Tes Darah pTau 181 Bantu Deteksi Alzheimer Lebih Dini

  • 14 Sep 2026 09:16 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Penyakit Alzheimer sering kali baru terdeteksi ketika gangguan daya ingat dan kemampuan berpikir mulai menghambat aktivitas sehari-hari. Padahal, pemeriksaan sejak dini penting dilakukan untuk membantu mengetahui kondisi pasien dan menentukan langkah penanganan bersama dokter.

Salah satu perkembangan terbaru dalam pemeriksaan Alzheimer adalah tes biomarker melalui sampel darah, yakni phosphorylated tau 181 atau pTau 181 Plasma. Layanan pemeriksaan tersebut diluncurkan Siloam International Hospitals bersama Roche Diagnostics Indonesia pada September 2026, bertepatan dengan Bulan Kesadaran Alzheimer Dunia.

Dilansir dari Kompas.com, pTau 181 merupakan salah satu bentuk protein tau yang mengalami perubahan atau fosforilasi. Dalam penyakit Alzheimer, perubahan protein tau berkaitan dengan proses patologis yang terjadi di otak.

Kadar pTau 181 dalam plasma darah diketahui memiliki hubungan dengan keberadaan patologi amyloid di otak, yang menjadi salah satu karakteristik utama penyakit Alzheimer. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter mengevaluasi kemungkinan adanya proses patologis yang berkaitan dengan Alzheimer, terutama jika dikombinasikan dengan informasi klinis dan pemeriksaan lainnya.

Meski demikian, hasil pemeriksaan pTau 181 Plasma tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyatakan seseorang menderita Alzheimer. Diagnosis tetap membutuhkan evaluasi dokter, termasuk melihat gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan kemampuan kognitif, serta pemeriksaan penunjang lain sesuai kondisi pasien.

Cukup dengan Sampel Darah

Pemeriksaan pTau 181 Plasma memiliki keunggulan karena dilakukan melalui pengambilan sampel darah dari pembuluh vena di lengan, seperti pemeriksaan laboratorium pada umumnya.

Metode ini relatif minim invasif dibandingkan sejumlah pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan dalam evaluasi Alzheimer, seperti lumbar puncture untuk mengambil cairan serebrospinal atau pemeriksaan pencitraan menggunakan PET Scan.

Kehadiran pemeriksaan berbasis darah diharapkan dapat membuat evaluasi biomarker yang berkaitan dengan Alzheimer menjadi lebih praktis bagi pasien maupun dokter. Namun, pemeriksaan tetap perlu dilakukan berdasarkan pertimbangan medis dan kondisi masing-masing pasien.

Jangan Anggap Semua Pikun sebagai Penuaan

Dokter Spesialis Neurologi dan Subspesialis Neurogeriatri dan Demensia dari Memory and Aging Center, Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N, SubSp.N.G.D.(K), mengatakan Alzheimer sering kali baru diketahui ketika kerusakan sel otak sudah cukup berat.

Menurutnya, pemeriksaan yang dapat membantu evaluasi lebih awal memberikan peluang bagi pasien untuk memperoleh penanganan secara lebih tepat.

"Penurunan daya ingat yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan," ujar dr. Rocksy dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9/2026).

Ia mengimbau keluarga yang mendampingi lansia dengan gejala penurunan daya ingat agar segera berkonsultasi dengan dokter. Evaluasi medis diperlukan untuk mengetahui penyebab gangguan kognitif sekaligus menentukan pemeriksaan lanjutan yang sesuai.

Kapan Gangguan Ingatan Perlu Diperiksa?

Lupa sesekali merupakan kondisi yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keluarga perlu mulai waspada apabila perubahan daya ingat berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain sering melupakan informasi yang baru diterima, kesulitan menyelesaikan aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan, sering kehilangan arah di lingkungan yang sudah dikenal, atau munculnya perubahan kemampuan berpikir yang semakin nyata.

Kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan Alzheimer. Gangguan daya ingat juga dapat dipicu berbagai kondisi lain sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Karena itu, apabila gangguan daya ingat mulai menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari, masyarakat disarankan tidak menunggu hingga kondisi semakin berat untuk berkonsultasi dengan dokter.

Deteksi Dini Semakin Penting

Kehadiran pemeriksaan biomarker melalui darah menjadi salah satu perkembangan dalam upaya meningkatkan akses terhadap evaluasi penyakit Alzheimer. Hal ini dinilai semakin penting seiring Indonesia memasuki era aging population atau meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, mengatakan kebutuhan terhadap deteksi dan penanganan gangguan kognitif semakin penting di tengah perubahan demografi tersebut.

"Pemeriksaan pTau 181 Plasma sebagai salah satu inovasi diagnostik dapat mendukung evaluasi penyakit Alzheimer secara lebih minim invasif," kata dr. Grace.

Dengan demikian, pemeriksaan pTau 181 Plasma melalui sampel darah dapat menjadi salah satu pilihan dalam perkembangan evaluasi penyakit Alzheimer yang lebih minim invasif.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa pemeriksaan biomarker bukan pengganti diagnosis dokter. Ketika terjadi perubahan daya ingat atau kemampuan berpikir yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah awal untuk mendapatkan evaluasi secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....