Program MBG Jadi Sorotan Publik, Pakar UMY Beri Saran

  • 24 Jul 2026 12:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan, memicu kenaikan harga bahan pangan. Namun, Dosen Prodi Agribisnis UMY, Dinda Aslam Nurul Hida melihat, ada persoalan mendasar di sektor hulu pertanian.

”Seperti kesiapan produksi belum merata antar-komoditas, juga lemahnya posisi tawar petani,” katanya, Jumat, 24 Juli 2026. ”Kemudian, keterbatasan arus kas pelaku usaha pangan lokal.”

Selain itu menurut Dinda, kesiapan sektor pertanian secara nasional masih bersifat heterogen. Pada komoditas beras, misalnya, ketersediaan domestik relatif surplus dengan proyeksi produksi mencapai 38,6 juta ton dari total ketersediaan sebesar 47,1 juta ton.

Namun di satu sisi, harga eceran beras masih bertahan tinggi, yakni rata-rata Rp15.499 per kilogram. Sebab, harga gabah di tingkat petani telah melampaui asumsi pemerintah yang digunakan dalam penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Tantangan yang lebih kompleks justru berada pada subsektor peternakan unggas dan telur, sebagai penopang utama kebutuhan protein MBG,” ucapnya. ”Nilai Tukar Petani subsektor peternakan turun 1,85 persen pada Juni 2026.”

Hal ini menunjukkan, kenaikan biaya pakan impor, berlangsung lebih cepat dibandingkan peningkatan harga jual. Struktur rantai pasok protein hewani, masih butuh penguatan kapasitas, agar penyerapan MBG tidak mengurangi hak masyarakat umum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....