gayo.

Penggunaan bahasa daerah juga tidak berarti seseorang harus meninggalkan perkembangan zaman. Anak muda tetap dapat mengikuti perkembangan modern sambil mempertahankan bahasa sebagai identitas.

“Bahasa daerah itu bukan berarti kuno. Kita bisa tetap gaul, keren, dan mengikuti perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan bahasa sendiri,” ujar Ari.

Menurutnya, pelestarian bahasa Aceh dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa tersebut perlu terus diwariskan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Ia berharap generasi muda, masyarakat, dan pemerintah dapat bekerja sama menjaga keberlangsungan bahasa Aceh. Upaya tersebut dapat dimulai melalui penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari.

Pesan tentang pentingnya menjaga budaya juga tergambar dalam pepatah Aceh, “Gadoh Aneuk Mupat Jrat, Gadoh Adat Pat Tamita.” Pepatah tersebut bermakna jika anak hilang masih dapat dicari kuburannya, tetapi jika adat hilang, ke mana hendak dicari.

Pepatah tersebut menjadi pengingat bahwa bahasa merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dirawat. Melestarikan bahasa Aceh bukan sekadar menjaga bahasa masa lalu, tetapi mempertahankan identitas untuk generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....