Kurban Ramah Lingkungan Dukung Kesehatan Masyarakat Aceh Terdampak

  • 21 Mei 2026 10:52 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh - Dialog interaktif di Programa 1 RRI Banda Aceh pada Senin (18/5/2026) mengangkat tema “Kurban Aman dan Sehat untuk Masyarakat Terdampak”. Dialog ini menghadirkan Ketua Panitia Green Qurban Rumah Amal Masjid Jamik USK Dr. Ns. Budi Satria, S.Kep., MNS., pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan USK Prof. Dr. drh. Nurliana, M.Si., serta Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan Aceh drh. Ruhaty. Ketiganya menekankan pentingnya pelaksanaan kurban yang sehat, higienis, sesuai syariat, sekaligus tepat sasaran bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh.

Dalam dialog tersebut, drh. Ruhaty menjelaskan bahwa Dinas Peternakan Aceh telah melakukan berbagai persiapan menjelang Iduladha 2026, termasuk pengawasan kesehatan hewan kurban di seluruh kabupaten dan kota. Pemerintah Aceh juga bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala untuk menurunkan tim pemeriksa kesehatan hewan di sejumlah titik pemotongan kurban di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami ciri-ciri hewan kurban yang sehat dan layak disembelih. Hewan yang dipilih harus memiliki kondisi tubuh baik, tidak kurus, tidak cacat, serta bebas dari gejala penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) maupun Lumpy Skin Disease (LSD). Ia menegaskan bahwa sapi dengan benjolan pada kulit, pincang, atau mengalami leleran berlebihan pada hidung tidak layak dijadikan hewan kurban.

“Petugas kami terus melakukan pemantauan ke lapangan dan pemeriksaan kesehatan hewan setiap hari. Masyarakat juga diimbau melibatkan dokter hewan atau petugas puskeswan sebelum melakukan penyembelihan,” kata Ruhaty.

Ia menambahkan, pengawasan lalu lintas ternak diperketat melalui empat pos pemeriksaan di Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Singkil. Setiap hewan yang masuk ke Aceh wajib menjalani pemeriksaan kesehatan guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular.

Dialog interaktif di Programa 1 RRI Banda Aceh pada Senin (18/5) mengangkat tema “Kurban Aman dan Sehat untuk Masyarakat Terdampak”. Dialog ini menghadirkan Ketua Panitia Green Qurban Rumah Amal Masjid Jamik USK Dr. Ns. Budi Satria, S.Kep., MNS., pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan USK Prof. Dr. drh. Nurliana, M.Si., serta Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan Aceh drh. Ruhaty.

Sementara itu, Prof. Nurliana menyoroti pentingnya higienitas dan sanitasi dalam seluruh proses kurban, mulai dari pemilihan hewan, penyembelihan, hingga distribusi daging kepada masyarakat. Menurutnya, pelaksanaan kurban tidak hanya menyangkut ibadah, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa proses penyembelihan yang tidak higienis dapat menyebabkan perubahan kualitas daging, seperti perubahan warna dan bau, terutama jika distribusi berlangsung terlalu lama tanpa penanganan yang baik. Karena itu, masyarakat dianjurkan segera mengolah daging kurban apabila distribusi memerlukan waktu panjang.

“Pelaksanaan kurban harus berbasis pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal. Lingkungan pemotongan juga wajib dijaga agar limbah darah maupun kotoran tidak mencemari lingkungan sekitar,” ujarnya.

Prof. Nurliana juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan hewan sebelum disembelih. Hewan kurban sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu selama enam hingga dua belas jam setelah perjalanan jauh guna menjaga kualitas daging dan kondisi hewan.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ns. Budi Satria memperkenalkan konsep Green Qurban yang dijalankan Rumah Amal Masjid Jamik USK. Program tersebut mengusung prinsip ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik dalam distribusi daging kurban. Panitia menggunakan daun jati dan tas ramah lingkungan sebagai wadah pembagian daging kepada masyarakat.

Selain itu, Green Qurban juga memanfaatkan platform digital untuk memudahkan masyarakat menyalurkan kurban ke wilayah terdampak bencana di Aceh. Menurut Budi, program tersebut melibatkan peternak lokal guna mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus memastikan ketersediaan hewan kurban yang sehat dan memenuhi syarat.

“Kami ingin kurban tahun ini tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga gerakan sosial yang memperhatikan lingkungan, kesehatan, dan masyarakat terdampak,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa pendistribusian daging kurban dilakukan melalui sistem kupon agar pembagian lebih tepat sasaran dan merata. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian distribusi di antaranya Pidie Jaya, Aceh Barat, hingga sejumlah daerah yang sebelumnya terdampak banjir dan longsor.

Di penghujung dialog, para narasumber mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kualitas pelaksanaan kurban, mulai dari pemilihan hewan yang sehat, proses penyembelihan sesuai syariat, hingga pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan dampak lingkungan maupun penyakit bagi masyarakat sekitar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....