Panen 50 Kilogram Sayur Tiap Hari, Lapas Cebongan Dorong Kemandirian Pangan

  • 20 Agt 2026 15:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sleman atau Lapas Cebongan berupaya untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan melalui budidaya tanaman sayur dan ikan di lingkungan lapas. Selain memenuhi kebutuhan pangan warga binaan, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program pembinaan keterampilan bagi warga binaan. Sejumlah sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, tomat, hingga selada dibudidayakan di lahan brandgang atau lorong sempit dengan total luasan 1.443 meter persegi.

Kepala Subseksi Kegiatan Kerja (Kasubsi Giatja) Lapas Cebongan Agus Triyanta menjelaskan lahan budidaya tanaman sayur dan ikan ini sudah ada sejak lapas berdiri. Dalam sehari, pihaknya bisa melakukan panen hingga 50 kilogram sayur. Dari hasi panen itu, sebanyak 30 kilogram sayuran diolah di dapur lapas dan dikonsumsi oleh warga binaan. Sementara, sisanya dijual kepada masyarakat dan pelaku UMKM. Sebagian hasil dari penjualan sayur masuk sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Sedangkan, sisanya diberikan sebagai premi kepada warga binaan. Agus mengatakan, hingga saat ini setidaknya ada 4 warga binaan yang konsisten merawat lahan budidaya sayur dan ikan.

“Tidak ada kendala, mereka (warga binaan) sudah paham tentang pengolahan tanaman, sudah tahu tentang pertanian. Yang lainnya itu belajar dari yang sudah bisa. Diberi tahu untuk penanaman, pemupukan, dan penyiraman,” kata Agus saat ditemui di Lapas Cebongan, Kamis, 20 Agustus 2026.

Sebelum dilibatkan pada budidaya sayur dan ikan, warga binaan menjalani asesmen terlebih dahulu oleh tim pengamat pemasyarakatan (TPP). Asesmen dilakukan untuk melihat latar belakang warga binaan sebelum menjalani masa pidana, termasuk bakat dan kemampuan yang dimiliki. Agus mengatakan, warga binaan dengan sisa masa pidana di bawah dua tahun biasanya menjadi salah satu pertimbangan untuk dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Namun, warga binaan yang tidak terpilih tetap diarahkan mengikuti kegiatan pembinaan lainnya.

Kegiatan tersebut antara lain pembuatan kerajinan hingga produksi kain wastra. Menurut Agus, warga binaan menunjukkan antusiasme dalam mengikuti berbagai kegiatan produktif selama menjalani masa pidana.

“Sekarang mereka (warga binaan) ingin berkegiatan untuk menghilangkan rasa bosan,” ucap Agus.

Sementara, Kepala Lapas Kelas IIB Sleman Tri Mulyono menyebut upaya ketahanan pangan ini turut memanfaatkan lahan yang belum digunakan secara optimal. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari fungsi pembinaan pemasyarakatan. Warga binaan diharapkan memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk kembali produktif setelah selesai menjalani masa pidana. Tri mengatakan, semangat kemandirian pangan tak hanya berhenti pada budidaya sayur dan ikan. Ke depan, pihaknya akan terus melakukan pengembangan di sisa lahan yang masih ada.

“Ketahanan pangan yang ada di Lapas Kelas IIB Sleman ini kita merupakan wujud nyata dari mendukung asta cita Presiden Prabowo terkait dengan pemantapan ketahanan pangan. Dan sesuai dengan 15 program aksi dari Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, pemberdayaan warga binaan dalam hal ketahanan pangan dan pemanfaatan lahan tidur,” kata Tri Mulyono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....