Tiga Pilar Keseimbangan Hidup Muslim Menurut Ustadz Abdul Halim
- 20 Agt 2026 05:11 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keseimbangan hidup seorang Muslim ditentukan oleh tiga pilar utama relasi, yakni hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam sekitar, Kamis, 20 Agustus 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdul Halim, S.Ag., dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam program Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Yogyakarta.
Dalam tausiyahnya, beliau menekankan bahwa pembentukan relasi yang kokoh dengan Sang Pencipta merupakan fondasi paling mendasar sebelum membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan sosial dan alam.
Ustadz Abdul Halim menjelaskan bahwa hablumminallah ibarat ikatan spiritual yang menyambungkan seorang hamba secara langsung dengan Sang Khaliq. Kesuksesan dan ketenangan hidup seseorang sejauh mana ia mampu menjaga kualitas keharmonisan hubungannya dengan Allah.
“Hablumminallah ibarat ikatan atau kabel spiritual yang menyambungkan seorang hamba secara langsung dengan Sang Khaliq,” katanya.
Dalam paparannya, terdapat beberapa tahapan penting untuk memastikan hubungan dengan Allah berada dalam kondisi terbaik, diawali dengan memperkuat iman dan keikhlasan. Keimanan yang kokoh melahirkan keikhlasan dalam meniatkan seluruh perjalanan hidup semata-mata untuk meraih keridhaan Allah SWT.
Tahap selanjutnya dari keikhlasan adalah tumbuhnya sikap tawakal atau kepasrahan total kepada takdir dan ketentuan Allah SWT. Ustadz Abdul Halim mengungkapkan bahwa tingkat ketenangan jiwa seseorang berbanding lurus dengan kadar tawakalnya.
“Ketika seorang hamba bertawakal secara maksimal, ia tidak akan lagi dihinggapi rasa cemas, ragu, atau khawatir yang berlebihan dalam menghadapi dinamika kehidupan,” ujarnya.
Rasa pasrah dan keikhlasan tersebut pada akhirnya bermuara pada sikap syukur dan husnuzzan terhadap setiap ketetapan Allah. Keseluruhan tahapan dari iman, ikhlas, tawakal, hingga syukur tersebut wajib diikat dengan sikap istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Puncak dari implementasi hablumminallah yang utuh adalah terwujudnya ketakwaan, yakni kepatuhan dan kedisiplinan penuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan menjaga hablumminallah secara murni dan tulus, seorang hamba tidak hanya memperoleh kebahagiaan dan ketenangan di dunia, tetapi juga kelak mendapatkan syafaat dan keselamatan di akhirat,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....