Jalur Rempah menuju Masa Depan: Berkarya melalui Film Dokumenter
- 20 Agt 2026 17:05 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Banda Neira — Banda Neira kembali menjadi ruang bagi generasi muda untuk membaca ulang hubungan antara sejarah, masyarakat dan masa depan. Melalui program “Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira”, PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa bersama Kawan Alam Indonesia tidak hanya menjalankan pengabdian masyarakat, tetapi juga merekam berbagai cerita tentang kehidupan di kawasan bersejarah jalur rempah tersebut.
Salah satu karya yang lahir dari rangkaian kegiatan itu adalah film dokumenter berjudul “Merawat Masa Depan di Ujung Jalur Rempah”. Film tersebut disutradarai Muhammad Adha Hawari dari Kawan Alam Indonesia dengan membawa perspektif yang lebih dekat pada kehidupan masyarakat, persoalan lingkungan, kebudayaan dan harapan generasi muda Banda Neira.
Adha mengatakan proses produksi film membuat tim melihat Banda Neira dari sudut pandang yang lebih luas. Banda tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata dengan keindahan alam dan sejarah besar, tetapi sebagai ruang hidup masyarakat yang memiliki tantangan sekaligus cerita manusia yang kuat.
“Ketika kita berbicara tentang Banda Neira, yang sering muncul adalah keindahan alam, sejarah dan rempah-rempah. Tetapi ketika kami berada langsung di sana, kami menemukan cerita yang jauh lebih luas. Ada tantangan yang dihadapi masyarakat, ada persoalan lingkungan, ada keterbatasan, tetapi di sisi lain kami juga menemukan begitu banyak kisah inspiratif,” jelas Adha.
Menurutnya, berbagai cerita sederhana yang ditemui selama proses produksi justru menjadi kekuatan utama film tersebut. Ada masyarakat yang mempertahankan tradisi, anak muda yang ingin berbuat bagi daerahnya, serta warga yang terus menjaga lingkungan dan kehidupan sosial di tengah perubahan zaman.
“Banyak cerita sederhana yang kami temui justru memiliki kekuatan yang luar biasa. Ada masyarakat yang tetap menjaga tradisi, anak-anak muda yang ingin berbuat sesuatu untuk daerahnya, dan orang-orang yang dengan keterbatasannya tetap berusaha menjaga lingkungan serta kehidupan di Banda. Itu yang ingin kami bawa melalui film ini,” katanya.
Film tersebut tidak diarahkan semata-mata untuk mengulang kisah kejayaan Banda Neira sebagai bagian dari sejarah jalur rempah dunia. Lebih jauh, karya dokumenter itu mencoba menggeser perhatian dari sekadar masa lalu menuju pertanyaan yang lebih penting: bagaimana masyarakat, lingkungan dan generasi muda dapat menyiapkan masa depan Banda Neira.
“Film ini mencoba mengajak penonton melihat bahwa setelah sejarah besar itu berlalu, ada masa depan yang harus dirawat. Ada alam yang harus dijaga, ada masyarakat yang harus didukung, dan ada generasi muda yang harus diberi ruang untuk mengambil peran. Jadi, bagi kami, cerita Banda bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat masa depannya,” tutur Adha.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan besar program “Kolaborasi Pemuda untuk Banda Neira”, yang mempertemukan pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang dengan masyarakat lokal melalui kegiatan pendidikan, sosial, lingkungan, konservasi dan kebudayaan. Bagi PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, kolaborasi itu menjadi bentuk nyata keterhubungan pemuda diaspora dengan tanah air.
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Arianti Vinton, berharap Banda Neira tidak menjadi titik akhir dari rangkaian kegiatan tersebut. Ia mendorong agar pengalaman dan jejaring yang telah terbentuk dapat dikembangkan menjadi program lanjutan yang lebih berkelanjutan.
Rangkaian perjalanan tersebut kemudian ditutup dengan kehadiran delegasi dalam puncak HUT ke-81 Provinsi Maluku sekaligus penyampaian laporan kepada Gubernur Maluku. Dari Banda Neira, para pemuda membawa satu pesan kuat: warisan jalur rempah bukan hanya cerita masa lalu, tetapi amanah untuk merawat alam, memperkuat masyarakat dan memberi ruang bagi generasi muda menyiapkan masa depan Maluku.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....