Menyelami Bermukun Se-Borneo 2026: Seni Elegan Suku Melayu Bertutur Lisan
- 01 Okt 2026 13:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Di balik ramainya alunan gendang dan gesekan biola, tradisi bermukun menjadi tradisi yang mempertemukan tiga negara dalam satu tudung Melayu yang sama yakni, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dalam pagelaran “Bermukun Se-Borneo 2026” yang diselenggarakan di Yogyakarta, Kamis, 1 Oktober 2026. Tidak hanya sekedar menjadi hiburan pentas, bermukun menjadi wadah bertutur kata yang santun dan menyenangkan.
Keberadaan Bermukun banyak melekat pada kehidupan bangsa Melayu karena telah mengakar sebagai warisan leluhur yang terus dibawa dalam berbagai kegiatan penting masyarakat, mulai dari acara pernikahan sampai pada festival-festival kerakyatan. Ketua delegasi Malaysia yang juga Pengarah Penyiaran Sabah, Mohd Yusni Bin Mohamed Ali, menegaskan bahwa bermukun merupakan warisan nenek moyang yang masih terus dilanggengkan sampai saat ini.
“Sebenarnya bermukun ini adalah salah satu kesinambungan daripada nenek moyang kita dahulu. Jadi dia antara nyanyian dan mempantun. Perkara ini perlu kita teruskan supaya tradisi budaya bangsa kita terus kekal ke anak cucu kita nanti.” Kata Mohd Yusni saat diwawancarai.
Bermukun menjadi ciri khas dari bangsa Melayu karena filosofinya yang bertutur halus, sebagaimana masyarakat Melayu menjunjung tinggi kesopanan sehingga dimanfaatkanlah bermukun sebagai cara yang elegan untuk menegur atau memberi nasihat tanpa menyinggung perasaan. Dalam penampilannya, bermukun dilakukan dengan pemantun yang beradu spontanitas dengan Mak gendang (penabuh gendang). Ketua delegasi dari Brunei Darussalam, Noor Hawadah binti Ramle, menjelaskan bahwa keunikan bermukun terletak pada penyampaian pesan dan nasihat secara sopan dan santun.
“Dalam penyampaian bermukun, kita akan coba usik-mengusik (menasehati) secara halus melalui bermukun dan dalam bermukun itu kita berpantun dan dalam penyampaian itu kita coba menyampaikan segalanya secara halus, tanpa menggunakan kata-kata yang salah.”Ujarnya.
Delegasi dari Malaysia juga menambahkan bahwa bermukun menjadi budaya bersama yang punya nilai-nilai keunikan.
“Nilai keindahannya ada pada keindahan bahasa, susunan lagu yang cantik, gabungan tiga borneo, gabungan dengan eratnya hubungan ini, menambahkan lagi hubungan silaturahmi antara tiga-tiga negara,"ujarnya.
Sementara itu menurut pemantun sekaligus MC dari delegasi Indonesia, Ibeng, menyebutkan bahwa bermukun mempunyai konsep dasar yang mirip seperti interaksi percakapan sehari-hari.
“Kita sebenarnya seperti berbicara, seperti berlawan dengan kami mau memantunkan di Mak gendangnya (pemukul gendang). Mereka yang akan balas,"ucap Ibeng.
Sebagai warisan bersama di Kawasan Borneo, ini menjadi kali pertama Bermukun Se-Borneo ini diselenggarakan di luar wilayah Borneo, yakni di Yogyakarta. Hal ini dilakukan karena Yogyakarta dianggap sebagai kota budaya dan kota pelajar yang tentunya ada banyak universitas dan tentunya ada banyak keberagaman yang masuk di Yogyakarta.
Kegiatan bermukun ini juga ditampilkan untuk menunjukkan bahwa pantun dan tutur lisan tidak hanya bisa sebagai budaya di masa lalu, namun juga bisa menjadi keberlanjutan nafas kebudayaan Melayu yang dapat terus hidup dan dibawa turun-temurun ke generasi berikutnya. Melalui kolaborasi Bermukun se-Borneo juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan ikatan silaturahmi lintas negara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....