Rektor UIN Sunan Kalijaga Ingatkan Wisudawan, Yogyakarta Dibangun dari Kerinduan

  • 16 Agt 2026 21:14 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kembali mengukuhkan 538 lulusan dalam Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026, Kamis, 13 Agustus 2026, di Gedung Multipurpose Prof Dr H Amin Abdullah. Prosesi yang berlangsung melalui Sidang Senat Terbuka tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Senat Universitas, Prof Dr Kamsi.

Para wisudawan terdiri atas 105 lulusan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 188 lulusan Fakultas Syariah dan Hukum, 149 lulusan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, serta 96 lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Mengawali pidatonya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof H Noorhaidi Hasan menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang dan ketangguhan para wisudawan hingga berhasil mencapai tahap tersebut.

“Selama menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, Anda telah dibekali kompetensi keilmuan melalui kurikulum yang terus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman. Anda juga didampingi untuk mengasah keterampilan, membangun karakter, dan menumbuhkan akhlakul karimah agar siap menghadapi berbagai tantangan pada masa mendatang,” ujar Rektor.

Rektor juga mengajak para wisudawan memaknai kelulusan secara lebih filosofis. Mengutip puisi Joko Pinurbo yang menggambarkan Yogyakarta sebagai kota istimewa yang terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Noorhaidi menjadikan ketiga kata tersebut sebagai metafora untuk merefleksikan ikatan para lulusan dengan UIN Sunan Kalijaga serta tanggung jawab yang menyertai langkah mereka selepas meninggalkan kampus.

“UIN Sunan Kalijaga bukan sekadar tempat Anda menimba ilmu, melainkan ruang istimewa tempat ikatan emosional tumbuh. Di kampus ini, Anda berproses menempa diri, menemukan sahabat, serta membentuk cara pandang terhadap dunia dan kemanusiaan. Karena itu, saya yakin UIN Sunan Kalijaga akan selalu menjadi tempat yang Anda rindukan,” kata dia.

Sementara itu, kata “pulang” dimaknai sebagai kembalinya ilmu, pengalaman, dan keterampilan kepada diri setiap lulusan. Menurut Rektor, seluruh bekal yang diperoleh selama menempuh pendidikan pada akhirnya bergantung pada bagaimana para lulusan mengembangkan dan menggunakannya untuk membangun karier serta menata masa depan.

“Setinggi apa pun IPK yang diraih, ilmu itu pada akhirnya berpulang kepada diri Anda: akan dikembangkan atau dibiarkan begitu saja. Tanpa upaya untuk memberdayakannya, ijazah hanya akan tersimpan di lemari,” ujarnya.

Makna tersebut selaras dengan semangat Empowering Knowledge, Shaping the Future: ilmu tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus diberdayakan untuk membuka jalan menuju masa depan.

Tanggung jawab itu menjadi semakin penting ketika para lulusan memasuki dunia yang sedang menghadapi perlambatan ekonomi, krisis iklim, konflik, melemahnya sejumlah sektor industri, serta perkembangan otomatisasi. Di tengah situasi tersebut, Rektor mendorong para lulusan untuk hadir dengan gagasan-gagasan segar dan keberanian menciptakan peluang.

“Jangan berhenti berinisiatif, jangan berhenti berpikir, jangan berhenti kreatif, dan jangan berhenti membuka kesempatan untuk menembus masa depan,” kata dia, berpesan.

Sementara itu, “angkringan” Prof. Noorhaidi memaknainya sebagai ruang sosial yang mempertemukan beragam orang tanpa batas dan sekat. Di dalam kesederhanaannya, angkringan menghadirkan percakapan, kepedulian, dan kebersamaan.

“Begitu pula ketika Anda mengaktualisasikan diri, jangan pernah lupa bahwa kita adalah bagian dari umat manusia. Kita hidup tanpa sekat dan harus siap memberikan yang terbaik kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang,” ujar Rektor.

Wisuda Periode IV UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis, 13 Agustus saing, di Gedungb Multi Purpose Prof Dr H Amin Abdullah. (Foto: RRI/Rosihan Anwar)

Ilmu jangan berhenti

Di tengah kegembiraan wisuda, Ratu Sheba Sofie Ahimsa yang mewakili para lulusan mengajak wisudawan melihat toga dan gelar akademik bukan sekadar simbol keberhasilan. Keduanya, menurutnya, membawa tanggung jawab agar ilmu tidak berhenti sebagai jalan menuju kenyamanan pribadi, tetapi tumbuh menjadi daya yang memanusiakan manusia.

Ia mengutip pesan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kemanusiaan lebih penting daripada politik. Pesan itu menjadi pengingat bahwa jabatan, pendidikan, dan harta akan kehilangan makna apabila tidak dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia.

Sebagai lulusan UIN Sunan Kalijaga, lanjut Sheba, para wisudawan membawa amanah untuk menerjemahkan integrasi keilmuan dan nilai-nilai keislaman ke dalam profesi masing-masing.

“Guru diharapkan mengajar dengan hati, peneliti bekerja demi kemaslahatan, birokrat melayani dengan integritas, dan pemimpin menghadirkan keadilan,” ucapnya

Apa pun jalan yang dipilih setelah meninggalkan kampus, ia berharap manusia tetap menjadi pusat dari setiap keputusan. Sebab, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi seseorang mampu berdiri, tetapi juga oleh seberapa banyak orang yang turut bangkit karena kehadirannya.

“Setelah keluar dari kampus ini, kita tidak hanya mengejar gaji, tetapi juga kebermanfaatan. Tidak hanya mengejar jabatan, tetapi juga kejujuran. Dan tidak hanya mengejar kesuksesan, tetapi juga keberanian untuk membela yang benar, Hari ini kita lulus sebagai sarjana, semoga esok kita dikenang sebagai manusia, ” kata dia, menandaskan.

Dalam wisuda tersebut, UIN Sunan Kalijaga juga memberikan penghargaan kepada sembilan lulusan terbaik dan tercepat dari jenjang sarjana, magister, dan doktor.

Pada jenjang sarjana, penghargaan diberikan kepada Tiara Febriani dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dengan IPK 3,89 dan masa studi 3 tahun 8 bulan 25 hari; Muhammad Agil Husein dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan IPK 3,94 dan masa studi 3 tahun 7 bulan 29 hari; Ratu Sheba Sofie Ahimsa dari Fakultas Syariah dan Hukum dengan IPK 3,96 dan masa studi 3 tahun 7 bulan 27 hari; serta Rif’atul Maula dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dengan IPK 3,98 dan masa studi 3 tahun 8 bulan 25 hari.

Pada jenjang magister, penghargaan diberikan kepada Yuliyanti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dengan IPK 3,83 dan masa studi 1 tahun 9 bulan 2 hari; Muhammad Rafiq Meilandi dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan IPK 3,96 dan masa studi 1 tahun 7 bulan 22 hari; Hendri Kurniawan dari Fakultas Syariah dan Hukum dengan IPK 3,97 dan masa studi 1 tahun 8 bulan 26 hari; serta Mustiadi Gafar Alifandi dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dengan IPK 3,99 dan masa studi 1 tahun 8 bulan 26 hari. Pada jenjang doktor, penghargaan diberikan kepada Destiana Kumala dari Fakultas Syariah dan Hukum. Ia meraih IPK 3,98 dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 3 bulan 19 hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....