Pengamat Ekonomi Kreatif: Manusia dan Sistem Saling Bergantung

  • 03 Okt 2026 23:33 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Pembangunan Indonesia menuju 2045 membutuhkan penguatan kualitas manusia sekaligus pembenahan sistem dan pemanfaatan teknologi secara berimbang. Ketiganya dinilai menjadi bagian penting dalam membangun institusi yang produktif, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya dan Pariwisata, Harry Waluyo, mengatakan manusia dan sistem tidak dapat dipandang sebagai dua pilihan yang terpisah. Menurutnya, manusia membentuk sistem, sementara sistem juga membentuk perilaku manusia.

Ia menjelaskan, karakter manusia tetap memiliki peran penting, namun karakter tersebut berinteraksi dengan aturan, insentif, struktur kekuasaan, budaya organisasi, serta konsekuensi dari setiap tindakan.

Harry menilai sistem yang baik membutuhkan manusia yang memiliki integritas, kompetensi, tanggung jawab, dan keberanian moral. Sebaliknya, kualitas manusia juga akan lebih berkembang apabila berada dalam sistem yang memberikan ruang bagi perilaku positif, kompetensi, inovasi, dan akuntabilitas.

Dalam konteks perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI, Harry menekankan bahwa teknologi dapat memperkuat sistem yang sudah ada. Jika institusi berjalan dengan baik, teknologi dapat mempercepat pelayanan, analisis data, pendidikan, penelitian, dan pengambilan keputusan.

Namun, teknologi juga perlu diterapkan berdasarkan kebutuhan yang jelas. Materi tersebut menekankan bahwa pertanyaan awal dalam digitalisasi bukan teknologi apa yang akan digunakan, melainkan masalah apa yang hendak diselesaikan dan apakah proses yang ada sudah berjalan dengan benar.

Harry melihat pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun manusia Indonesia menuju 2045. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk tenaga kerja, tetapi juga manusia yang memiliki pengetahuan, kompetensi, karakter, kemampuan menilai, kreativitas, serta kemandirian dalam mengambil keputusan.

Menurutnya, pembangunan Indonesia menuju 2045 juga perlu memperhatikan keterkaitan antara politik, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, lingkungan, dan hukum. Ketujuh bidang tersebut saling berinteraksi dalam membentuk kehidupan masyarakat dan arah pembangunan bangsa.

Karena itu, agenda reformasi tidak cukup hanya menghasilkan lebih banyak aturan, aplikasi digital, pelatihan maupun laporan. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah perubahan perilaku dan hasil yang dirasakan masyarakat.

Materi tersebut merumuskan tujuh lapisan yang perlu diperkuat, yakni karakter, kemampuan, insentif, kelembagaan, hukum, teknologi, serta mekanisme umpan balik agar sistem mampu belajar dari kesalahan dan melakukan perbaikan.

Harry menilai, Indonesia 2045 pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, infrastruktur, digitalisasi atau AI, tetapi juga tentang pembangunan manusia dan peradaban.

Sinergi antara karakter manusia, desain kelembagaan, dan teknologi diharapkan dapat memperkuat kepercayaan, meningkatkan kinerja, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....