Membentuk Karakter dan Prestasi Siswa lewat Subasita dan Unggah-Ungguh
- 13 Sep 2026 09:29 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Soal etika, tata krama, unggah-ungguh dan subasita dinilai menjadi fondasi utama dalam membina karakter para siswa di lingkungan sekolah. Keberadaan nilai-nilai kesopanan tersebut dipandang tidak sekadar formalitas budaya, melainkan syarat mendasar agar proses pendidikan akademik dapat diterima dengan baik oleh peserta didik.
Menurut Kepala SMP Negeri 1 Sleman, Drs. Agus Setiyadi, M.Pd., dalam acara Pendopo di Pro4 RRI Yogyakarta menjelaskan, subasita berkaitan erat dengan tata krama sikap tubuh dan tingkah laku, sedangkan unggah-ungguh berfokus pada tata krama berbahasa. Menurutnya, penerapan kedua unsur ini harus berjalan selaras agar sopan santun siswa dapat tercermin secara utuh.
Ia menyebut melalui pembiasaan subasita dan unggah-ungguh yang konsisten, lingkungan sekolah diharapkan mampu mencetak generasi muda yang berkarakter, santun, dan tetap menjunjung tinggi nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Agus menegaskan etika dan tata krama tidak boleh tergeser oleh sekadar kejar target nilai akademis semata.
"Anak-anak akan jauh lebih mudah menerima pelajaran akademis ketika karakter dan budi pekertinya sudah terbentuk terlebih dahulu," ujar Agus.
Ia menekankan bahwa tugas guru tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga secara konsisten mengingatkan dan membimbing hal-hal kecil terkait kesopanan siswa.
Agus mengatakan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan gawai (gadget), tantangan menjaga etika interaksi langsung menjadi semakin nyata. Fenomena kehidupan modern sering kali menunjukkan bahwa gawai dapat mendeketkan yang jauh, tetapi justru menjauhkan yang dekat.
Guna mengantisipasi hal tersebut, sekolah menerapkan aturan pengelolaan gawai yang bijak. Langkah ini terbukti efektif mendorong siswa untuk kembali berinteraksi, berdiskusi, dan bersosialisasi secara langsung saat jam istirahat, dibanding sibuk dengan layar gawai masing-masing.
"Penggunaan HP tetap kami wadahi karena ini memang era digital, namun kita harus bisa menempatkannya secara bijak agar pembelajaran dan waktu istirahat tetap berkualitas," ujar Agus.
Menurutnya Melalui sinergi antara guru di sekolah dan orang tua di rumah, pembiasaan etika dan unggah-ungguh diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keagungan budi pekerti.
Ia berharap melalui penguatan pendidikan karakter dan pembiasaan etika sehari-hari ini, para siswa tidak hanya unggul dan pintar secara akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang santun, berbudaya, serta siap menjadi bagian dari masyarakat yang beretika tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....