Yogyakarta dan Banyuwangi Saling Belajar Kembangkan Pariwisata Berbasis Budaya

  • 31 Mei 2026 21:56 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan penataan perkotaan. Sinergi ini berfokus pada penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelestarian budaya, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Studi Pengembangan Wisata, Desa Wisata, Penataan Perkotaan dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ke Pemerintah Kota Yogyakarta yang digelar di Hotel De Djokja, Sabtu, 30 Mei 2026.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan, pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kualitas sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif harus diawali dengan upaya merekonstruksi kualitas SDM agar mampu menjadi pelaku pembangunan yang produktif dan berdaya saing.

"Kalau ingin pariwisata dan ekonomi kreatif maju, maka SDM-nya harus dibangun. Stunting harus dituntaskan, perempuan harus berdaya, dan anak muda harus mampu bekerja sekaligus menciptakan lapangan kerja," katanya, saat menjadi narasumber dalam Studi Pengembangan Wisata, Desa Wisata, Penataan Perkotaan dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ke Pemerintah Kota Yogyakarta.

Hasto menjelaskan, Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong pembangunan berbasis kolaborasi melalui berbagai program, di antaranya One Village One Sister University dan One Village One Sister Company. Program tersebut menjadi wadah sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus mengembangkan potensi wilayah.

Salah satu fokus kolaborasi tersebut adalah penanganan sampah, pengembangan kampung tematik, hingga penguatan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis masyarakat.

"Kami membangun kolaborasi untuk menuntaskan masalah sampah, mengembangkan kampung tematik yang dapat menggerakkan ekonomi kreatif dan pariwisata, serta memperkuat pemberdayaan masyarakat," ucapnya.

Hasto juga memaparkan program MAS JOS sebagai bagian dari rekonstruksi sosial yang sedang dijalankan di Kota Yogyakarta. Program tersebut mencakup pengelolaan sampah dari sumbernya, normalisasi sungai, hingga pengembangan kawasan sungai sebagai ruang publik dan destinasi wisata.

Salah satu potensi yang sedang dikembangkan adalah Sungai Code. Setelah melakukan kegiatan susur sungai beberapa waktu lalu, Pemkot Yogyakarta melihat peluang besar untuk mengembangkan sungai tersebut sebagai destinasi wisata minat khusus.

"Kami sedang menggarap pengelolaan sampah dari sumber, normalisasi sungai, dan ke depan ingin mengembangkan potensi Sungai Code menjadi wisata arung jeram. Setelah kami susur sungai, ternyata ada potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan," ujarnya.

Meski demikian, Hasto menilai Kota Yogyakarta juga perlu belajar dari Banyuwangi yang dinilai berhasil mengembangkan desa wisata dan event pariwisata berskala nasional maupun internasional secara berkelanjutan.

"Kami juga harus banyak belajar dari Banyuwangi. Pengelolaan desa wisatanya luar biasa, event wisatanya juga banyak dan mampu menarik wisatawan dalam skala nasional maupun internasional," ucapnya, mengungkapkan.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani menyampaikan, kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari berbagai praktik baik yang telah diterapkan Kota Yogyakarta, khususnya dalam membangun pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Menurutnya, Yogyakarta memiliki kekuatan budaya yang mampu menjadi fondasi pengembangan pariwisata secara berkelanjutan.

Selain itu, terdapat banyak kesamaan karakter budaya antara Banyuwangi dan Yogyakarta yang dapat menjadi modal untuk saling bertukar pengalaman.

"Kami ingin belajar bagaimana Yogyakarta mampu menjaga kekuatan budaya dan local wisdom sehingga tetap relevan dan berkelanjutan dalam mendukung sektor pariwisata," katanya, mengungkapkan.

Ipuk menambahkan, Banyuwangi juga melihat pentingnya pembangunan yang berdampak langsung kepada masyarakat melalui keterlibatan desa wisata, penguatan ekonomi kreatif, serta tata kelola birokrasi yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....