Etalase Pariwisata, Hotel Didorong Perkuat Identitas Budaya Yogyakarta

  • 10 Jun 2026 07:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sinergi dan kolaborasi berbagai sektor seperti sektor pariwisata, hospitality, seni, dan industri kreatif penting dilakukan dalam memperkuat identitas Yogyakarta sebagai kota budaya. Hal tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan saat menjadi narasumber dalam talkshow dengan tema 'Kemajuan Seni dan Budaya Jogja Celebration: Culture and Local Experience' di Hotel Grand Rohan, Sabtu, 6 Juni 2026.

Wawan mengatakan, identitas menjadi hal terpenting bagi suatu daerah, termasuk di Yogyakarta dengan menghadirkan pengalaman budaya yang autentik sejak wisatawan pertama kali tiba, termasuk saat menginap di hotel. Menurutnya, identitas budaya seharusnya sudah bisa dirasakan melalui berbagai elemen, mulai dari desain bangunan, interior, musik pengiring, hingga keramahan pelayanan.

“Ketika tamu masuk ke hotel, fasadnya sudah menunjukkan nuansa Jogja. Setelah masuk, interiornya juga menghadirkan suasana Jogja. Musik gamelan, sapaan ‘Sugeng Rawuh’, hingga keramahan masyarakat menjadi pengalaman yang sangat dirindukan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara,” katanya.

Wawan menilai, hotel-hotel di Yogyakarta dapat menjadi etalase budaya dengan melibatkan seniman lokal untuk menampilkan karya-karya seni di ruang publik hotel maupun kamar tamu. Selain memperkuat identitas daerah, langkah tersebut juga memberikan ruang ekonomi bagi para pelaku seni.

“Harapan kami hotel-hotel di Jogja bisa menjadi role model. Menampilkan karya seniman lokal, melibatkan pelaku budaya setempat, sehingga budaya berjalan, ekonomi juga bergerak. Konsepnya adalah bela beli, saling menguatkan,” ucapnya.

Selain seni pertunjukan dan karya visual, Wawan juga menekankan, pentingnya pengembangan wisata berbasis budaya dan pengalaman lokal yang autentik. Salah satunya melalui gastronomi pariwisata, yaitu memperkenalkan makanan khas Yogyakarta secara lebih mendalam, mulai dari proses pembuatan, nilai budaya, hingga kandungan gizinya.

“Gastronomi bukan sekadar makanannya. Tetapi bagaimana proses pembuatannya, cerita di baliknya, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Ini yang harus terus kita eksplor agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang autentik tentang Jogja,” ujarnya.

Yogyakarta, lanjut Wawan, memiliki beragam potensi budaya yang dapat terus dikembangkan, mulai dari karawitan, wayang orang, seni tradisi. Bahkan diungkapkannya, potensi ini bisa dimunculkan dari berbagai aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Lebih lanjut Wawan juga menyoroti, keberadaan kampung-kampung wisata yang saat ini terus berkembang sebagai destinasi berbasis komunitas. Kampung wisata dinilai mampu menghadirkan pengalaman yang berbeda karena menawarkan kekhasan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

“Ini sangat menarik, kampung wisata memiliki potensi dan kekhasan yang dimiliki masing-masing kampung, dan ini terus kita kembangkan. Bahkan beberapa kampung wisata sudah dikenal secara nasional karena memiliki atraksi budaya yang unik dan otentik,” katanya, menambahkan.

Wawan menyampaikan, tren wisata saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada kunjungan destinasi, tetapi juga pengalaman. Karena itu berbagai inovasi seperti wisata tematik, jelajah kawasan heritage, pengalaman menjadi bagian dari budaya lokal, hingga kegiatan olahraga berbasis wisata budaya menjadi peluang besar untuk terus dikembangkan.

Wawan juga menegaskan, Yogyakarta dibangun dengan semangat gotong royong. Termasuk keberlanjutan pariwisata, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pelaku usaha, komunitas seni, akademisi, hingga masyarakat.

“Pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada dukungan dari sektor swasta, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Yogyakarta akan semakin komprehensif dan memiliki daya saing yang kuat,” ucapnya, mengungkapkan.

Wawan menambahkan, meskipun Kota Yogyakarta memiliki wilayah yang relatif kecil, yaitu sekitar 32,5 kilometer persegi, kota ini memiliki kekuatan besar pada kekayaan budaya, kreativitas masyarakat. Disamping itu juga memiliki suasana yang aman dan nyaman bagi wisatawan.

“Yang ingin terus kami bangun adalah kenyamanan dan rasa aman bagi siapa pun yang datang ke Yogyakarta. Ditambah dengan identitas budaya yang kuat, kearifan lokal yang tetap terjaga, dan ruang kolaborasi yang terbuka bagi semua pihak,” ujarnya, mengungkapkan.

Ketua penyelenggara, Endang Aprianto mengatakan podcast dan talkshow digelar untuk memberikan semangat kepada para pelaku seni. Disamping itu juga memperkenalkan dinamika kehidupan seni dan budaya Yogyakarta kepada masyarakat luas.

“Ini untuk menyemangati teman-teman dan untuk kemajuan seni budaya di Jogja. Dengan adanya podcast yang disiarkan secara langsung, masyarakat bisa melihat bahwa kehidupan seni dan budaya di Jogja selalu hidup dan terus bervariasi,” ucapnya, menyampaikan.

Talkshow tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran seni yang berlangsung selama tiga bulan. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti dan pecinta budaya sekaligus pelaku usaha, pendiri (founder) dari jaringan The Cabin Hotel, Handoko Setiawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....