Wisata Seni, Kebudayaan dan Agama di Omah Petroek
- 31 Jan 2026 23:51 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Yogyakarta terkenal sebagai kota wisata yang kaya akan sejarah, budaya, seni, dan alam. Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Wonorejo, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Omah Petroek tampil sebagai rumah budaya yang menyuguhkan suasana sejuk serta panorama alam yang menenangkan dan cocok untuk healing.
Pembangunan Omah Petroek diprakarsai oleh Pastor Gabriel Possenti Sindhunata yang akrab dipanggil Romo Sindhu dan mengusung tagline “Kita Berteman Sudah Lama”. Arsitektur bernuansa Jawa di kompleks ini menyatu harmonis dengan lanskap sekitar sehingga pengunjung mudah merasakan perpaduan antara alam dan kebudayaan dalam satu ruang.
Daya tarik utama kompleks ini adalah koleksi patung-patung yang tersebar di berbagai titik. Pengunjung dapat menjumpai patung tokoh-tokoh seperti Soekarno hingga Gus Dur, serta Mbah Maridjan sampai Mbok Turah yang merepresentasikan tradisi lokal. Di samping itu, tersedia rumah ibadah untuk kelima agama utama di Indonesia. Langgar, Kapel, Gua Maria, Pura, dan Klenteng berskala kecil yang difungsikan agar pengunjung dapat beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Di dalam kompleks juga berdiri Museum Anak Bajang yang memvisualisasikan karya Sindhunata, antara lain Kisah Anak Bajang dalam bentuk lukisan. Koleksi museum lebih menonjolkan kombinasi antara sastra dan seni rupa. Jumlah karya rupa yang ada di kompleks Omah Petroek diperkirakan mencapai lebih dari 500 koleksi serta arsip buku dan majalah dari kerjasama dengan berbagai seniman
Penanggung jawab Omah Petroek, Antok, menjelaskan tujuan museum dan fungsi kompleks secara rinci. “Tujuan museum lebih untuk mengenalkan koleksi dan mengamankan naskah supaya lestari, serta menjadi inspirasi bagi pengunjung,” ucap Antok. Ia menambahkan bahwa konsep tempat ini memang bukan berorientasi bisnis: “Prinsip kami 100 persen bukan yang bisnis oriented ini tempat pengendapan, tempat yang untuk orang betul-betul menepi,” kata Antok.
Selain koleksi, Omah Petroek dilengkapi fasilitas pendukung seperti kedai kopi yang menyajikan Kopi Petruk Nusantara dengan penekanan pada single-origin dari berbagai daerah di Nusantara. “Kami ingin mengenalkan kopi-kopi Nusantara, dari Papua sampai Temanggung, dan kami lebih mengutamakan single origin,” kata Antok.
Tidak hanya untuk wisata, di Omah Petroek terkadang diselenggarakan kegiatan seperti latihan gamelan, pentas wayang kulit, hingga kelas literasi. Antok menyebutkan bahwa kunjungan rombongan besar sering mencapai kapasitas satu hingga dua bus (sekitar seratus orang), sedangkan acara kebudayaan tertentu dapat mencapai hingga 300–400 orang.
Omah Petroek buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Selain menikmati museum dan koleksi seni, pengunjung dapat meminjam buku di perpustakaan, membeli buku atau suvenir di toko buku hingga mencicipi sajian kopi Nusantara di kedai Kopi Petroek.
Bagi pengunjung yang belum puas menikmati Omah Petroek, terdapat fasilitas rumah panggung yang menjadi penginapan. “Harapan kami, setiap yang datang bisa membawa pulang sesuatu yang positif pulang dengan kondisi lebih segar dan terinspirasi,” ujar Antok. (aryasena)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....