Pakar UMY Dorong Pemerintah Lakukan Transformasi Industri

  • 11 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gejolak Geopolitik kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Namun, situasi tersebut juga menuntut langkah strategis pemerintah, untuk mewujudkan ketahanan ekonomi nasional.

Pakar Ekonomi Pembangunan UMY, Susilo Nur Aji Cokro Darsono menyebut ketidakpastian global akibat konflik Iran–Amerika Serikat menjadi momentum bagi Indonesia. Yaitu memperkuat diversifikasi pasar dan mempercepat transformasi industri.

”Sehingga agar kita tidak terlalu bergantung pada komoditas,” ucapnya, Sabtu, 10 April 2026. ”Konflik Iran menegaskan tingginya risiko energi secara global, karena sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati kawasan yang rentan konflik.”

Sehingga, gangguan yang terjadi pada wilayah tersebut sangat berdampak sistemik terhadap biaya energi dan logistik global. Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya biaya pengiriman dan perlambatan aktivitas manufaktur global.

Maka menurut Susilo, upaya ekspansi ke pasar nontradisional harus dijadikan prioritas para penentu kebijakan. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan pada pasar utama, yang sangat sensitif terhadap gejolak di level global.

”Diversifikasi tidak hanya memperluas peluang, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme mitigasi risiko,” katanya. ”Ini bukan lagi pilihan, namun sebuah keharusan struktural, di tengah terjadinya ketidakpastian global saat ini.”

Selain diversifikasi pasar, respons pemerintah perlu dilakukan melalui pendekatan kebijakan yang terintegrasi. Penanganan dampak konflik global juga perlu dirancang dalam beberapa horizon waktu agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....