Mahasiswa Hukum Angkat Isu Bahasa Aceh di tengah Arus Globalisasi

  • 14 Sep 2026 15:12 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Anggapan bahwa bahasa daerah sudah kuno di tengah perkembangan zaman menjadi perhatian Ari Maulana, Tourism Ambassador sekaligus aktivis budaya yang aktif mendorong generasi muda untuk kembali bangga menggunakan bahasa daerah.

Hal ini disampaikan Ari Maulana selaku Tourism Ambasador & Aktivis Budaya Pelestarian Bahasa Aceh, dalam dialog Siereuboh bersama Pro4 RRI Banda Aceh, dengan tema “Ketika Bahasa ibu mulai dianggap kuno”, Kamis, 10 September 2026.

Ari membahas semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah di kalangan anak muda. “Perkembangan globalisasi, penggunaan media sosial, serta kuatnya pengaruh budaya populer membuat sebagian generasi muda mulai menganggap bahasa daerah kurang modern dibandingkan bahasa yang lebih dominan digunakan dalam pergaulan sehari-hari,” ugnkapnya.

Ari menilai anggapan tersebut perlu diubah. Baginya, bahasa Aceh bukan sekadar alat komunikasi, tetapi bagian dari identitas, sejarah, adat, dan warisan indatu yang memiliki nilai penting bagi generasi penerus.

Sebagai anak muda Aceh yang aktif dalam kegiatan sosial, budaya, dan pariwisata, Ari juga memiliki pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai daerah dan negara. Dalam kiprahnya sebagai Tourism Ambassador, ia pernah mendampingi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di luar Sumatra hingga ratusan universitas, serta mahasiswa internasional dari Thailand, termasuk dari Prince of Songkla University.

Pengalaman tersebut membuat Ari melihat bahwa banyak anak muda dari daerah lain justru bangga memperkenalkan bahasa daerahnya ketika berinteraksi dengannya.

“Saya pribadi justru ketika diajari bahasa Jawa maupun bahasa Thailand oleh mereka, saya juga berupaya menggunakan bahasa Aceh dan mengajarkannya kepada mereka. Jadi bukan hanya mereka yang memiliki bahasa yang unik, tetapi bahasa Aceh juga memiliki keunikan dan kekhasan dengan nilai-nilai yang berharga. Menurut saya, ini menjadi kesempatan untuk saling bertukar bahasa dan memperkenalkan Aceh kepada mereka,” ujarnya.

Menurut Ari, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda Aceh tidak seharusnya merasa malu menggunakan bahasa daerah. Ia bahkan melihat bahasa daerah dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan identitas Aceh kepada masyarakat dari luar daerah maupun mancanegara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....