Panen Raya 4.000 Ton di Parangtritis, Petani Masih Keluhkan Drainase dan Harga Benih

  • 22 Agt 2026 16:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul - Panen raya bawang merah seluas 200 hektar digelar di Bulak Bungkus, kelurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, kabupaten Bantul, Kamis 20 Agustus 2026. Hasilnya mencapai 4.000 ton, dengan nilai transaksi di sekitar Rp72 miliar.

Namun di sela seremoni, petani masih menyampaikan sejumlah keluhan lewat forum sambung rasa bersama Kementerian Pertanian.

Acara ini sekaligus menjadi ajang peluncuran siaran Kelompencapir RRI dan Kelompencapir Digital, hasil kolaborasi Radio Republik Indonesia dengan Kementerian Pertanian. Turut hadir Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Direktur Utama LPP RRI Hendrasmo, dan jajaran Kementan.

Salah satu petani, Subagyo, mewakili Kelompok 4 Petani Bawang Merah Parangtritis, mengeluhkan saluran drainase yang belum memadai. Ia menyebut lahan pertanian kerap tergenang saat musim hujan tiba.

“Apabila di musim hujan turun, hujannya deras, itu drainase yang ada sekarang ini kurang mampu memadai. Akhirnya, airnya meluap ke sawah terus terjadi banjir. Padahal untuk tanaman bawang merah, apabila kena banjir, itu dipastikan untuk gagal panen,” ujatnya.

Petani lain, Romlan, menambahkan bahwa akses jalan menuju lahan pertanian juaga masih menjadi kendala. Kendaraan roda empat pengangkut pupuk dan hasil panen belum bisa masuk karena jalan belum di perkeras, sehingga becak saat musim hujan.

Keluhan lain datang dari petani bernama Sumandi, yang menyoroti sulitnya membeli bahan bakar minyak (BBM) subsidi untuk pompa air. Ia menyebut sejumlah petani sempat ditolak petugas SPBU saat membeli BBM menggunakan jerigen untuk keperluan pompa.

Selain soal infrastruktur, petani juga mempertanyakan anjloknya harga benih bawang merah dari Rp25.000 menjadi Rp15.000 per kilogram saat panen raya. Direktur Jenderal Hortikultural Kementerian Pertanian menjawab bahwa pemerintah sudah memiliki Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebagai patokan.

“Kalau bawang merah basah, harga pembelian di tingkat produsen Rp18.500 sampai Rp20.000. kalau rogol kering, bisa naik jadi Rp25.000 sampai Rp30.000,” katanya. Ia menambahkan, Satgas Pangan akan menindak tengkulak yang membeli di bawah harga acuan.

Menanggapi keluhan soal BBM subsidi, perwakilan Dinas Pertanian menjelaskan bahwa pengajuan sebaiknya dikoordinasikan secara kolektif melalui kelompok tani, bukan perorangan, agar lebih mudah diproses dan diawasi.

Pemerintah Kabupaten Bantul telah mengusulkan pembangunan tanggul untuk mengatasi rob tahunan di pesisir Parangtritis, serta instalasi perbenihan mandiri. Pemerintah DIY juga berjanji berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk menindaklanjuti persoalan drainase dan akses jalan yang disampaikan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....