Inovasi Circular Farming UGM Hadirkan RAS Akuaponik di Kulon Progo

  • 17 Sep 2026 11:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tantangan ketahanan pangan di tingkat perdesaan dijawab oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penerapan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) berbasis circular farming. Menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Amrih Rahayu di Kalurahan Jatisarono, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, tim akademisi UGM memperkenalkan model budidaya terintegrasi yang hemat sumber daya dan ramah lingkungan.

Program pengabdian masyarakat ini berfokus pada efisiensi pemanfaatan ruang dan air melalui pemasangan dua unit instalasi RAS akuaponik yang mencakup empat kolam pemeliharaan. Unit pertama didedikasikan untuk budidaya lele berkapasitas 800 ekor, sementara unit kedua menampung 600 ekor ikan nila. Uniknya, air kaya nutrisi dari kolam ikan tersebut dialirkan langsung untuk menyokong pertumbuhan berbagai komoditas sayuran hijau, seperti pakcoy, selada air, dan bayam, dalam satu ekosistem instalasi yang sama.

Ketua Tim UGM, Dr. drh. Artina Prastiwi, M.Sc., menekankan bahwa keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada efisiensi siklus ekologisnya.

"Konsep yang kami terapkan tidak hanya berfokus pada produksi ikan, tetapi juga memanfaatkan limbah air dalam sistem budidaya untuk mendukung pertumbuhan sayuran hijau. Dengan demikian, satu instalasi dapat menghasilkan ikan dan sayuran secara bersamaan," ujar Artina.

Program pengabdian masyarakat ini berfokus pada efisiensi pemanfaatan ruang dan air melalui pemasangan dua unit instalasi RAS akuaponik yang mencakup empat kolam pemeliharaan.(Foto:Artina)

Dari sudut pandang teknis perikanan, Dr. Desy Putri Handayani, M.Sc., menjelaskan bahwa teknologi RAS meminimalisasi pemborosan air lewat sistem filtrasi berlapis. Air pemeliharaan ikan disaring dari kotoran secara berkala sehingga kualitasnya tetap terjaga untuk disirkulasikan kembali.

"Dalam sistem RAS, air dari kolam budidaya tidak langsung dibuang, tetapi dialirkan melalui rangkaian filtrasi untuk menyaring kotoran dan menjaga kualitas air sebelum kembali ke kolam. Dengan sistem sirkulasi tersebut, penggunaan air menjadi lebih hemat karena air tidak perlu sering diganti dan dapat digunakan hingga masa panen, dengan tetap dilakukan pemantauan dan penambahan air sesuai kebutuhan akibat penguapan maupun kondisi budidaya," ujar Desy kepada RRI, Selasa 15 September 2026.

Sementara itu, penguatan dari aspek kemandirian masyarakat disampaikan oleh anggota tim pengabdian dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. Yudhi Ratna Nugraheni, M.Sc., Ph.D. Ia menyatakan bahwa orientasi program ini bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan membangun kapasitas warga agar cakap mengelola teknologi secara berkelanjutan.

"Kami ingin mengembangkan model budidaya yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga efisien dalam penggunaan sumber daya. RAS akuaponik-budikdamber ini kami kembangkan sebagai bagian dari konsep circular farming yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat di Jatisarono," kata Yudhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....