Gunungkidul Buka Peluang Kerjasama Salurkan Tenaga Kerja ke Korsel

  • 31 Agt 2026 10:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai mematangkan rencana kerja sama dengan pemerintah daerah di Korea Selatan untuk membuka akses kerja bagi masyarakat melalui program tenaga kerja musiman. Skema tersebut menyasar sektor pertanian dan perikanan budidaya atau aquaculture.

Rencana kerja sama itu dibahas dalam audiensi yang berlangsung di Rumah Dinas Bupati Gunungkidul, Kapanewon Wonosari, Minggu 30 Agustus 2026. Pertemuan dihadiri Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, perwakilan asosiasi kerja sama dari Korea Selatan Han Sang Jae dan Bang Hyun Sig, serta Prof. Dr. Bambang Waluyo Hadi Eko Prastono dari Universitas Diponegoro.

Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa Korea Selatan masih membutuhkan tenaga kerja musiman dalam jumlah besar. Masyarakat Gunungkidul nantinya berpeluang mengikuti program seasonal worker dengan masa kontrak sekitar delapan bulan.

Perwakilan Korea, Han Sang Jae mengatakan, kerja sama akan diarahkan menggunakan skema Government-to-Government (G2G) atau kerja sama antarpemerintah daerah. Skema tersebut dinilai penting untuk memastikan proses penempatan tenaga kerja berlangsung secara legal, aman, dan transparan.

“Dari sisi pendapatan, pekerja berpotensi memperoleh upah sekitar Rp30 juta per bulan. Dengan masa kerja delapan bulan, penghasilan bruto yang diperoleh seorang pekerja diperkirakan mencapai sekitar Rp240 juta,” ujarnya.

Untuk tahap awal, Gunungkidul mendapat rencana kuota sebanyak 100 pekerja. Jumlah tersebut akan dibagi menjadi 50 orang untuk sektor pertanian dan 50 orang untuk sektor perikanan.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menilai program tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk membuka lapangan kerja bagi generasi muda, khususnya lulusan SMA dan SMK yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Menurutnya, Gunungkidul tahun ini memiliki sekitar 8.700 lulusan SMA dan SMK. Dari jumlah tersebut, sekitar 92 persen lulusan SMK dan 44 persen lulusan SMA tidak meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut, kata Endah, perlu diikuti dengan penyediaan peluang kerja maupun pengembangan keterampilan agar para generasi muda memiliki aktivitas ekonomi yang produktif.

“Langkah ini juga menjadi salah satu upaya untuk mencegah generasi muda terjerat masalah sosial seperti judi online dan ketergantungan pada bantuan sosial,” ujar Endah.

Untuk mempersiapkan calon pekerja, pemerintah daerah juga merancang pelatihan bahasa dan budaya Korea. Universitas Diponegoro akan dilibatkan dalam memberikan pembekalan bahasa Korea sekaligus penguatan etos kerja sebelum para peserta diberangkatkan.

Tidak hanya berorientasi pada keberangkatan, Pemkab Gunungkidul juga menyiapkan skema pendampingan setelah pekerja kembali ke Indonesia. Penghasilan yang diperoleh selama bekerja di Korea diharapkan dapat digunakan sebagai modal usaha produktif maupun dikembangkan melalui koperasi.

Dengan demikian, manfaat program diharapkan tidak berhenti pada pendapatan selama bekerja di luar negeri, tetapi dapat menjadi modal untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga setelah kembali ke Gunungkidul.

Pemerintah daerah juga akan melakukan pengawasan terhadap kepatuhan peserta terhadap kontrak kerja. Hal ini dilakukan untuk mencegah pekerja melarikan diri maupun berpindah perusahaan secara ilegal yang dapat berdampak pada keberlanjutan kerja sama dengan pihak Korea Selatan.

Endah menegaskan, kerja sama tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mengirim sebanyak mungkin tenaga kerja ke luar negeri. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan menjadi sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia Gunungkidul.

“Keberhasilan kerja sama ini bukan diukur dari berapa banyak yang berangkat, tapi seberapa besar mereka memperoleh kompetensi dan pengalaman internasional untuk meningkatkan kesejahteraan daerah asal,” ucapnya.

Tahapan seleksi dan administrasi peserta rencananya mulai dipersiapkan dalam waktu dekat. Keberangkatan ditargetkan berlangsung sekitar Maret atau April mendatang dengan menyesuaikan musim tanam di Korea Selatan.

Pemkab Gunungkidul juga membuka kemungkinan bagi kabupaten lain di wilayah DIY untuk ikut bergabung dalam kerja sama tersebut. Keterlibatan daerah lain diharapkan dapat memperkuat posisi tawar pemerintah daerah dalam menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah di Korea Selatan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....