Kolaborasi Perkuat Konservasi Berbasis Masyarakat dan Kearifan Lokal di Maluku
- 19 Agt 2026 18:35 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Upaya menjaga kelestarian lingkungan di Maluku terus didorong melalui penguatan masyarakat lokal dan kearifan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kawan Alam Indonesia memperkuat jejaring kolaborasi bersama Yayasan Kiranis dan Forum Kelompok Masyarakat Siaga Bencana Kota Ambon (FKMSB Kota Ambon) untuk mendorong gerakan lingkungan yang menghubungkan konservasi alam, penguatan masyarakat adat, serta ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai tantangan lingkungan.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perspektif bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan alam, tetapi juga memastikan masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem memiliki kapasitas, pengetahuan, serta ruang yang cukup untuk menjadi bagian utama dalam pengelolaannya.
Salah satu isu penting yang menjadi perhatian dalam kolaborasi ini adalah keberadaan sasi sebagai kearifan lokal masyarakat Maluku, baik di wilayah darat maupun laut.
Sistem buka-tutup dalam sasi pada dasarnya memberikan kesempatan bagi sumber daya alam untuk memulihkan diri sebelum kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Dalam konteks pesisir dan laut, nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah berbagai tekanan terhadap ekosistem laut, mulai dari praktik penangkapan ikan yang merusak, eksploitasi sumber daya secara berlebihan, hingga perubahan kondisi lingkungan.
Pengalaman di wilayah Seram Bagian Barat menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat dan kearifan lokal masih memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Pada 2026, Yayasan Kiranis bersama Yayasan Nusa Bahari Lestari dan Coral Triangle Center terlibat dalam pengembangan kerangka pengelolaan kolaboratif Kawasan Konservasi Pulau Buano, termasuk penguatan praktik sasi di wilayah Soleh dan Waesala.
Proses tersebut melibatkan pemerintah, lembaga adat, kelompok masyarakat pengawas, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, nelayan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Yayasan Kiranis: Perkuat Masyarakat Adat Sebagai Penjaga Alam
Direktur Yayasan Kiranis, Johan Lefmanut, mengatakan masyarakat adat sesungguhnya memiliki pengetahuan dan mekanisme pengelolaan sumber daya alam yang telah berlangsung jauh sebelum konsep konservasi modern berkembang.
“Bagi kami, menjaga alam tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang hidup bersama alam itu sendiri. Masyarakat adat memiliki pengetahuan, aturan dan praktik yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Sasi merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat Maluku memberikan ruang kepada alam untuk memulihkan dirinya,” ujar Johan Lefmanut.
Menurut Johan, penguatan masyarakat adat perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari agenda konservasi. Masyarakat tidak cukup hanya diposisikan sebagai penerima manfaat, tetapi harus menjadi pelaku utama dalam menentukan bagaimana sumber daya alam di wilayahnya dikelola.
Yayasan Kiranis memiliki rekam jejak dalam penguatan masyarakat adat dan komunitas lokal di Maluku. Salah satu program yang terdokumentasi adalah penguatan kapasitas masyarakat adat dan komunitas lokal di Negeri Tananahu, Maluku Tengah, termasuk pengembangan kapasitas kelompok perempuan dan pemanfaat sumber daya alam.
“Ketika masyarakat memiliki kapasitas dan memiliki ruang untuk mengelola wilayahnya secara berkelanjutan, maka konservasi akan memiliki fondasi yang lebih kuat. Karena yang menjaga alam bukan hanya lembaga atau pemerintah, tetapi masyarakat itu sendiri,” lanjut Johan.
Saat ini, Yayasan Kiranis juga bekerja di Kabupaten Seram Bagian Barat, antara lain di Desa Waesala, Kecamatan Waesala, serta Desa Luhutuban, Kecamatan Kepulauan Manipa. Ruang lingkup kerja mencakup konservasi pesisir dan pelestarian ekosistem serta penguatan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam.
Konservasi Didorong Sejalan dengan Ketangguhan Masyarakat
Sementara itu, keterlibatan Eliza Siwabessy, Sekretaris Forum Kelompok Masyarakat Siaga Bencana Kota Ambon (FKMSB Kota Ambon), memperluas perspektif kolaborasi dari isu konservasi menuju aspek ketangguhan masyarakat dan pengurangan risiko bencana.
Eliza melihat kerusakan lingkungan dan meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pada akhirnya juga berdampak langsung terhadap keselamatan serta kehidupan masyarakat.
“Lingkungan dan kebencanaan sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Ketika ekosistem pesisir rusak, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir juga menjadi semakin rentan. Karena itu, membangun ketangguhan masyarakat harus dimulai dari bagaimana kita menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko yang ada,” kata Eliza Siwabessy.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif diperlukan agar isu lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri. Konservasi, edukasi masyarakat, penguatan kapasitas, kearifan lokal, dan kesiapsiagaan bencana harus dapat berjalan dalam satu gerakan.
“Maluku memiliki banyak pengetahuan lokal yang bisa menjadi kekuatan. Sasi misalnya, bukan hanya berbicara tentang larangan mengambil sumber daya alam, tetapi juga mengajarkan disiplin, tanggung jawab bersama dan penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda,” tambahnya.
Kawan Alam Indonesia Libatkan Generasi Muda
Bagi Kawan Alam Indonesia, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan konservasi dengan mempertemukan berbagai kelompok yang memiliki perspektif dan pengalaman berbeda.
Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan Maluku memiliki modal sosial dan ekologis yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat pembelajaran konservasi berbasis masyarakat di Indonesia.
“Kami melihat ada satu benang merah yang kuat antara Kawan Alam Indonesia, Yayasan Kiranis dan FKMSB. Kiranis memiliki pengalaman dalam penguatan masyarakat adat dan pengelolaan sumber daya alam, FKMSB membawa perspektif ketangguhan dan kesiapsiagaan masyarakat, sementara Kawan Alam Indonesia berupaya menghubungkan gerakan tersebut dengan generasi muda, jejaring komunitas dan aksi-aksi konservasi,” ujar Wanda.
Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan sekadar mempertemukan tiga organisasi, tetapi menjadi upaya membangun ekosistem gerakan yang saling melengkapi.
“Kita tidak ingin konservasi hanya berhenti pada kegiatan menanam, membersihkan pantai atau membuat kampanye. Lebih jauh dari itu, kita ingin membangun kesadaran bahwa masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam. Ketika masyarakat kuat, adat dihargai dan ekosistem dijaga, maka keberlanjutan juga akan lebih mudah diwujudkan,” ujarnya.
Wanda menilai praktik sasi di Maluku merupakan salah satu contoh nyata bahwa konsep konservasi modern sebenarnya dapat berjalan berdampingan dengan pengetahuan lokal.
“Generasi muda perlu belajar bahwa konservasi bukan sesuatu yang baru. Di Maluku, masyarakat sudah memiliki mekanisme untuk menjaga alam melalui adat. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana nilai-nilai tersebut bisa terus hidup, dikembangkan, didokumentasikan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Tiga Perspektif untuk Konservasi Maluku
Kolaborasi Kawan Alam Indonesia, Yayasan Kiranis dan FKMSB Kota Ambon bertemu pada satu gagasan besar, yakni alam yang lestari membutuhkan masyarakat yang kuat, sementara masyarakat yang tangguh membutuhkan lingkungan yang sehat.
Yayasan Kiranis membawa perspektif konservasi pesisir dan penguatan masyarakat adat. FKMSB Kota Ambon memperkuat perspektif ketangguhan dan kesiapsiagaan masyarakat, sementara Kawan Alam Indonesia mengambil peran dalam menghubungkan generasi muda, komunitas, edukasi, komunikasi publik dan aksi konservasi.
Ketiganya menjadi bagian dari upaya membangun pendekatan konservasi yang tidak hanya berbicara mengenai ekosistem, tetapi juga mengenai manusia yang hidup di dalam dan di sekitarnya.
Dalam konteks Maluku sebagai Bumi Raja-Raja, nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat. Sasi, kewang, petuanan dan berbagai praktik adat lainnya menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam telah menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Maluku.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya tentang mempertahankan keanekaragaman hayati, tetapi juga menjaga pengetahuan, budaya, ruang hidup dan masa depan masyarakat.
Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan aksi bersama, khususnya dalam memperkuat konservasi pesisir, pelestarian ekosistem, penguatan masyarakat adat, kesiapsiagaan bencana, serta peningkatan peran generasi muda dalam menjaga alam Maluku.
Dari Maluku, untuk Indonesia. Dari kearifan lokal, menuju gerakan konservasi masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....