Anggie Siregar, Istri Pejabat yang "Menyamar" Jadi Penyiar RRI
- 02 Mei 2026 22:02 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Di ruang siar studio Pro 4 RRI Banda Aceh, suara itu hadir tanpa atribut. Hangat, tenang, dan terukur. Pendengar mengenalnya sebagai Anggie Siregar, penyiar berusia 57 tahun, yang telah lebih dari dua dekade mengudara di kanal RRI Pro 4 Banda Aceh, kanal siaran budaya dan tradisi Aceh.
Sementara di luar ruang siar studio, di luar Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Banda Aceh, Anggie sebenarnya memiliki identitas lain, peran lain, status yang orang umum bilang "berkelas". Ia adalah istri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bireuen. Status istri kepala BPS ini telah melekat dan ia jalani sejak 2006, mengikuti penugasan suaminya di sejumlah daerah seperti Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Singkil, Bener Meriah, Kota Sabang, hingga kini di Kabupaten Bireuen.
Namun identitas tersebut tidak pernah ia bawa ke udara, ke studio siaran. Ia tidak memperkenalkan diri sebagai istri pejabat. Bahkan, pendengar setianya pun tidak mengetahui hal itu. Bagi Anggie, ruang siar adalah ruang profesional, tempat ia hadir sebagai penyiar—bukan sebagai representasi status sosial.
Sikap serupa juga terlihat dalam kehidupan spiritualnya. Pada 2018, Angie telah menunaikan ibadah haji. Ia menyandang gelar hajjah. Namun, gelar hajjah tidak ia tampilkan secara khusus dalam kesehariannya sebagai penyiar. “Biarkan itu urusan pribadi saya dengan Tuhan. Tidak perlu dipamerkan ke orang-orang,” ungkapnya bersahaja.
Ia memilah, menempatkan spiritualitasnya tidak dalam simbol, tapi dalam laku dan sikap. Dalam cara ia berbicara, dalam ia bersikap hari-hari dalam kesantunan dan kebersahajaan. Tanpa harus diakui status dan gelar yang melekat padanya.
Dari Ruang Siar ke Ruang Mengaji
Di luar jam siaran, Anggie kini menjalani peran lain di lingkungan tempat tinggalnya. Sejak tahun 2020, tiap setelah waktu magrib, ia melibatkan diri mengajar mengaji anak-anak. Bersama putrinya, Qathrun Nada Shalihah, mengajar mengaji iqra dan Al-Quran di privat Riyadussalihin, Kampung Laksana, Banda Aceh. Kegiatan yang dilakukan tiap hari itu, dengan niat berkontribusi untuk generasi bangsa dalam menjaga nilai agama dan etika sosial.
Peran ini memperlihatkan sisi lain dari Anggie. Ia tidak hanya menyampaikan informasi melalui radio. Akan tetapi, ia juga terlibat langsung dalam pembinaan nilai-nilai agama dan sosial dalam masyarakat, dari lingkungan terdekatnya.
Guru yang Mengajar Lewat Suara
Anggie Siregar sebenarnya punya nama asli Hasrimurti, S.Pd., lulusan FKIP Kimia Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Ia mulanya kuliah untuk menjadi guru. Namun, nasib mengarahkannya ke jalan profesi penyiar.
Meski tidak mengajar di ruang kelas formal, secara prinsip, ia sebenarnya masih berperan sebagai "guru". Banyak program siaran edukatif dan informatif melalui siaran radio yang telah dibawanya. Menyambaikan edukasi kepada pendengar layaknya seorang guru.
Dalam berbagai program, ia menyampaikan informasi dengan pendekatan yang mudah dipahami. Ia mengurai istilah yang kompleks menjadi bahasa sederhana, yang mudah dicerna oleh beragam lapisan masyarakat.
Peran itu menjadikan Anggie tidak sekadar penyiar, tetapi juga "guru": sang komunikator yang menyampaikan informasi agar tumbuh pemahaman masyarakat terhadap hal-hal tertentu.
Menjaga Percakapan Tetap Mengalir
Kemampuan tersebut terlihat jelas saat ia memandu program dialog, misalnya dalam program kesehatan Asokaya (Asik Obrolan Seputar Kesehatan Masyarakat) di kanal Pro 4 RRI Banda Aceh, pukul 11.00 s.d 12.00, Sabtu, (2 Mei 2026).
Ketika materi atau istilah terlalu tinggi, terlalu berat, untuk masyarakat awam, Anggie mampu menyederhanakan pertanyaan atau persoalan. Selain itu, ia juga mampu mengarahkan pembicaraan agar tetap mudah diikuti pendengar. Ia sigap menjaga irama siaran ketika narasumber sesekali terbata-bata atau hilang fokus.
dr. Diana Sari, Sp.A dari RSU Hermina Aceh yang menjadi narasumber siaran Asokaya, mengakui kemampuan tersebut. “Ya, benar. Beliau membantu membuat pembahasan menjadi bahasa-bahasa sederhana, suasana tetap cair, mengalir dan komunikasi tidak tergesa-gesa. Santai,” pujinya usai siaran.
Kemampuan ini menjadi salah satu kekuatan Anggie dalam membangun komunikasi yang efektif di kanal Pro 4 Banda Aceh; kanal yang rerata pendengarnya dari pelosok Aceh dan masyarakat awam.
Beradaptasi di Tengah Keterbatasan Bahasa Aceh
Sebagai penyiar di Pro 4 RRI Banda Aceh yang berfokus pada budaya dan tradisi Aceh, identik saat siaran menggunakan bahasa Aceh, Anggie menghadapi tantangan tersendiri.
Ia tidak fasih berbahasa Aceh, meski lahir dan besar di Aceh. Namun, hal itu tidak menjadi hambatan dalam menjalankan tugasnya.
Ia memilih beradaptasi. Dalam beberapa kesempatan, interaksi dengan pendengar yang menggunakan bahasa Aceh justru menjadi momen menarik dalam siaran.
Alih-alih menghindar, Angie merespons dengan santai dan terbuka. Interaksi tersebut sering menghadirkan suasana hangat, bahkan mengundang tawa, yang justru mempererat kedekatannya dengan pendengar.
Kebersahajaan yang Menghapus Status Kelas Sosial dan Kesukuan
Anggie bergabung dengan RRI Banda Aceh sejak 2002. Hingga kini, ia telah mengabdikan diri selama 24 tahun sebagai penyiar. Seorang istri pejabat yang umumnya orang awam bilang kaum “berkelas”. Namun tak ia tonjolkan status “kelas”-nya itu.
Ia “menyamar” jadi penyiar RRI yang bersahaja. Menjalankan peran penyiar-nya secara profesional tanpa membawa status atau identitas di luar profesinya. Ia menempatkan diri secara konsisten sebagai penyiar yang bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Selama lebih dari dua dekade, ia juga tidak membangun citra sebagai ibu “hajjah”. Ia memilih membangun kepercayaan pendengar melalui konsistensi, profesionalisme, keramahan, keakraban, dan memperlakukan siapa pun dengan saling menghargai dan menghormati. Tanpa pandang suku, kelas, dan agama.
Mungkin itulah yang membuatnya tetap diingat oleh pendengar serta rekan-rekan kerja. Bukan karena status atau identitas yang ia miliki di luar ruang siaran, bukan karena ia istri pejabat, atau gelarnya, tetapi karena sikapnya—sebagai penyiar yang bersahaja, yang menghargai sesama, yang akhirnya mampu menghilangkan kelas-kelas sosial dan sekat-sekat kesukuan serta keegoan; menjadi setara sebagai manusia. (*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....