Makna Beragama di Era Digital
- 30 Agt 2026 10:32 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Sekarang ini hampir semua orang di dunia tidak lepas dari gadget. Teknologi memudahkan manusia untuk memperoleh, mengolah, dan membagikan informasi.
Digitalisasi teknologi yang dinikmati sekarang membuahkan banyak hal positif yang bermanfaat untuk membuat kehidupan manusia lebih berkualitas dan bahagia. “Namun banyak riset memberikan temuan jika ledakan informasi ternyata berdampak negatif seperti stress, depresi, dan mental illness,” ucap Ustadzah Prof. Dr. Hj. Yulia Nasrul Latifi, M.Ag dalam Mutiara Pagi Minggu, 30 Agustus 2026.
Agama menawarkan satu nilai penting yang bisa membimbing manusia untuk menjadi lebih sehat di era digitalisasi teknologi sekarang ini. Agama sebagai landasan iman agar manusia tetap bisa berselancar di dunia teknologi dengan tetap memiliki kekuatan dan kesehatan mental.
Agama merupakan fenomena yang sudah sangat tua. Dari hasil penelitian arkeologis usia agama yaitu sekitar 70.000 tahun yang lalu. Agama-agama besar dunia seperti Hindu, Buddha, kemudian Yahudi, Nasrani, Islam di Timur sudah ada jauh sebelum era digital ini.
Agama adalah penuntun hidup manusia. Sehingga agama hakikatnya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.
Islam menekankan bahwa Islam hadir untuk rahmat bagi semesta alam. Untuk itu dengan adanya teknologi jangan sampai melumpuhkan nilai-nilai kemanusiaan, membuat manusia bercerai-berai, semakin menderita, dan sebagainya.
Sebagai manusia beragama harus bisa bijak dalam mengakses dan menyebarkan konten yang positif dan bermanfaat. Mendengarkan tausiyah, menggali, dan belajar agama melalui laman digital.
Pengguna teknologi juga harus toleran. Bisa menghargai perbedaan dan membangun kerukunan antar umat beragama. Jangan sampai sebaliknya. Seperti tertuang dalam ayat Alquran yang artinya manusia itu adalah umat yang satu.
Selanjutnya dalam menggunakan teknologi harus bertanggungjawab. Bisa menjaga perkataan di ruang digial, menghindari penyebaran informasi hoaks dan ujaran kebencian. Kehadiran agama selalu menata tentang etika bersosial. Dalam Alquran dijelaskan : Wahai umat yang beriman. Janganlah kalian menghina suatu kaum atas kaum yang lain. “Sangat mungkin yang kamu hina itu jauh lebih baik daripada kamu yang menghina,” ucap Prof Yulia Nasrul menutup tausiyahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....