Pelatihan Pengelolaan Sampah di Lakpona Maili Dorong Kesadaran Lingkungan

  • 20 Agt 2026 17:04 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Komitmen membangun kesadaran dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan diwujudkan melalui Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Lakpona Maili Eco-Friendly, Jalan Sirimau Bere-Bere RT 001/RW 05, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis, 20 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIT hingga selesai tersebut merupakan tindak lanjut dari semangat Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan yang sebelumnya digelar di Ruang Rapat Vlisingen, Kantor Wali Kota Ambon.

Pelatihan dilaksanakan di Lakpona Maili Eco-Friendly milik Wutmaili Romuty, peraih Kalpataru kategori Lestari 2026 asal Ambon. Lokasi tersebut selama ini menjadi salah satu ruang edukasi dan praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Kegiatan melibatkan berbagai unsur, di antaranya personel Ditsamapta Korsabhara Polda Maluku, PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Kawan Alam Indonesia, KKA Lingkungan Hidup GPM, Angkatan Muda Ranting Anugrah Getsemani, Mama Sadar Lingkungan (Madaling), serta Guru Sadar Lingkungan (Gudarling).

Pelibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus melibatkan masyarakat dari berbagai lapisan.

Dari Diskusi Menuju Praktik

Jika pada sesi sebelumnya peserta berdiskusi mengenai tantangan lingkungan dan pentingnya kolaborasi, pelatihan di Lakpona Maili Eco-Friendly menjadi ruang untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam praktik.

Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun gerakan lingkungan yang tidak berhenti pada diskusi.

“Hari ini kita tidak hanya bicara tentang sampah, tetapi mulai belajar bagaimana sampah dikelola dari sumbernya. Perubahan harus dimulai dari rumah, sekolah, gereja, komunitas, dan lingkungan terdekat. Kawan Alam Indonesia ingin terus mendorong agar edukasi lingkungan berujung pada aksi nyata.”

Menurut Wanda, konsep pengelolaan sampah berbasis sumber menjadi penting karena persoalan sampah akan lebih mudah ditangani apabila masyarakat mulai memilah dan mengelola sampah sejak dari tempat sampah itu dihasilkan.

Ia juga melihat keterlibatan Mama Sadar Lingkungan, Guru Sadar Lingkungan, pemuda, komunitas gereja, dan aparat kepolisian sebagai kekuatan penting untuk memperluas pesan sadar lingkungan di tengah masyarakat.

Aurelia: Edukasi Harus Dekat dengan Masyarakat

Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Aranti Vinton, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk nyata semangat pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan.

“Pengabdian masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan informasi. Kita harus hadir, belajar bersama masyarakat, dan melihat bagaimana sebuah pengetahuan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengelolaan sampah berbasis sumber adalah salah satu contoh sederhana tetapi sangat penting untuk dimulai bersama.”

Aurelia menilai keterlibatan kelompok masyarakat seperti guru, ibu-ibu, pemuda, dan komunitas keagamaan memiliki posisi strategis karena mereka merupakan bagian dari lingkungan sosial yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Ketika guru berbicara tentang lingkungan di sekolah, mama-mama menerapkannya di rumah, pemuda menggerakkannya di komunitas, dan lembaga keagamaan ikut mengedukasi jemaat, maka pesan lingkungan akan jauh lebih kuat.”

Pak Uce: Sampah Harus Dilihat sebagai Tanggung Jawab Bersama

Pemilik Lakpona Maili Eco-Friendly sekaligus pegiat lingkungan dan peraih Kalpataru kategori Lestari 2026, Wutmaili Romuty atau yang akrab disapa Pak Uce, turut membagikan pengalaman dan praktik pengelolaan lingkungan kepada para peserta.

Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan pola pikir.

“Sampah jangan hanya dilihat sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kita harus belajar memilah, mengelola, dan memanfaatkan kembali apa yang masih memiliki nilai. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kesadaran bahwa sampah yang kita hasilkan merupakan tanggung jawab kita.”

Pak Uce menekankan bahwa edukasi lingkungan harus dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan seluruh kelompok masyarakat.

Lakpona Maili Eco-Friendly menjadi salah satu ruang yang digunakan untuk memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari lingkungan sekitar.

Ditsamapta Polda Maluku Dukung Gerakan Sadar Lingkungan

Kehadiran Ditsamapta Korsabhara Polda Maluku dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor.

Brigpol Iskandar Lallo, Bintara Ditsamapta Polda Maluku, menyampaikan bahwa keterlibatan kepolisian dalam kegiatan lingkungan merupakan bentuk dukungan terhadap upaya membangun kesadaran masyarakat, khususnya dalam menciptakan lingkungan yang tertib, bersih, dan nyaman.

“Kesadaran lingkungan juga berkaitan dengan ketertiban masyarakat. Karena itu, kami dari kepolisian mendukung kegiatan seperti ini. Edukasi dan pencegahan perlu dilakukan bersama agar masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan dan mematuhi aturan yang ada.”

Iskandar juga menilai pendekatan kolaboratif penting karena persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya melalui penegakan aturan.

“Penegakan aturan penting, tetapi membangun kesadaran masyarakat jauh lebih penting untuk jangka panjang. Ketika masyarakat sudah sadar, maka lingkungan akan lebih mudah dijaga bersama.”

Keterlibatan personel Ditsamapta Korsabhara Polda Maluku sekaligus memperkuat pesan bahwa gerakan sadar lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan dukungan berbagai unsur.

Melibatkan Mama, Guru, dan Generasi Muda

Salah satu kekuatan kegiatan tersebut adalah keterlibatan kelompok masyarakat yang memiliki peran langsung dalam membentuk perilaku sehari-hari.

Mama Sadar Lingkungan (Madaling) menjadi representasi peran perempuan dan keluarga dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah dari rumah.

Sementara itu, Guru Sadar Lingkungan (Gudarling) menjadi bagian penting dalam membawa pesan dan edukasi lingkungan ke lingkungan pendidikan.

Keterlibatan KKA Lingkungan Hidup GPM dan Angkatan Muda Ranting Anugrah Getsemani juga memperlihatkan bagaimana institusi keagamaan dan pemuda dapat menjadi bagian dari gerakan lingkungan berbasis komunitas.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya memilah dan mengelola sampah, tetapi juga diajak melihat bahwa perubahan perilaku dapat dimulai dari lingkungan terkecil.

Dari Lakpona Maili untuk Ambon yang Lebih Bersih

Pelatihan di Lakpona Maili Eco-Friendly menjadi bagian lanjutan dari rangkaian Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan yang mempertemukan pemerintah, aparat, organisasi pemuda, komunitas, akademisi, dan masyarakat.

Bagi Kawan Alam Indonesia dan PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun gerakan lingkungan yang berbasis pada edukasi, praktik, kolaborasi, dan keberlanjutan.

Sementara bagi Ditsamapta Korsabhara Polda Maluku, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap terciptanya masyarakat yang sadar terhadap kebersihan, ketertiban, kepatuhan, dan kelestarian lingkungan.

Dari Lakpona Maili Eco-Friendly, pesan sederhana kembali digaungkan: sampah harus dikelola dari sumbernya, kesadaran harus dimulai dari diri sendiri, dan perubahan harus dilakukan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....