RRI Banda Aceh Gelar Aksi Bersih-bersih Cagar Budaya di Makam Tuan Dikandang
- 28 Agt 2026 12:43 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Angkasawan/i Radio Republik Indonesia (RRI) Banda Aceh menggelar aksi bersih-bersih cagar budaya di Kompleks Makam Tuan Di Kandang, Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, Jumat 28 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Bakti RRI dan RRI Fest 2026 dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RRI. Aksi ini dilaksanakan dengan berkolaborasi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sejak pagi, Angkasawan/i RRI Banda Aceh bersama pegawai Balai Pelestarian Budaya Aceh membersihkan kawasan kompleks makam, mulai dari memotong dahan pohon, memangkas rumput, membersihkan area makam hingga melakukan pengecatan ulang. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membuat kawasan makam kembali bersih, rapi, dan terawat.

Kepala Bagian Tata Usaha RRI Banda Aceh, Syamsul Qamar, mengatakan kegiatan bersih-bersih cagar budaya merupakan bagian dari program Hari Bakti RRI yang dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini, kegiatan dipusatkan di Kompleks Makam Tuan Di Kandang di Gampong Pande.
"Ini dalam rangka menyambut Hari Bakti RRI, yang kedua ini berkaitan dengan rangkaian RRI Fest. Ini program tahunan yang kita selenggarakan dan bekerja sama dengan Balai Kebudayaan Aceh. Kami anggap perlu dan penting untuk merawat cagar budaya di Aceh, sekaligus dalam rangka mendukung pelestarian budaya di Aceh," kata Syamsul.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh yang terus memberikan dukungan kepada RRI Banda Aceh, khususnya dalam rangkaian kegiatan RRI Fest 2026.
Sementara itu, Kepala Subbagian Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Cut Zahrina, menyambut baik kegiatan yang digelar RRI Banda Aceh tersebut. Menurutnya, aksi membersihkan makam ulama menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap warisan budaya yang ada di Aceh.
"Semoga memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat. Ini adalah sebuah wujud kepedulian kita kepada salah satu warisan budaya yang ada di Aceh. Ini bentuk perlindungan dan juga pemeliharaan, yang merupakan salah satu tugas dan fungsi kita dalam melindungi dan merawat cagar budaya di Aceh. Kita sangat mendukung," ujar Cut Zahrina.

Ia berharap RRI dapat terus menjadi lembaga pemerintah yang peduli terhadap pelestarian budaya Aceh. Cut Zahrina juga mendorong kegiatan serupa dilakukan oleh instansi pemerintah maupun lembaga lainnya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian cagar budaya di Aceh.
Sejarah Ulama Tuan Dikandang di Gampong Pande
Komplek Makam Tuan Dikandang di Gampong Pande, Banda Aceh, merupakan situs sejarah penting yang menjadi saksi bisu peradaban Islam di Aceh pada abad ke-13. Makam ini diyakini sebagai peristirahatan Tuan Dikandang, ulama besar dan penggagas Kerajaan Aceh, yang merupakan ayah dari para sultan Aceh di masa lalu.
Keberadaan makamnya, yang hanya ia yang diberi atap di tengah puluhan nisan kuno lainnya, menunjukkan statusnya yang istimewa dan mulia. Tuan Dikandang dipercaya bernama asli Syekh Abdurrauf Al-Baghdadi atau Machmud Abi Abdullah. Ia adalah keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain dari Turki dan melarikan diri ke Aceh bersama 500 pengikutnya dari Baghdad, Irak, pada masa Bani Abbasiyah.

Ia juga dikenal sebagai seorang ulama yang jujur dan diangkat menjadi penasihat Kerajaan Sultan Alaidin Johansyah, sehingga dijuluki Tuan Di Kandang. Kedatangannya ke Aceh menjadi tonggak sejarah penyebaran Islam dan pembentukan Kerajaan Aceh pada abad ke-13. Ia juga dipercaya membawa peradaban baru bagi penduduk Gampong Pande yang saat itu masih memeluk agama Hindu.
Makam Tuan Dikandang terletak di tengah-tengah Komplek makam dengan puluhan nisan kuno lainnya. Hanya makamnya yang diberi atap, yang menandakan ia adalah sosok yang paling mulia di antara makam-makam lain yang ada di sana. Komplek ini berada di Gampong Pande, yang menjadi kawasan penting karena menjadi cikal bakal Kota Banda Aceh (dahulu Kutaraja).
Kawasan ini juga menjadi tempat dimakamkannya raja-raja Kesultanan Aceh Darussalam, seperti Sultan Alaudin Mahmudah dan Sultan Alaidin Jauhar Shah, serta kerabat kerajaan lainnya. Banyak nisan di Komplek ini yang memiliki ukiran kaligrafi Al-Qur'an, yang menjadi bukti keberadaan Islam di Aceh pada masa lampau. Beberapa nisan, seperti milik Sultan Firman Syah, memberikan informasi berharga tentang sejarah kota, seperti pendirian Gampong Pande pada hari Jumat, 1 Ramadhan tahun 610 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....