Waspada Virus Zika, Kenali Gejala, Penularan dan Pencegahannya
- 30 Agt 2026 09:06 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Peringatan perjalanan kesehatan atau travel health notice dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat terkait potensi paparan virus Zika di Bali menjadi perhatian. Meski Dinas Kesehatan Bali menyatakan belum menemukan kasus Zika yang terkonfirmasi secara lokal, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui nyamuk tersebut.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan potensi sirkulasi virus Zika di Indonesia tetap ada karena kondisi ekologis Indonesia mendukung keberadaan nyamuk Aedes sebagai salah satu vektor utama virus.
Virus Zika merupakan penyakit infeksi yang terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Sebagian besar infeksi Zika tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan sehingga seseorang terkadang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
Gejala Zika antara lain demam ringan, ruam pada kulit, mata merah tanpa disertai nanah, nyeri sendi dan otot, sakit kepala, serta tubuh terasa lemas. Gejala tersebut umumnya berlangsung selama beberapa hari dan dapat menyerupai penyakit yang ditularkan nyamuk lainnya, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya.
Menurut Dicky, kombinasi demam ringan, ruam kulit, mata merah, dan nyeri sendi dapat menjadi tanda yang mengarah pada infeksi Zika. Namun, gejala tersebut tidak cukup spesifik untuk membedakannya secara pasti dari penyakit lainnya sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Empat Jalur Penularan Zika
Penularan Zika tidak hanya terjadi melalui gigitan nyamuk. Terdapat sejumlah jalur penularan yang perlu diketahui masyarakat.
Pertama, melalui gigitan nyamuk Aedes yang telah terinfeksi. Nyamuk jenis ini umumnya aktif menggigit pada siang hari, meskipun aktivitasnya juga dapat ditemukan pada malam hari, terutama di lingkungan perkotaan dengan pencahayaan yang cukup.
Kedua, melalui hubungan seksual. Virus Zika dapat bertahan lebih lama pada cairan tubuh tertentu, termasuk semen, sehingga penularan masih dapat terjadi setelah seseorang tidak lagi mengalami gejala.
Ketiga, dari ibu ke janin selama kehamilan. Ibu hamil yang terinfeksi Zika berisiko menularkan virus kepada janin melalui plasenta.
Keempat, penularan dapat terjadi melalui transfusi darah atau transplantasi organ, meskipun jalur ini tergolong lebih jarang.
Ibu Hamil Menjadi Kelompok yang Paling Berisiko
Pada sebagian besar orang, infeksi Zika dapat berlangsung ringan dan sembuh dengan sendirinya. Namun, risiko yang lebih serius dapat terjadi pada ibu hamil karena infeksi dapat berdampak terhadap janin.
Infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan Congenital Zika Syndrome, yang berkaitan dengan gangguan perkembangan otak dan sistem saraf janin. Kondisi tersebut dapat mencakup mikrosefali, gangguan penglihatan, hambatan pertumbuhan, hingga peningkatan risiko keguguran dan kelahiran prematur.
Selain ibu hamil, orang yang sedang merencanakan kehamilan, pasangan seksual dari seseorang yang baru bepergian ke wilayah dengan sirkulasi Zika, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan populasi nyamuk Aedes tinggi juga perlu meningkatkan kewaspadaan.
Pada orang dewasa, infeksi Zika juga memiliki risiko komplikasi neurologis yang jarang, salah satunya Guillain-Barré Syndrome (GBS), yaitu gangguan saraf akut yang dapat menyebabkan kelemahan otot.
Pencegahan Menjadi Kunci
Hingga kini, belum tersedia vaksin khusus untuk mencegah infeksi Zika. Karena itu, pencegahan terutama dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan memutus perkembangbiakannya.
Masyarakat dapat menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Perlindungan diri juga dapat dilakukan dengan menggunakan losion antinyamuk sesuai petunjuk, mengenakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh, serta menggunakan kelambu ketika tidur.
Bagi orang yang baru bepergian dari wilayah dengan risiko penularan Zika, perhatian terhadap pencegahan penularan melalui hubungan seksual juga penting, terutama apabila memiliki pasangan yang sedang hamil.
Masyarakat yang mengalami gejala yang menyerupai Zika setelah bepergian atau berada di wilayah yang berisiko disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pencegahan dan kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyebaran virus, terlebih di wilayah yang memiliki populasi nyamuk Aedes.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....