Fibrilasi Atrium Bisa tanpa Gejala, Tetap Berisiko Stroke

  • 29 Sep 2026 21:36 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Penyakit jantung tidak selalu berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah koroner, serangan jantung, atau pemasangan stent. Gangguan pada irama jantung juga perlu mendapat perhatian, salah satunya fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF).

Fibrilasi atrium merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, namun risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.

Studi Framingham menunjukkan, setelah usia 50 tahun, risiko mengalami fibrilasi atrium dapat meningkat sekitar dua kali lipat setiap tambahan 10 tahun usia. Bahkan, hampir 10 persen orang yang mencapai usia 80 tahun diperkirakan dapat mengalami kondisi tersebut.

Selain faktor usia, sejumlah kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Faktor tersebut antara lain tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, gangguan tidur seperti sleep apnea, serta konsumsi alkohol.

Bisa Terjadi Tanpa Gejala

Salah satu hal yang membuat fibrilasi atrium kerap tidak disadari adalah sebagian penderitanya tidak mengalami gejala. Sementara pada sebagian orang lainnya, kondisi ini dapat ditandai dengan jantung berdebar, denyut jantung tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, hingga menurunnya kemampuan melakukan aktivitas.

Tidak sedikit pula kasus fibrilasi atrium baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan jantung untuk keperluan lain.

Meski tidak menimbulkan keluhan, fibrilasi atrium tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke. Irama jantung yang tidak teratur dapat menyebabkan aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah.

Apabila bekuan darah tersebut terbawa menuju pembuluh darah otak, aliran darah dapat tersumbat dan memicu stroke. Karena itu, pencegahan stroke menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan pasien fibrilasi atrium.

Gaya Hidup Berperan dalam Menjaga Kesehatan Jantung

Tidak semua kasus fibrilasi atrium dapat dicegah. Namun, sejumlah faktor risiko dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Pada orang yang telah mengalami fibrilasi atrium, pengelolaan faktor risiko juga dapat membantu mengurangi kekambuhan dan beban penyakit.

Pedoman European Society of Cardiology (ESC) 2024 menempatkan pengelolaan faktor risiko dan penyakit penyerta sebagai bagian penting dalam penanganan fibrilasi atrium.

Ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan jantung sekaligus mengendalikan faktor risiko fibrilasi atrium.

Pertama, menerapkan pola makan sehat. Masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein sehat seperti ikan. Sebaliknya, konsumsi garam, gula tambahan, lemak jenuh, makanan olahan, minuman manis, dan alkohol perlu dibatasi.

Kedua, rutin melakukan aktivitas fisik. Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Orang dewasa dianjurkan melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas intensitas berat setiap minggu, disertai latihan kekuatan setidaknya dua kali dalam seminggu.

Aktivitas tersebut tidak selalu harus berupa olahraga berat. Berjalan kaki, mengurangi kebiasaan duduk terlalu lama, serta meningkatkan aktivitas secara bertahap juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif.

Ketiga, berhenti merokok. Rokok dan produk nikotin dapat meningkatkan tekanan darah serta denyut jantung dan berkontribusi terhadap risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Keempat, menjaga kualitas tidur. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam. Selain durasi, kualitas tidur juga penting. Jadwal tidur yang teratur, mengurangi penggunaan layar sebelum tidur, dan menciptakan rutinitas tidur yang nyaman dapat membantu.

Gangguan tidur seperti sleep apnea juga perlu diperhatikan, terutama jika seseorang mengalami dengkuran keras, sering terbangun ketika tidur, atau mengantuk berlebihan pada siang hari.

Kelima, menjaga berat badan. Kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkatkan risiko fibrilasi atrium. Menjaga berat badan melalui pola makan sehat, pengaturan porsi makan, dan aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Pada pasien fibrilasi atrium yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, pedoman ESC 2024 merekomendasikan penurunan berat badan setidaknya 10 persen sebagai bagian dari pengelolaan faktor risiko.

Keenam, mengendalikan kadar kolesterol. Pemeriksaan kadar kolesterol secara berkala penting untuk mengetahui kondisi kesehatan jantung. Pola makan dengan memperbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan sumber protein tanpa lemak dapat menjadi pilihan.

Konsumsi lemak jenuh dan makanan yang sangat diproses juga perlu dibatasi. Jika kadar kolesterol tetap tinggi, penggunaan obat dapat diperlukan sesuai anjuran dokter.

Ketujuh, mengendalikan gula darah. Menjaga kadar gula darah tetap terkendali juga penting bagi kesehatan jantung. Pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan, serta tidak merokok dapat membantu.

Bagi orang dengan diabetes, pemantauan gula darah dan penggunaan obat sesuai anjuran dokter diperlukan untuk membantu mengendalikan kondisi serta mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular.

Kedelapan, menjaga tekanan darah. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko penting fibrilasi atrium. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara berkala perlu dilakukan.

Tekanan darah dapat dikendalikan melalui pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan, tidur yang cukup, membatasi alkohol, dan menghindari rokok. Jika dokter memberikan obat tekanan darah, penggunaannya perlu dilakukan sesuai anjuran.

Perubahan Kecil Bisa Dimulai dari Sekarang

Delapan langkah tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Menjaga kesehatan jantung juga tidak harus menunggu munculnya gejala atau diagnosis penyakit jantung. Memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, berat badan, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah sejak dini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Fibrilasi atrium yang tidak menimbulkan gejala bukan berarti tidak perlu diperhatikan. Mengenali faktor risiko dan melakukan pemeriksaan apabila terdapat keluhan atau kondisi yang mengkhawatirkan dapat membantu mendeteksi gangguan irama jantung lebih awal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....