Korea Selatan Tawarkan Program Ekraf, DIY Siapkan TBY Jadi Hub Talenta

  • 25 Agt 2026 14:23 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pemerintah Daerah DIY menyatakan kesiapan menjadi mitra dalam penjajakan program pengembangan ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif yang ditawarkan Korea International Cooperation Agency (KOICA) Indonesia. Dalam kerja sama tersebut, Dinas Kebudayaan DIY mengusulkan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai hub atau simpul pengembangan talenta kebudayaan dan industri kreatif.

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Aria Nugrahadi, mengatakan DIY siap berperan aktif dalam penjajakan kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi perlu dibangun berdasarkan prinsip saling memahami, saling percaya, serta memiliki tujuan yang sama.

“Dengan modal kebudayaan, sumber daya manusia serta ekosistem kolaboratif, Daerah Istimewa Yogyakarta siap menjadi mitra yang aktif dan berkomitmen dalam pelaksanaan kerja sama ini,” kata Aria pada rapat koordinasi yang digelar Senin, 24 Agustus 2026 di Gedhong Pracimasana Lt. 2, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjelaskan TBY nantinya tidak hanya difungsikan sebagai ruang penyelenggaraan kegiatan kebudayaan dan industri kreatif. Lebih jauh, TBY diarahkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan talenta kebudayaan dan industri kreatif di DIY.

Menurut Dian, pengelolaan talenta tersebut perlu dilakukan secara terarah, berkelanjutan, dan berbasis data. “Kami mengusulkan Taman Budaya Yogyakarta sebagai satu hub atau simpul utama yaitu sebagai titik temu, titik tumbuh dan titik laju talenta kebudayaan dan industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Dian.

Konsep tersebut mencakup sejumlah tahapan, mulai dari menemukan dan mengidentifikasi potensi, meningkatkan kompetensi, membangun karier, membuka kesempatan berkarya, memperluas jejaring dan mobilitas, memberikan rekognisi, hingga mempertahankan serta melakukan regenerasi talenta kebudayaan.

Rapat koordinasi penjajakan program pengembangan ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif yang ditawarkan Korea International Cooperation Agency (KOICA) Indonesia yang digelar Senin, 24 Agustus 2026 di Gedhong Pracimasana Lt. 2, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. (Foto: Pemda DIY)

Pengelolaan talenta tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan pelaku kebudayaan dan industri kreatif dengan peluang yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global. Dian mengatakan, konsep tersebut menempatkan sumber daya manusia sebagai elemen utama dalam membangun ekosistem kebudayaan dan industri kreatif.

“Yogyakarta 2.0 sesungguhnya merupakan perubahan paradigma dari membangun ruang menuju membangun perjalanan talenta,” ujarnya.

Atas dasar itu, Pemda DIY ingin menjadi bagian aktif dalam kerja sama yang tengah dijajaki bersama KOICA. DIY tidak ingin hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut terlibat dalam proses pengembangan program.

“Saya tidak ingin hanya menjadi penerima bantuan, tetapi kami ingin menjadi co-investor dan co-creator,” katanya.

KOICA Siapkan Program Senilai 10 Juta Dolar AS Program Officer KOICA Indonesia, Nurul Hafizah, menjelaskan program Indonesia Culture and Creative Economy Ecosystem ditujukan untuk mengeksplorasi pemanfaatan aset kebudayaan sekaligus potensi ekonomi kreatif. Program tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya ekosistem kebudayaan dan industri kreatif yang berkelanjutan.

Nilai program diperkirakan mencapai sekitar 10 juta dolar AS. Namun, Nurul menegaskan nilai tersebut masih bergantung pada kebutuhan serta kesiapan Pemda DIY dan pemerintah pusat. Saat ini, program masih berada dalam tahap penjajakan dan selanjutnya akan melalui proses evaluasi.

Country Director KOICA Indonesia, Kim Jin-hee, mengatakan proses prefeasibility study melibatkan perwakilan berbagai lembaga serta pakar dari sejumlah bidang. Keterlibatan banyak pihak tersebut dilakukan untuk melihat peluang dan kesiapan pelaksanaan program di Yogyakarta.

Menurutnya, banyaknya pihak yang terlibat menunjukkan besarnya perhatian KOICA terhadap kemungkinan pelaksanaan program tersebut. Meski demikian, ia menegaskan keputusan untuk menjalankan program belum dapat dipastikan karena masih terdapat berbagai variabel yang perlu dikaji.

“Di tahap awal seperti ini kita tidak bisa langsung mengucapkan bahwa kita akan menjalankan projek ini karena masih banyak variabel yang bisa terjadi,” ujarnya.

Tahapan penjajakan selanjutnya akan dilanjutkan melalui penyusunan Project Concept Paper (PCP) bersama Bappenas yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Jika lolos evaluasi, proses berikutnya akan memasuki tahap feasibility study dan in-depth study pada 2027. Sementara penandatanganan dokumen kerja sama ditargetkan dapat dilakukan pada 2028.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....