Harga Takjil yang dijual Pedagang di Atambua Tetap Stabil
- 25 Feb 2026 17:11 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Suasana Ramadan di Atambua, Kabupaten Belu, semakin semarak dengan hadirnya para pedagang takjil yang menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Lapak-lapak takjil ramai dipadati pembeli setiap sore, baik dari umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa maupun masyarakat non-Muslim yang turut berburu jajanan khas Ramadan.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit serta meningkatnya harga sejumlah bahan pokok, para pedagang takjil di Atambua tetap memilih untuk menjual dagangannya dengan harga yang stabil dan terjangkau. Harga takjil yang dijual bervariasi, mulai dari Rp.5000 hingga Rp.25.000 per porsi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Salah seorang pedagang takjil, Ibu Lili kepada rri.co.id Rabu 25 Februari 2026 mengaku, tetap mempertahankan harga jual meski keuntungan yang diperoleh terbilang tipis. Menurutnya, harga sejumlah bahan pokok seperti cabai, bawang, gula, hingga ikan mengalami kenaikan cukup signifikan. Namun demikian, ia memilih untuk tidak menaikkan harga takjil demi menjaga daya beli masyarakat.

“Walaupun keuntungannya sedikit, saya tetap menjual dengan harga lama. Bahkan kalaupun tidak dapat untung, saya percaya ada berkah Ramadan. Berjualan takjil ini juga bagian dari ibadah dan berbagi,” ujar Ibu Lili.
Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Ibu Umi Bellajam, yang juga menjual takjil dengan harga terjangkau. Ia mengatakan pembeli yang datang tidak hanya berasal dari umat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim yang ikut meramaikan suasana Ramadan dengan membeli takjil.
Menurut Ibu Umi, tingginya minat masyarakat menjadi motivasi tersendiri untuk tetap menjaga harga agar tetap bersahabat. Ia pun berharap pemerintah dapat melakukan pengendalian harga bahan pokok agar para pedagang kecil tetap bisa berjualan dengan tenang dan memperoleh keuntungan yang layak.

“Kalau harga bahan pokok bisa dikendalikan, pedagang juga bisa bertahan dan tetap menjual dengan harga terjangkau untuk masyarakat,”katanya.
Ramainya pedagang dan pembeli takjil di Atambua menjadi gambaran kuatnya nilai kebersamaan dan toleransi antar umat beragama, sekaligus menunjukkan semangat berbagi berkah di bulan suci Ramadan, meski di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat.