Cut Zahrita Penyiar RRI: 23 Tahun Menjaga Martabat Bahasa Aceh dari Udara
- 30 Apr 2026 23:40 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Di balik kaca studio yang memantulkan cahaya silau, suara itu masih terdengar tenang—seperti biasanya. Namun Kamis pagi jelang siang, 30 April 2026, ada sesuatu yang berbeda. Di ujung siaran itu, Cut Zahrita tidak sekadar menyapa pendengar, tetapi juga sedang mengucapkan perpisahan yang tak mudah diucapkan.
Kalimat demi kalimat sering mengalir dengan bahasa Aceh yang halus, santun, dan penuh rasa. Tidak ada nada yang berubah, tidak ada dramatisasi berlebih. Justru di situlah letak harunya—ketika suara yang selama 23 tahun menemani, tetap setia pada karakternya hingga detik terakhir.
Di sampingnya, Angie Sieregar penyiar senior RRI, sahabatnya, turut mendampingi siaran pamungkas itu. Ruang siaran yang biasanya menjadi tempat bertukar kata dan tawa, pagi jelang siang itu berubah menjadi ruang kenangan—tempat di mana suara, waktu, dan perasaan bertemu dalam satu frekuensi yang sama.
Bagi para pendengar, ini bukan sekadar akhir sebuah program. Ini adalah momen ketika suara yang telah lama menjadi bagian dari keseharian mereka—yang menghidupkan bahasa, menyapa dengan kehangatan, dan merawat nilai—perlahan berpamitan dari udara.
Lebih dari Sekadar Perpisahan
Perpisahan itu mungkin berlangsung cepat di udara, tetapi maknanya tidak berhenti di sana. Apa yang terdengar sebagai siaran pamungkas, sejatinya adalah penutup dari sebuah perjalanan panjang yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade.
Selama 23 tahun, Cut Zahrita tidak hanya hadir sebagai penyiar. Ia menjadi suara yang dikenali, ditunggu, dan dipercaya—mengisi ruang-ruang sunyi pendengar dengan bahasa yang bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan nilai dan jati diri Aceh bermartabat.
Di tengah perubahan zaman yang kian cepat, ketika banyak hal bergeser dan bahasa kerap kehilangan kehalusannya, kehadirannya justru menjadi penanda yang tetap. Ia tidak hanya menyampaikan siaran, tetapi juga menjaga cara bertutur—menyulam kata demi kata dengan santun, seolah mengingatkan bahwa bahasa adalah marwah yang patut dirawat.
Dari titik inilah, kisahnya tidak lagi sekadar tentang akhir sebuah siaran. Ia adalah tentang jejak panjang pengabdian, tentang konsistensi yang jarang tergantikan, dan tentang satu suara yang, diam-diam, telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Aceh, khususnya pendengar setianya, fansnya di kanal RRI Pro 4 Banda Aceh.
Jejak Panjang dari Udara
Jejak itu tidak terbentuk dalam semalam. Ia tumbuh dari waktu yang panjang, dari hari-hari siaran yang dijalani dengan ritme yang nyaris tak berubah—datang, bersuara, dan kembali esok hari dengan kesetiaan yang sama.
Di LPP RRI Banda Aceh, Cut Zahrita menapaki perannya sejak awal dengan satu hal yang kelak menjadi ciri: ketekunan. Tidak ada jalan pintas dalam membangun kedekatan dengan pendengar. Ia melakukannya perlahan, lewat suara yang konsisten hadir dan bahasa yang selalu dijaga.
Waktu kemudian mempertemukannya dengan program-program yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengikat ingatan banyak orang. Dalam siaran berbalas pantun, misalnya, ia tidak sekadar memainkan kata, tetapi menghidupkan kembali tradisi lisan yang mulai jarang terdengar. Sementara dalam program “Siereuboh”, suaranya menjadi pengantar suasana—membawa pendengar pada ruang yang akrab, hangat, dan terasa dekat.
Tahun demi tahun berlalu, namun pola itu tidak berubah. Ia tetap berada di jalurnya—menyiar dengan kesungguhan yang sama, menjaga kualitas yang sama, dan memperlakukan setiap siaran seolah selalu berarti. Dari situlah, perlahan tapi pasti, suaranya tidak hanya dikenal, melainkan juga dipercaya.
Dan tanpa banyak disadari, perjalanan panjang itu telah menjadikan dirinya bukan sekadar penyiar, tetapi bagian dari keseharian—hadir di sela waktu pendengar, menyatu dalam rutinitas, dan menetap dalam ingatan.
Karakter di Balik Suara
Kedekatan dengan pendengar yang tumbuh selama bertahun-tahun itu tidak hadir begitu saja. Di balik suara yang terdengar tenang dan terjaga, ada disiplin yang nyaris tak pernah goyah.
Bagi Cut Zahrita, siaran bukan sekadar rutinitas, melainkan hobi seperti ikan ketemu air. Menjalani bahagia, diselami dengan sungguh-sungguh. Ia dikenal datang dengan persiapan, menjaga waktu dengan ketat, dan menempatkan setiap tugas sebagai tanggung jawab yang tidak bisa ditawar. Bahkan dalam situasi hujan reudok glanteu sekalipun, ia tetap bela-belain datang ke studio agar tidak mengecewakan fansnya yang setia menunggunya siaran. Setiap siaran, bukan soal tanggung jawabnya pada lembaga, tapi menjaga hati para pendengar sama pentingnya.
Namun, yang membuatnya dikenang bukan hanya soal profesionalitas. Di lingkungan kerja, ia hadir sebagai sosok yang hangat dan rendah hati. Ia tidak menempatkan diri lebih tinggi, dan selalu membuka ruang untuk berbagi—baik pengalaman maupun perhatian. Hubungan yang terjalin dengan rekan kerja bukan sekadar formalitas, melainkan keterhubungan yang tumbuh secara alami.
Sikapnya yang tenang, tutur katanya yang santun, serta kesediaannya untuk tetap belajar dan berbagi, menjadikannya bukan hanya rekan kerja, tetapi juga tempat banyak orang menimba pelajaran—tentang bagaimana menjalani profesi dengan integritas, tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Dari titik ini, menjadi jelas bahwa suara yang selama ini didengar bukan hanya indah secara bunyi, tetapi juga kuat karena dibentuk oleh karakter yang konsisten dijaga dari dalam.
Suara sebagai Penjaga Bahasa
Karakter yang terjaga itu kemudian menemukan bentuknya yang paling nyata: suara. Bukan sekadar jernih atau enak didengar, tetapi memiliki rasa—yang membuat orang berhenti sejenak, lalu memilih untuk tetap tinggal di frekuensi yang sama.
Dalam setiap siaran, Cut Zahrita menghadirkan bahasa Aceh dengan cara yang tidak banyak lagi ditemui hari ini—halus, santun, dan bermartabat. Pilihan katanya tidak tergesa, intonasinya terukur, dan setiap kalimat seolah ditimbang dengan kesadaran bahwa bahasa bukan hanya alat bicara, melainkan cerminan nilai.
Pendengar tidak hanya mendengar, tetapi merasakan. Ada kehangatan yang mengalir, ada kedekatan yang tumbuh tanpa dipaksa. Dari situlah, suaranya perlahan menjadi lebih dari sekadar identitas penyiar—ia menjadi ruang bagi banyak orang untuk kembali pada bahasa yang akrab, yang mungkin mulai jarang mereka gunakan dalam keseharian.
Di tengah arus zaman yang kian cepat, ketika bahasa sering kali dipersingkat, disederhanakan, bahkan kehilangan kehalusannya, suaranya justru menjadi penyeimbang. Ia tidak melawan perubahan, tetapi menjaga agar nilai tidak ikut hilang di dalamnya.
Dan mungkin di situlah letak kekuatannya: suara yang tidak hanya didengar, tetapi juga menjaga—merawat bahasa Aceh agar tetap hidup, tetap indah, mendalam, bermakna, dan tetap memiliki martabatnya.
Dari Udara ke Ruang Sosial
Dari suara yang terjaga itu, lahir pengaruh yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa. Apa yang dilakukan Cut Zahrita selama bertahun-tahun, perlahan menjelma menjadi lebih dari sekadar praktik siaran—ia menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif tentang bagaimana bahasa Aceh seharusnya diucapkan dan dihargai.
Di tengah realitas hari ini, ketika generasi muda kian akrab dengan bahasa yang serba cepat dan ringkas, bahasa Aceh yang halus dan santun mulai jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Perubahan itu tidak bisa dihindari, tetapi juga tidak bisa dibiarkan tanpa penyeimbang. Di titik inilah, peran seperti yang dijalankannya menjadi penting—bukan dengan menggurui, melainkan dengan memberi contoh yang hidup.
Lewat siaran, ia menghadirkan bahasa sebagai pengalaman yang menyenangkan, bukan beban. Pendengar tidak merasa sedang diajarkan, tetapi diajak kembali mengenali. Dari sana, tumbuh kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas yang layak dijaga.
Apa yang ia lakukan itu, pada akhirnya, sejalan dengan semangat yang juga diemban berbagai lembaga kebahasaan dan kebudayaan di Aceh—seperti Balai Bahasa Provinsi Aceh, Majelis Adat Aceh, dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh—yang berupaya memastikan bahasa dan nilai budaya tidak hilang di tengah arus zaman.
Namun yang membedakan, ia melakukannya dari ruang yang paling dekat dengan masyarakat: udara. Tanpa panggung resmi, tanpa seremoni, tetapi dengan dampak yang menjangkau banyak telinga—dan, diam-diam, banyak hati.
Jejak yang Tinggal dalam Diri
Dampak itu tidak hanya terasa dalam skala luas, tetapi juga hadir secara personal—diam-diam membentuk cara pandang banyak orang, termasuk mereka yang bekerja di lingkungan kerja kami.
Bagi saya, Cut Zahrita bukan hanya sosok penyiar yang didengar dari ruang siaran, tetapi juga figur yang memberi pelajaran tanpa banyak kata. Ada ketenangan dalam sikapnya, ada keteguhan dalam cara ia menjalani tugas, dan ada kesantunan yang tidak dibuat-buat dalam setiap tutur katanya.
Dari beliau, saya belajar bahwa profesionalitas tidak selalu harus ditunjukkan dengan hal besar. Ia justru tampak dari hal-hal yang sederhana: datang tepat waktu meski tempat tinggal jauh, menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, menjaga kualitas tanpa harus diingatkan, dan tetap rendah hati dalam setiap keadaan. Yang paling penting, tidak pernah berburuk kata pada rekan-rekan kerja.
Lebih dari itu, saya juga menemukan kembali kedekatan dengan bahasa Aceh—bahasa yang sebelumnya terasa semakin jauh dari keseharian. Lewat cara beliau bertutur, saya mulai menyadari bahwa bahasa bisa terdengar begitu indah ketika dijaga dengan kesadaran. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cara untuk menghargai diri dan budaya sendiri.
Pelajaran itu mungkin tidak pernah ia sampaikan secara langsung. Namun justru karena itulah, ia terasa lebih dalam—hadir melalui contoh, melekat melalui kebiasaan, dan perlahan membentuk cara saya melihat profesi, bahasa, dan tanggung jawab.
Suara yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Pelajaran-pelajaran itu mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Sebab apa yang ditinggalkan tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus bergerak—mengalir melalui ingatan, melalui bahasa yang masih diucapkan, dan melalui nilai yang perlahan diteruskan.
Kini, suara Cut Zahrita memang tak lagi hadir di ruang siaran seperti sebelumnya. Tidak lagi menyapa di waktu yang sama, tidak lagi menjadi penanda hari bagi para pendengar setianya. Namun yang ditinggalkan tidak ikut berhenti.
Ia telah menanam sesuatu yang lebih panjang dari sekadar durasi siaran: cara bertutur, cara menghargai bahasa, dan cara menjalani profesi dengan kesungguhan. Sesuatu yang mungkin tidak selalu terdengar, tetapi tetap hidup dalam banyak bentuk—dalam kata-kata yang dipilih dengan lebih hati-hati, dalam bahasa yang diucapkan dengan lebih santun, dan dalam kesadaran bahwa ada nilai yang perlu dijaga.
Maka, perpisahan itu barangkali bukan akhir. Ia hanya perubahan bentuk—dari suara yang terdengar menjadi jejak yang menetap. Dan selama bahasa itu masih diucapkan dengan rasa yang sama, selama nilai itu masih dijaga dalam keseharian, selama itu pula apa yang telah ia rawat akan tetap bersinar, jauh melampaui ruang siaran tempat semuanya bermula.
Selamat purnabakti Cut Kak Zahrita. Semoga jejak yang engkau tanam tanpa menggurui itu, menetap di kami, generasi penerusmu. Dalam etos kerja dalam hari-hari. Sehat selalu, dan banyak jalan baik dan terbuka untukmu. Segala kebaikanmu semoga berpulang dan dibalas Allah SWT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....