Merdeka dari Belenggu Digital
- 16 Agt 2026 13:37 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pro 1 Yogyakarta menggelar siaran keagamaan interaktif "Mutiara Pagi" pada Ahad, 16 Agustus 2026 pukul 05.10 hingga 06.00 WIB. Mengangkat tema "Kemerdekaan Sejati: Merdeka Hati, Sikap, dan Merdeka dari Belenggu Digital", ceramah tersebut menghadirkan Pimpinan Wilayah Muslimat NU Daerah Istimewa Yogyakarta, Ustadzah Dr. Nur Saidah, M.Ag. Siaran ini mengajak seluruh masyarakat untuk kembali merenungkan esensi kemerdekaan yang sesungguhnya di tengah riuk-pikuk persiapan malam tirakatan di berbagai sudut Kota Yogyakarta.
Dalam pemaparannya, Dr. Nur Saidah menekankan bahwa kemerdekaan sejati bukan sebatas kebebasan fisik dari belenggu penjajahan atau pencapaian usia kemerdekaan bangsa yang terus bertambah. Mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11, beliau mengingatkan pendengar bahwa perubahan besar dalam kehidupan berbangsa maupun personal senantiasa bermula dari transformasi kesadaran internal. Kemerdekaan hakiki menuntut setiap individu untuk mampu mengelola dan membebaskan hatinya dari segala hal yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT.
Lebih lanjut, penceramah menguraikan tiga pilar utama kemerdekaan yang patut diperjuangkan oleh umat Islam saat ini. Pilar pertama adalah kemerdekaan jiwa dari kungkungan hawa nafsu dan amarah. Dr. Nur Saidah menukil hadis riwayat Imam Bukhari mengenai hakikat orang yang kuat, yakni mereka yang mampu mengendalikan diri saat emosi memuncak. Keberhasilan menahan ucapan kasar serta menolak perbuatan yang dilarang agama merupakan wujud nyata dari kemerdekaan batin seseorang.
Pilar kedua menekankan kebebasan dari ketergantungan pada penilaian manusia, terutama di era media sosial dan peradaban digital saat ini. Banyak individu terjebak dalam rasa cemas dan kehilangan rasa syukur akibat selalu membandingkan diri dengan gambaran semu kehidupan orang lain di dunia maya. Mengacu pada Surah An-Nahl ayat 97, beliau menegaskan bahwa kemuliaan hamba serta kehidupan yang baik (hayatan tayyibah) hanya dapat dicapai melalui iman dan amal saleh, bukan dari pengakuan netizen maupun atribut fisik semata.
Pada pilar ketiga, Dr. Nur Saidah menekankan bahwa kebebasan dalam Islam tidak bersifat mutlak tanpa batas, melainkan selalu berjalan berdampingan dengan rasa tanggung jawab. Merdeka berarti memiliki keleluasaan penuh untuk memilih serta konsisten menjalankan kebaikan yang bernilai ibadah. Kemerdekaan sikap dan perilaku teercermin ketika seorang hamba secara sadar memilih jalan ketaatan serta mendedikasikan potensi dirinya untuk kemaslahatan sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....