Haedar Nashir Ingatkan Umat Terus Mencontoh Keteladanan Nabi Muhammad
- 27 Agt 2026 23:45 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk mengaktualisasikan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata. Menurutnya, Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai seremonial keagamaan, tetapi harus menjadi jalan untuk menegakkan moral publik dan memperkuat praksis kemanusiaan.
Haedar mengatakan, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengambil nilai dan keteladanan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah atau teladan terbaik dalam kehidupan.
“Perayaan Maulid itu harus membekas dan mewujud dalam kehidupan umat yang merayakannya dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah yang luhur,” ujar Haedar, Selasa, 25 Agustus kemarin.
Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad tidak hanya relevan dalam kehidupan personal, tetapi juga dalam berbagai urusan muamalah-dunyawiyah, baik di tingkat keumatan, kebangsaan, maupun kemanusiaan semesta yang berorientasi pada rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, Haedar mendorong agar peringatan Maulid Nabi menjadi sarana untuk mentransformasikan nilai-nilai risalah dan keteladanan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata.
“Nilai ajaran Islam yang sempurna maupun keteladanan utama Nabi Muhammad yang mulia tidak akan berjalan sendiri tanpa diaktualisasikan dalam kehidupan nyata umat Islam saat ini,” kata dia.
Keteladanan untuk moral publik
Sosok kelahiran Bandung, Jawa Barat itu menilai keteladanan Nabi Muhammad yang dikenal memiliki akhlak agung harus menjadi inspirasi bagi para tokoh dan umat Islam dalam membangun kehidupan yang bermoral. Keteladanan tersebut tercermin dalam cara berpikir, berkata, dan bertindak, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun relasi antarmanusia.
Menurut Haedar, kebutuhan terhadap keteladanan moral semakin penting di tengah berbagai persoalan yang masih terjadi di Indonesia. Ia menyoroti maraknya korupsi, penyalahgunaan jabatan, perusakan alam, narkoba, serta berbagai kejahatan dan persoalan sosial yang merugikan kehidupan bersama.
“Korupsi bahkan makin parah karena meluas melibatkan para aktor di lembaga pendidikan tinggi. Begitu pula dengan dunia media sosial yang masih diwarnai narasi-narasi hoaks, kebencian, saling hujat, kata-kata kotor, dan permusuhan,” ujarnya.
Ketua Umum PP Muhammadiyah menegaskan, kunci utama kehidupan terletak pada kualitas manusianya. Sistem kehidupan yang baik membutuhkan manusia yang memiliki integritas dan moral yang baik. Sebaliknya, sistem dapat rusak ketika dijalankan oleh manusia yang mengalami kerusakan moral.
Sebab itu, berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks membutuhkan patokan nilai moral yang jelas mengenai mana yang baik dan buruk sebagai standar kehidupan publik.
“Di sinilah pentingnya para tokoh dan umat beragama di berbagai lembaga publik memberi teladan nilai luhur, bagaimana menjadikan agama secara nyata sebagai dasar moral pencerahan akhlak kolektif di ruang publik,” kata Haedar.
Ia menekankan bahwa moralitas publik tidak boleh berhenti pada narasi normatif maupun retorika keagamaan. Akhlak harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperlihatkan keselarasan antara perkataan dan perbuatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....