Setu Sinau di Malioboro, Cara Asyik Belajar Budaya Yogyakarta
- 06 Okt 2026 09:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Malioboro tidak hanya menjadi ruang bagi masyarakat untuk berjalan-jalan dan menikmati suasana Kota Yogyakarta. Setiap Sabtu pagi, kawasan pedestrian ini juga berubah menjadi ruang belajar budaya melalui program Setu Sinau.
Program yang diinisiasi Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta tersebut menghadirkan berbagai aktivitas seni dan budaya secara terbuka. Masyarakat dapat belajar sekaligus berinteraksi melalui kegiatan yang dikemas secara sederhana dan menyenangkan.
Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan Setu Sinau bertujuan memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat ketika berkunjung ke Malioboro.
“Setu Sinau ini sebenarnya kita ingin memberikan makna yang lebih dari sekadar orang berkunjung ke Malioboro itu tidak hanya jalan-jalan, duduk, tetapi juga punya nilai,” ujar Yetti saat ditemui di Setu Sinau kelas dolanan anak, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Beragam materi budaya diperkenalkan melalui program tersebut, mulai dari aksara Jawa, tari, musik, gamelan, dolanan anak, hingga tata busana. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung.
Pada kelas tari, misalnya, peserta belajar gerakan secara bersama-sama di ruang terbuka. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan srawung dengan peserta lainnya.
“Tidak hanya bicara masalah tariannya saja, tetapi bagaimana kemudian menari itu juga ternyata butuh kebersamaan, srawung,” kata Yetti.
Malioboro Jadi Ruang Belajar Budaya
Setu Sinau menjadi salah satu cara Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mendekatkan budaya kepada masyarakat. Budaya tidak hanya diperkenalkan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain seni dan tradisi, program tersebut turut mengenalkan Malioboro dari sisi sejarah, budaya, dan tinggalan arsitektural. Dengan demikian, pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati suasana kawasan tersebut, tetapi juga membawa pulang pengalaman dan pengetahuan tentang Yogyakarta.
“Kita ingin orang yang berkunjung ke Malioboro punya pengalaman. Ada pengalaman tentang budaya Jogja, tentang budaya Jawa, yang mereka bawa begitu dan menjadi lebih terkenang lagi,” kata Yetti.
Setu Sinau telah berlangsung sejak awal 2026 dan digelar setiap Sabtu pukul 07.00-09.00 WIB. Kelas-kelas pembelajaran tersebar di area pedestrian mulai dari depan Grand Hotel De Djokja hingga Plaza Malioboro.
Masyarakat dapat datang langsung untuk mengikuti kegiatan. Informasi jadwal dan materi pembelajaran juga tersedia melalui kanal informasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kegiatan ini gratis dan terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, misalnya, berbagai kelas yang digelar meliputi Sinau Aksara Jawa, Sinau Njoged, Sinau Dolanan Anak, Sinau Nggambar, Sinau Macapat, Sinau Nggamel, Sinau Ngadi Busana, Sinau Wayang Upcycle, Sinau Paduan Suara, dan Sinau Drum.
Kegiatan tersebut juga diawali dengan penampilan 1.000 penari dari Kampung Menari. Namun, jenis kelas yang tersedia dapat berbeda setiap pekan sesuai dengan program yang dihadirkan.
Libatkan Sanggar Seni dan Budaya
Tidak hanya menjadi ruang belajar bagi masyarakat, Setu Sinau juga membuka kesempatan bagi pelaku seni dan budaya untuk berbagi pengetahuan.
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta melibatkan sanggar-sanggar seni budaya sebagai instruktur maupun pengajar. Di Kota Yogyakarta terdapat sekitar 470 sanggar yang berpotensi terlibat dalam ruang pembelajaran tersebut.
Keterlibatan sanggar memberikan ruang bagi pelaku seni untuk berekspresi sekaligus memperkenalkan keterampilan mereka kepada masyarakat.
“Untuk sanggar-sanggar, mereka lebih punya media untuk ekspresi supaya mereka juga, apa yang kemudian ingin mereka kontribusikan kepada masyarakat itu kita berikan ruang-ruang,” ujar Yetti.
Konsep pembelajaran yang diterapkan juga dibuat terbuka dan mudah diikuti. Masyarakat yang belum pernah mengenal seni atau budaya tertentu tetap dapat bergabung dan mencoba secara langsung.
Bagi Dinas Kebudayaan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang publik seperti Malioboro dapat memiliki fungsi yang lebih luas. Selain menjadi tempat berkunjung, Malioboro dapat menjadi ruang komunikasi, srawung, pertunjukan, sekaligus belajar bersama.
Masyarakat Yogyakarta juga didorong untuk ikut berbagi pengetahuan budaya yang berkembang di lingkungan masing-masing. Dengan begitu, kekayaan budaya yang tumbuh di kampung-kampung dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
“Jadi punya banyak teman untuk kemudian srawung bersama, tidak melakukan hal-hal yang tidak baik,” ucap Yetti.
Kegiatan Setu Sinau yang didukung Dana Keistimewaan DIY tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan aktivitas positif di ruang publik. Masyarakat dapat datang ke Malioboro, memilih kegiatan yang ingin dipelajari, dan membawa pulang pengalaman baru.
Wayang Upcycle Jadi Pengalaman Baru
Pengalaman mengikuti Setu Sinau juga dirasakan Meisya Nur warga Prambanan. Ia awalnya datang ke Malioboro untuk berjalan-jalan. Namun, perhatiannya kemudian tertuju pada kelas Wayang Upcycle sehingga memutuskan untuk ikut mencoba.
Dalam kelas tersebut, peserta tidak hanya membuat wayang, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai tokoh-tokoh wayang. Peserta dapat memilih tokoh yang ingin dibuat menggunakan bahan limbah botol plastik.
Botol plastik yang digunakan sebelumnya telah diolah menggunakan heat gun hingga menjadi lembaran datar. Peserta kemudian mengikuti pola tokoh wayang menggunakan solder panas yang telah disediakan.
Bagi Meisya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru. Ia baru mengetahui bahwa limbah botol plastik dapat diolah menjadi karya seni yang menarik sekaligus bernilai.
“Baru pertama kali coba, ternyata menarik. Kita juga dijelaskan tentang tokoh-tokoh wayangnya dan bisa pilih mau membuat tokoh yang mana. Ternyata botol plastik bisa dibuat jadi wayang,” ucap Meisya.
Hasil karya tersebut juga dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari kunjungan ke Malioboro. Kelas Wayang Upcycle yang dihadirkan Bank Sampah Pa-Q-One dari kawasan tepi Sungai Winongo itu mempertemukan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui pengolahan limbah botol plastik menjadi sosok wayang, peserta tidak hanya belajar membuat karya seni. Mereka juga mendapatkan pengalaman tentang bagaimana barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.
Dengan konsep tersebut, Setu Sinau menunjukkan bahwa menikmati Malioboro tidak harus berhenti pada apa yang terlihat di sepanjang jalan. Dari ruang pedestrian yang sama, masyarakat dapat belajar budaya, mencoba keterampilan baru, bertemu orang lain, sekaligus membawa pulang cerita tentang Yogyakarta.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....