Seuramoe Heritage Hidupkan Sejarah Aceh lewat Field Trip
- 21 Agt 2026 19:44 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Mengenalkan sejarah dan warisan budaya Aceh dengan cara santai menjadi semangat yang diusung Komunitas Seuramoe Heritage. Komunitas ini mengemas edukasi sejarah melalui kegiatan field trip dengan mengunjungi langsung berbagai situs bersejarah, khususnya di Kota Banda Aceh.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Pemateri Field Trip Seuramoe Heritage, Wan Santana Aji Chaidesar, dan Ketua sekaligus Koordinator Seuramoe Heritage, Wahidul, dalam program NGOBRAS (Ngobrol Bareng Komunitas) Programa 1 RRI Banda Aceh, Selasa (18/8/2026).
Wan Santana menjelaskan, gagasan Seuramoe Heritage berawal dari kebiasaan sejumlah anak muda yang gemar berdiskusi mengenai sejarah sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai historis.
Menurutnya, nama Seuramoe Heritage dipilih untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang ringan, menarik, dan tetap memiliki muatan edukasi. Sejarah tidak harus selalu dipelajari dalam suasana formal, tetapi dapat dinikmati melalui perjalanan dan pengalaman langsung di lapangan.
“Kami ingin sejarah itu bisa dinikmati secara santai, fun, dan tetap memiliki nilai edukasi,” ujar Wan Santana.
Sejak kegiatan perdana pada Juni 2026, Seuramoe Heritage telah melaksanakan empat field trip. Kegiatan tersebut umumnya digelar dua pekan sekali dan terbuka untuk masyarakat umum.
Peserta diajak berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan untuk mengunjungi sejumlah situs sejarah. Beberapa lokasi yang telah dikunjungi antara lain kawasan Pintu Khop dan Gunongan, Kherkof dan Taman Pecut, Taman Sari, Hotel Aceh, Water Toren, Tugu Proklamasi, hingga makam dan kediaman Teuku Nyak Arif.
Wan Santana mengatakan, setiap kunjungan tidak sekadar memperlihatkan bangunan atau lokasi bersejarah. Tim pemateri berupaya mengemas informasi melalui storytelling sehingga peserta dapat membayangkan kehidupan dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu.
Ia mencontohkan Water Toren di kawasan Taman Sari. Bagi sebagian masyarakat, bangunan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai menara tua. Namun, di baliknya terdapat cerita mengenai sistem penyediaan air pada masa kolonial yang memiliki nilai sejarah dan teknologi tersendiri.
“Kadang orang sudah sering melewati sebuah tempat, tetapi tidak tahu bahwa di situ ada situs sejarah. Kami mencoba membuka cerita di balik tempat tersebut,” katanya.
Sementara itu, Wahidul mengatakan, Seuramoe Heritage lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya warisan sejarah Aceh yang berada di sekitar masyarakat, tetapi belum sepenuhnya dipahami maknanya.
Menurutnya, masyarakat Banda Aceh sering melewati situs-situs bersejarah tanpa mengetahui peristiwa dan nilai yang terkandung di dalamnya. Karena itu, Seuramoe Heritage ingin menjadikan sejarah sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus sarana refleksi bagi generasi muda.
“Bagaimana sejarah ini bisa dinikmati secara santai, secara fun, kita lihat sisi romantismenya, kemudian kita petik hikmahnya untuk ditransformasikan kepada generasi yang akan datang,” ujar Wahidul.
Ia menambahkan, peserta field trip berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari dosen, mahasiswa, anak pramuka, keluarga, komunitas sejarah, hingga masyarakat dari luar Banda Aceh. Jumlah peserta juga terus mengalami peningkatan, dari sekitar 30 orang pada kegiatan awal, kemudian 50 orang, hingga sekitar 70 peserta pada kegiatan terakhir.
Seuramoe Heritage juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas dan pihak lain yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan budaya Aceh. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi dapat turut memberikan informasi, pengalaman, maupun cerita lokal yang dapat memperkaya pembahasan.
Menurut Wahidul, pendekatan tersebut penting karena sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga dalam ingatan masyarakat dari lintas generasi.
Selain edukasi sejarah, Seuramoe Heritage mulai membuka kemungkinan mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan wisata kuliner, sejarah makanan Aceh, hingga eksplorasi situs-situs di luar Banda Aceh. Aceh Besar juga menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki banyak lokasi bersejarah untuk dikunjungi.
Ke depan, komunitas tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, komunitas sejarah, pelaku pariwisata, serta berbagai pihak lainnya.
Wahidul berharap pengembangan kawasan bersejarah dapat berjalan beriringan dengan penyediaan ruang publik yang ramah masyarakat. Salah satu gagasan yang muncul dari peserta field trip adalah pengembangan jalur jogging track yang menghubungkan sejumlah situs bersejarah di Banda Aceh, seperti Gunongan, Taman Sari, Putro Phang, Taman Bustanussalatin, dan Blang Padang.
Selain mengenalkan sejarah, Seuramoe Heritage juga mendorong peserta untuk menjaga kebersihan lokasi yang dikunjungi. Pada salah satu kegiatan, peserta turut memungut sampah di kawasan Taman Sari dan dianjurkan membawa tumbler untuk mengurangi sampah plastik.
Wan Santana menilai tantangan terbesar dalam mengenalkan sejarah kepada generasi muda saat ini adalah derasnya arus informasi digital, termasuk risiko disinformasi.
Karena itu, generasi muda dinilai tidak cukup hanya mengandalkan informasi yang diperoleh dari media sosial. Mereka perlu melihat langsung situs sejarah, membaca sumber yang kredibel, berdiskusi, dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan maupun pengalaman terkait sejarah.
Ia juga menekankan pentingnya memahami sejarah secara utuh berdasarkan lini masa. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa sejarah Aceh tidak berhenti pada masa Kesultanan Aceh, kemudian langsung beralih ke masa kolonial dan kemerdekaan. Ada rangkaian panjang peristiwa yang perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman sejarah.
Lebih jauh, sejarah menurutnya tidak seharusnya hanya menjadi kebanggaan terhadap masa lalu. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini.
“Jangan sampai kita hanya tenggelam dalam kehebatan Aceh masa lalu. Bagaimana nilai-nilai masa lalu itu bisa kita aplikasikan hari ini,” ujarnya.
Seuramoe Heritage berharap semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, mau keluar dari rutinitas dan menjadikan situs sejarah sebagai ruang belajar. Dengan menggabungkan aktivitas berjalan kaki, wisata, edukasi, diskusi, dan interaksi lintas generasi, komunitas ini ingin menjadikan sejarah lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kegiatan field trip berikutnya direncanakan kembali digelar sekitar dua pekan setelah kegiatan terakhir. Informasi jadwal dan pendaftaran disampaikan melalui media sosial Seuramoe Heritage, termasuk Instagram, TikTok, dan kanal WhatsApp komunitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....