Setelah Banda, Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Digaungkan di Ambon
- 20 Agt 2026 17:01 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Upaya membangun gerakan lingkungan berkelanjutan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Hal itu mengemuka dalam kegiatan “Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan” yang digelar di Ruang Rapat Vlisingen, Kantor Wali Kota Ambon, Kamis, 20 Agutus 2026
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira – Pengabdian Masyarakat PPIDK Amerika–Eropa 2026. Forum ini mempertemukan unsur pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, pegiat lingkungan, organisasi kepemudaan, komunitas, serta generasi muda.
Forum membahas sejumlah persoalan lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, peningkatan kepedulian masyarakat, hingga penguatan peran generasi muda dalam menjaga lingkungan.
Kegiatan dihadiri Wali Kota Ambon Drs. Bodewin Melkias Wattimena, M.Si., Staf Ahli Wali Kota Ambon Bidang Politik, Hukum dan Aparatur Fenly Masahoi, S.STP, perwakilan Direktorat Samapta Korsabhara Polda Maluku, Direktur Pengabdian Masyarakat PPIDK Amerika–Eropa sekaligus Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia Aurelia Aranti Vinton, serta para pemuda dan peserta kegiatan.
Hadirkan Peraih Kalpataru Lestari 2026
Salah satu narasumber utama dalam kegiatan tersebut adalah Wutmaili Romuty, S.Pd., S.T., M.T., pegiat lingkungan asal Kota Ambon yang menerima Penghargaan Kalpataru Lestari 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Data resmi Sistem Informasi Penghargaan Kalpataru KLH/BPLH mencatat Wutmaili Romuty sebagai penerima Kalpataru Lestari 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas konsistensi dan keberlanjutan aksi lingkungan yang dilakukannya.
Romuty dikenal aktif dalam edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, serta mendorong masyarakat untuk melihat sampah bukan sekadar persoalan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat diolah dan memiliki nilai guna.
Kehadiran Romuty memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh gambaran langsung mengenai pengalaman membangun gerakan lingkungan berbasis masyarakat yang dilakukan secara konsisten.
Perkuat Perspektif Akademik dan Generasi Muda
Selain Wutmaili Romuty, forum tersebut menghadirkan Syavin Al Farisie, mahasiswa Pascasarjana Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB University.
Syavin membawa perspektif akademik dan generasi muda mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.
Perspektif akademik dinilai penting karena persoalan lingkungan tidak hanya membutuhkan aksi di lapangan, tetapi juga pendekatan berbasis pengetahuan, riset, inovasi, serta keterlibatan generasi muda dalam merancang solusi jangka panjang.
Sementara itu, perspektif pemerintah daerah disampaikan Fenly Masahoi, S.STP., Staf Ahli Wali Kota Ambon Bidang Politik, Hukum dan Aparatur. Pandangan tersebut memperkaya pembahasan mengenai peran pemerintah dalam membangun tata kelola serta meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat daerah.
Wanda: Kolaborasi Harus Berujung pada Aksi
Sesi Focus Group Discussion (FGD) dimoderatori Wanda Syahputra, Co-Founder Kawan Alam Indonesia.
Wanda menekankan persoalan lingkungan merupakan persoalan bersama yang tidak dapat diselesaikan oleh satu kelompok atau institusi saja.
“Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah memiliki kebijakan, akademisi memiliki pengetahuan, masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal, komunitas memiliki pengalaman lapangan, sementara generasi muda memiliki energi dan gagasan. Ketika semua kekuatan ini dipertemukan, kolaborasi dapat menjadi gerakan yang nyata,” ujar Wanda.
Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dengan aksi nyata.
Ia juga menilai pengalaman Banda Neira dan Ambon sebagai wilayah kepulauan memberikan pelajaran penting bahwa persoalan lingkungan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, laut, pesisir, budaya, dan keberlanjutan ekonomi.
“Kita tidak ingin diskusi hari ini berhenti sebagai percakapan. Harapannya, dari ruang ini lahir jejaring, kolaborasi, dan aksi nyata yang bisa dilakukan bersama, khususnya oleh generasi muda,” katanya.
Aurelia: Pemuda Harus Menjadi Bagian dari Solusi
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Aranti Vinton, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari semangat pengabdian yang menghubungkan jejaring pemuda Indonesia di dalam dan luar negeri dengan kebutuhan masyarakat di daerah.
Menurut Aurelia, pengabdian masyarakat tidak semestinya hanya dipahami sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi proses membangun hubungan, berbagi pengetahuan, serta menciptakan kolaborasi yang dapat terus berkembang.
“Kami ingin membawa semangat bahwa pemuda Indonesia, baik yang berada di dalam negeri maupun diaspora, dapat berkontribusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Lingkungan adalah salah satu ruang penting untuk membangun kolaborasi tersebut,” ujar Aurelia.
Ia menambahkan, isu lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan masa depan generasi muda.
“Generasi muda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga bagian dari solusi hari ini. Karena itu, kita perlu memberikan ruang bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, terlibat, dan mengambil tindakan nyata,” lanjutnya.
Wutmaili Romuty: Kesadaran Lingkungan Harus Dibangun dari Masyarakat
Wutmaili Romuty membagikan pengalaman panjangnya dalam menjalankan gerakan lingkungan di Kota Ambon.
Ia menekankan perubahan perilaku masyarakat tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan edukasi, keteladanan, konsistensi, serta keterlibatan langsung masyarakat.
Menurut Romuty, persoalan sampah harus dilihat secara lebih luas, bukan hanya sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan budaya masyarakat.
Pengalamannya dalam mengembangkan berbagai kegiatan pengelolaan sampah dan edukasi lingkungan menjadi salah satu contoh bahwa gerakan berbasis masyarakat dapat memberikan dampak berkelanjutan.
Penghargaan Kalpataru Lestari 2026 yang diterimanya menjadi bentuk pengakuan nasional terhadap konsistensi aksi lingkungan yang telah dilakukan. Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pada Juni 2026 menganugerahkan Kalpataru 2026 kepada 16 individu dan kelompok pejuang lingkungan dari berbagai daerah Indonesia.
'Yang paling penting bukan penghargaan, tetapi bagaimana semangat menjaga lingkungan itu terus hidup dan diteruskan oleh masyarakat, terutama generasi muda' menjadi pesan yang mengemuka dalam sesi tersebut.
Ditsamapta Polda Maluku Dorong Kesadaran dan Kepatuhan Masyarakat
Perspektif penegakan aturan turut hadir melalui Brigpol Iskandar Lallo, Bintara Direktorat Samapta Polda Maluku, yang mewakili Direktorat Samapta Korsabhara Polda Maluku.
Iskandar menjelaskan, dalam pelaksanaan tugasnya, Direktorat Samapta memiliki fungsi yang berkaitan dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, termasuk mendukung upaya penegakan peraturan dan ketentuan yang berlaku di tengah masyarakat.
Dalam konteks lingkungan, menurutnya, penegakan aturan perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.
“Upaya menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah atau komunitas lingkungan. Kepatuhan masyarakat terhadap aturan juga menjadi bagian penting. Karena itu, edukasi, pencegahan, dan penegakan aturan harus berjalan bersama,” ujar Iskandar.
Ia juga menyampaikan jajaran kepolisian, termasuk Direktorat Samapta Polda Maluku, memiliki ruang untuk mendukung gerakan sadar lingkungan melalui pendekatan edukatif dan preventif, sekaligus mendorong masyarakat bersama-sama menjaga ketertiban dan lingkungan.
“Gerakan sadar lingkungan harus dibangun dari kesadaran bersama. Ketika masyarakat memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga keamanan, kenyamanan, kesehatan, dan masa depan bersama, maka kepedulian itu akan lebih mudah tumbuh,” tambahnya.
Dorong Gerakan Lingkungan dari Ambon hingga Banda Neira
Kegiatan Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan menjadi salah satu upaya mempertemukan berbagai elemen dalam membahas persoalan lingkungan secara terbuka dan kolaboratif.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat semangat Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira dengan membawa isu lingkungan sebagai salah satu bagian penting dari pengabdian masyarakat dan penguatan peran pemuda.
Ambon dan Banda Neira sebagai wilayah kepulauan menghadapi tantangan lingkungan yang memiliki karakteristik tersendiri. Persoalan sampah, pengelolaan wilayah pesisir, tekanan terhadap ekosistem laut, hingga kebutuhan edukasi lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, para peserta didorong melihat gerakan lingkungan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kolaborasi, edukasi, serta keberanian untuk memulai dari lingkungan terdekat.
Semangat tersebut diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi berlanjut menjadi jejaring dan aksi nyata yang melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, aparat penegak hukum, dan generasi muda.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam hari ini, tetapi juga memastikan generasi mendatang tetap memiliki laut, pesisir, hutan, dan ruang hidup yang layak untuk diwariskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....