Tingkatkan Perekonomian, Unair Latih Disabilitas dan Perempuan Terdampak
- 16 Agt 2026 17:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo - Kemandirian ekonomi kelompok masyarakat rentan coba diwujudkan di wilayah Nanggulan dengan pelatihan pembuatan produk sabun cair, di Balai Kapanewon Nanggulan, Sabtu, 15 Agustus 2026. Pelatihan pembuatan Sabun cair Vocabyu dengan bahan dasar buah alpukat dengan peserta kelompok perempuan berdampak serta kaum difabel.
Pelatihan ini merupakan kerjasama antara PT Pertamina Gas Negara, PT Angkasa Pura Indonesia, PT KAI Pariwisata, Paniradya Keistimewaan, Universitas Airlangga (Unair) dan Agro Nanggulan. Pelatihan ini merupakan penegasan komitmen dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui program "Unair Berdampak".
Guru Besar Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Esti Yunitasari S.Kp, M.Kes, dalam pelatihan ini, didampingi Dr. Yuni Priyandani, S.Si., Sp.FRS., Apt , Dr. Neny Purwitasari, S.Farm., M.Sc., Apt dan Mahasisiwi dari keperawatan dan farmasi.
Guru Besar Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Esti Yunitasari, menjelaskan, Unair memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat.
"Melalui pelatihan ini, kita memberikan perhatian khusus kepada teman-teman kita yang sangat istimewa (kaum difabel) serta kaum perempuan agar mereka dapat lebih berdaya," ucapnya.
Esti menekankan pentingnya menghargai kaum difabel bukan atas dasar rasa kasihan, melainkan dengan memberikan ruang dan apresiasi terhadap hasil karya mandiri mereka. Melalui pelatihan tersebut, Unair setidaknya langsung berkontribusi pada enam poin SDGs sekaligus, termasuk pengentasan kemiskinan (SDGs 1), pertumbuhan ekonomi (SDGs 8), industri dan inovasi (SDGs 9), serta kesetaraan gender (gender equality).
Esti menjelaskan, alpukat dipilih sebagai bahan baku didasarkan pada melimpahnya potensi lokal di daerah tersebut. Unair melihat adanya peluang besar untuk mengoptimalkan alpukat yang tidak terserap ke pasaran agar tetap memiliki nilai ekonomis tinggi.
Berdasarkan kajian dan pengujian laboratorium yang telah dilakukan di Fakultas Farmasi Unair, alpukat tidak hanya kaya akan nutrisi untuk dikonsumsi, tetapi juga memiliki kandungan yang sangat baik bagi kesehatan kulit jika diolah menjadi produk kosmetik.
Prof. Esti menegaskan bahwa inovasi olahan herbal yang dihasilkan oleh kelompok penyandang disabilitas (difabel) memiliki potensi ekonomi dan kesehatan yang sangat besar.
“Sabun yang kita hasilkan ini, mudah-mudahan di kemudian hari ada produk kecantikan lainnya yang bisa dihasilkan oleh ibu-ibu dan tim dari Fakultas Farmasi untuk bersamanya mendampingi teman-teman semuanya, khususnya dalam mengembangkan program hilirisasi olahan alpukat ini,” ujarnya.
Meski produk fisik sabun alpukat karya kelompok difabel ini telah berhasil diproduksi dengan hasil yang sangat baik, Prof. Esti meliha6 satu tantangan besar yang kini menjadi 'Pekerjaan Rumah' (PR) utama tim peneliti dan pendamping, yakni pengurusan legalitas produk secara formal.
Menurutnya, kesadaran konsumen di era modern saat ini sudah sangat tinggi. Pasar tidak hanya melihat estetika atau manfaat produk semata, melainkan mengedepankan aspek keamanan serta kepastian legalitas publik.
“Harapan kita memang produk ini bisa dengan mudah masuk ke pasaran. Sebetulnya sudah ada teman-teman yang menggandeng untuk melakukan marketing. Akan tetapi, mereka bertanya: apakah produk ini sudah mempunyai legalitas? Sertifikasi Halal misalnya, P-IRT misalnya, atau izin BPOM misalnya?” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa tanpa jaminan legalitas formal, peluang produk untuk menembus rantai pasok modern, retail nasional, hingga pasar ekspor akan menjadi sangat terbatas dan berisiko tinggi.
“Kami sadar bahwa tanpa legalitas, produk kita akan berisiko besar terhadap kepercayaan pasar (market trust), yang pada akhirnya membuat peluang pasarnya menjadi rendah. Oleh karena itu, kita berupaya secepat mungkin mengurus legalitas tersebut,” katanya.
Prof. Esti menegaskan bahwa secara kualitas ilmiah dan formulasi medis, produk sabun alpukat Vocabyu tidak perlu diragukan lagi. Tim pakar dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, telah melakukan serangkaian uji coba formula laboratorium secara berulang kali untuk memastikan produk aman digunakan oleh masyarakat luas.
“Uji coba formulasi produk ini sudah dilakukan berkali-kali di laboratorium Fakultas Farmasi Unair. Teman-teman farmasi sudah menyampaikan bahwa bahan-bahan kimia yang digunakan adalah bahan yang memang diperbolehkan dan sangat aman untuk kulit. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Untuk mempercepat langkah komersialisasi dan legalitas, Prof. Esti menyambut hangat kehadiran pemangku kepentingan dan mitra strategis yang mendukung pelatihan tersebut. Kehadiran para pihak ini diharapkan mampu membuka jalan bagi sinergi lintas sektor dalam pemasaran serta fasilitasi legalitas hukum.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Esti menyampaikan apresiasi dan laporan resmi mengenai kesiapan infrastruktur produksi. Kelompok difabel binaan saat ini telah memiliki Rumah Produksi mandiri berkat fasilitasi dan kepedulian dari Bapak Pardal, salah satu orang tua dari anggota kelompok difabel.
Berdasarkan hasil survei lokasi dan diskusi tim ahli Unair, fasilitas rumah produksi tersebut dinyatakan telah memenuhi salah satu syarat utama standar higienitas kementerian kesehatan dan BPOM, yaitu terpisah secara penuh dari kegiatan rumah tangga harian.
“Kami haturkan terima kasih kepada Bapak Pardal yang menyediakan tempat produksi secara gratis. Kemarin tim kami sudah survei lokasi dan berdiskusi. Hasilnya, tempat ini sangat layak untuk proses legalisasi P-IRT maupun BPOM karena bangunan produksi sudah terpisah dari area rumah tangga. Ini langkah awal yang sangat positif,” ujarnya.
Prof. Dr. Esti Yunitasari mengajak seluruh tim dan mitra pendamping untuk tidak ragu bermimpi besar. Ada visi jangka panjang pembentukan kawasan "Kulon Progo Inclusif Beauty Village" (Desa Kecantikan Inklusif Kulon Progo) sebagai pusat pemberdayaan difabel berbasis industri kecantikan alami.
“Bolehkah kita bermimpi besar? Sangat boleh, karena dengan keyakinan yang besar, hasil yang kita raih tentu akan lebih besar. Visi kita dari Universitas Airlangga adalah mewujudkan Kulon Progo sebagai Inclusif Beauty Village, tempat di mana teman-teman difabel menjadi aktor utama pemberdayaan ekonomi yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Pembina Agro Nanggulan, Purdiyanta, mengapresiasi dukungan dari tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar, yakni InJourney, KAI (Kereta Api Indonesia), dan PGN (Perusahaan Gas Negara).
“Alhamdulillah, kehadiran tiga BUMN besar ini mewujudkan bahwa bantuan yang telah mereka berikan sejak tahun 2022 terus berkelanjutan hingga saat ini,” ujarnya.
Purdiyanta menjelaskan, pemilihan sabun cair sebagai fokus pelatihan dilandasi oleh beberapa pertimbangan, seperti melimpahnya Bahan Baku Lokal, Kebutuhan Pasar yang Luas dan tren Estetika dan Perawatan Kulit.
“Kita ingin memastikan bahwa produk yang dibuat bisa terserap dengan baik di masyarakat. Sabun cair ini sangat mendukung tren kecantikan saat ini dan sangat aman untuk kulit,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....