Program MENCARE UNY Dorong Kemandirian Menstruasi Murid Putri SLB Prambanan

  • 18 Sep 2026 20:59 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Edukasi tentang menstruasi tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan, tetapi juga perlu memastikan setiap murid mampu merawat dirinya secara mandiri.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program Menstrual Care Education (MENCARE) menghadirkan pembelajaran higiene menstruasi yang adaptif bagi murid putri dengan hambatan intelektual di SLB Bhakti Pertiwi Prambanan.

Program tersebut dirancang untuk membantu murid memahami menstruasi sekaligus membangun keterampilan perawatan diri secara bertahap. Tim MENCARE diketuai oleh Afifah Haya Nur Karimah, dari S1 Pendidikan IPA, dengan anggota Amelia Kusuma Dewi dari S1 Pendidikan Luar Biasa, Salma Maulidia Setiyanto dari S1 Matematika, Tsabitah Sarah dari S1 Teknologi Informasi, dan Nurmalita Hasna Padistyan dari S1 Biologi. Pelaksanaan program didampingi oleh dosen pendamping Dr. Sukinah, M.Pd.

Afifah Haya Nur Karimah menjelaskan bahwa MENCARE dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan dukungan setiap murid. Menurutnya, pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan agar murid mendapatkan pengalaman langsung dalam mempraktikkan keterampilan higiene menstruasi.

“Melalui MENCARE, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membuat murid memahami apa itu menstruasi, tetapi juga membantu mereka belajar merawat diri secara bertahap. Kami menyesuaikan media dan metode pembelajaran dengan kemampuan masing-masing murid, sehingga proses menuju kemandirian dapat berlangsung secara nyaman dan terarah,” ujar Afifah, Rabu 16 September 2026.

Kebutuhan tersebut menjadi dasar pengembangan MENCARE. Sebagian murid putri dengan hambatan intelektual masih membutuhkan pendampingan dalam memahami menstruasi dan melakukan perawatan diri selama menstruasi. Karena itu, program dirancang tidak hanya berupa edukasi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengikuti demonstrasi, simulasi, hingga praktik secara langsung.

Pembelajaran MENCARE dilaksanakan melalui lima tahapan, yaitu Know Your Body, Understand & Care, Practice Smart Care, Be Independent, dan Healthy Habit Builder. Materi disampaikan menggunakan berbagai media yang disesuaikan dengan karakteristik murid, seperti buku saku, flashcard, poster, video edukasi, dan website MENCARE.

Salah satu media yang mendapatkan apresiasi adalah buku saku MENCARE. Dokter dan akademisi bidang pendidikan kesehatan disabilitas Dr. dr. Atien Nur Chamidah, M.Dis.St., menilai buku tersebut memiliki keunggulan karena menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana, visual yang menarik, serta langkah-langkah praktis.

Media tersebut dinilai dapat membantu murid memperoleh pengetahuan sekaligus mendukung proses pembelajaran menuju kemandirian.Dalam pelaksanaannya, pendampingan diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid.

Ketika murid mulai mampu melakukan keterampilan secara mandiri, intensitas bantuan dikurangi secara bertahap. Pendekatan ini penting karena setiap murid memiliki kemampuan dan kebutuhan dukungan yang berbeda.

Kepala SLB Bhakti Pertiwi Prambanan, Sudarmi, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa program MENCARE memberikan perubahan dalam proses pendampingan murid. “Sebelum ada MENCARE, kami masih mengalami kesulitan dalam mendampingi anak-anak ketika menstruasi. Setelah mengikuti program ini, anak-anak mulai lebih memahami dan mampu melakukan perawatan diri dengan lebih mandiri,” ucapnya..

Perubahan tersebut terlihat dalam sejumlah keterampilan higiene menstruasi. Murid yang sebelumnya masih membutuhkan banyak bantuan mulai mampu melakukan beberapa tahapan secara lebih mandiri, antara lain penggunaan, penggantian, dan pembuangan pembalut dengan benar.

Upaya membangun kemandirian juga tidak berhenti di lingkungan sekolah. Orang tua turut dilibatkan dalam proses evaluasi untuk mengetahui penerapan keterampilan yang telah dipelajari murid dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan orang tua diharapkan dapat memperkuat pembiasaan higiene menstruasi di lingkungan rumah.

Selain murid, MENCARE juga memberikan penguatan kapasitas kepada guru sebagai mitra pelaksana program. Guru mendapatkan pelatihan mengenai materi, penggunaan media, serta tahapan pelaksanaan MENCARE. Setelah mengikuti pelatihan, guru juga memperoleh kesempatan untuk melakukan praktik mengajar secara mandiri sehingga semakin siap menerapkan edukasi higiene menstruasi sesuai karakteristik murid.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, pendampingan langsung oleh tim PKM-PM ditutup dengan penyerahan media edukasi dan Buku Pedoman Mitra MENCARE kepada pihak sekolah. Tim juga membentuk pengelola serta membagi peran untuk mendukung keberlangsungan pelaksanaan program setelah masa pendampingan mahasiswa berakhir.

Melalui MENCARE, Tim PKM-PM UNY berharap pengalaman yang telah diterapkan di SLB Bhakti Pertiwi Prambanan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan sekaligus menjadi inspirasi bagi SLB lain yang menghadapi kebutuhan serupa, khususnya dalam memberikan pendampingan higiene menstruasi bagi murid dengan hambatan intelektual.

Program MENCARE juga diharapkan dapat menjadi gambaran bagi sekolah lain dalam mengembangkan edukasi kesehatan yang adaptif, dengan memperhatikan karakteristik, kemampuan, serta kebutuhan dukungan masing-masing murid.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....