Romo Adrianus Fani Buktikan UIN Sunan Kalijaga yang Inklusif dan Multikultural

  • 16 Agt 2026 20:54 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perbedaan latar belakang agama tidak menjadi penghalang bagi Romo Adrianus Fani untuk menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Justru, keberagaman yang ia temukan selama menjadi mahasiswa menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan akademiknya.

Sebagai seorang pastor, Romo Adrianus Fani, ternyata merupakan salah satu wisudawan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026. Berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pernah berkarya sebagai pastor di Jepang, Romo Adrianus memilih UIN Sunan Kalijaga sebagai ruang untuk memperdalam kajian Islam.

“Pengalaman saya ketika berada di sini hemat saya luar biasa karena UIN Sunan Kalijaga itu menerima mahasiswa non-Muslim untuk belajar di sini,” katanya, Rabu, 13 Agustus 2026, kala menghadiri prosesi wisuda di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sejak September 2024, ia menempuh pendidikan magister di Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies (IIS) Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai seorang imam Katolik, keputusan untuk belajar di perguruan tinggi Islam tersebut menjadi pengalaman yang mempertemukan dirinya dengan lingkungan akademik yang beragam.

“Ada romo, ada suster, ada teman yang beragama Hindu, dan itu kami belajar sama-sama dengan teman-teman Muslim di tempat itu. Itu satu hal yang luar biasa dan sangat menarik bagi saya,” ucap Romo Adrianus.

Bagi Romo Adrianus, keberagaman yang ia temui di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bukan sekadar keberadaan mahasiswa dengan latar belakang agama yang berbeda. Lebih dari itu, keberagaman menjadi pengalaman belajar bersama yang membentuk cara pandangnya terhadap relasi antarumat beragama.

Selama menjalani studi, ia merasakan bagaimana mahasiswa dengan latar belakang yang berbeda dapat saling belajar dan memberikan dukungan satu sama lain.

“Dengan adanya keberagaman seperti ini, saya yang adalah seorang romo Katolik juga belajar banyak hal dari teman-teman Muslim. Bahwa kita saling menghargai satu sama lain, kita saling mendukung satu sama lain dalam perjalanan akademik maupun dalam perjalanan di luar akademik,” kata dia.

Perjumpaan lintas iman

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang akademik dapat menjadi tempat penting untuk membangun perjumpaan lintas iman. Perbedaan tidak ditempatkan sebagai sekat, tetapi menjadi kesempatan untuk mengenal perspektif yang berbeda sekaligus membangun hubungan yang saling menghargai.

Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pengalaman Romo Adrianus menjadi salah satu gambaran bagaimana keterbukaan dan keberagaman dapat hadir dalam kehidupan kampus. Lingkungan akademik menjadi ruang bersama bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berdiskusi, dan berkembang.

Pengalaman positif selama menempuh pendidikan membuat Romo Adrianus berharap keterbukaan tersebut terus dipertahankan UIN Sunan Kalijaga.

Ia berharap UIN Sunan Kalijaga terus memberikan ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk memperoleh pendidikan dan berkembang bersama.

“Pesan saya untuk UIN Sunan Kalijaga: tetaplah terbuka untuk mahasiswa-mahasiswa non-Muslim seperti saya atau juga teman-teman yang lain sehingga mereka juga ketika melamar untuk bersekolah di tempat ini diterima dan mereka belajar dengan penuh semangat, dan akhirnya bisa menamatkan diri sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,” ujar dia, berpesan.

Mengabdi di Jepang

Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas pengalaman Romo Adrianus selama menjalani pendidikan. Bagi dirinya, keterbukaan kampus bukan hanya memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan yang memungkinkan mahasiswa belajar dari satu sama lain.

Perjalanan akademik Romo Adrianus juga menjadi bagian dari pengalaman hidupnya yang melintasi berbagai ruang. Berasal dari NTT dan pernah berkarya di Jepang, ia kemudian melanjutkan perjalanan intelektualnya di Yogyakarta dengan mempelajari Islam.

Pengalaman tersebut mempertemukan berbagai perspektif tentang agama, budaya, dan kehidupan masyarakat dalam satu perjalanan akademik.

Kisah kelulusan Romo Adrianus di UIN Sunan Kalijaga juga memiliki cerita personal yang menghangatkan. Di tengah momentum wisuda, seorang rekannya dari Jepang, Sumiko, hadir langsung ke Yogyakarta untuk ikut merayakan keberhasilan Romo Adrianus menyelesaikan pendidikan magisternya.

Sumiko mengenal Romo Adrianus sejak 2020 ketika ia berkarya di Kichijoji Catholic Church, Jepang. Sekitar enam tahun, keduanya mengenal dan berinteraksi dalam lingkungan pelayanan di Jepang.

Kehadiran Sumiko di Yogyakarta menjadi bentuk dukungan personal atas perjalanan panjang Romo Adrianus menyelesaikan studinya.

“Saya di sini untuk memberi selamat kepada Romo Adri, dan saya merasa turut berbahagia ketika mengetahui Romo Adri telah menyelesaikan program Master-nya. Dan, saya berharap dapat melihat Romo Adri juga sukses untuk melanjutkan studi program doktoral,” ujarnya, dalam bahasa Inggris.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....