BNNP DIY Ajak Pelajar Cegah Narkotika lewat Film
- 12 Agt 2026 09:16 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BNNP DIY) mengajak pelajar menyaksikan film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Pesan tentang bahaya narkotika dikemas melalui media film yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan dan karakter generasi muda.
Kegiatan nonton bareng tersebut berlangsung di Bioskop CGV J-Walk Yogyakarta, Selasa siang 11 Agustus 2026. Kegiatan dihadiri Kepala BNNP DIY Brigjen Pol Faried Zulkarnain, SIK, beserta jajaran pegawai, serta sejumlah pemangku kepentingan dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY, DP3AP2 DIY, Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, dan Humas Pemerintah Daerah DIY.
Para pelajar dan guru dari sejumlah sekolah juga turut mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari SMA Negeri 2 Yogyakarta, SMA Negeri 4 Yogyakarta, SMA Negeri 10 Yogyakarta, SMK Negeri 5 Yogyakarta, SMK Negeri 2 Depok, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, MAN 1 Yogyakarta, serta MAN 3 Bantul. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pesan pencegahan narkotika di lingkungan pendidikan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri produser dan perwakilan Panen Entertainment yang terlibat dalam produksi serta pengembangan film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula. Kolaborasi antara BNNP DIY dan insan perfilman tersebut mempertemukan pendekatan edukasi pencegahan narkotika dengan industri kreatif, khususnya sinema, sehingga pesan yang disampaikan dapat dikemas melalui cerita yang menarik dan mudah diterima pelajar.
Film MAJU: Jejak Pahit si Kembang Gula berkisah tentang empat sahabat, yakni Kirana yang diperankan Princesza Leticia, Hanna diperankan Bebe Gracia, Gerald diperankan Axandro, dan Bagas diperankan Aradhana Rahadi. Mereka bersama guru bernama Pak Wira melakukan survei lokasi untuk persiapan kegiatan Jambore. Namun, perjalanan tersebut berubah menjadi penuh misteri setelah Bagas yang menunjukkan perubahan perilaku tiba-tiba menghilang di desa lokasi perkemahan.

Hilangnya Bagas kemudian membawa ketiga sahabatnya pada sebuah pencarian yang tidak mudah. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan adalah potongan kembang gula yang menjadi makanan kesukaan Bagas. Mereka berusaha mengikuti jejak tersebut untuk menemukan keberadaan sahabatnya.
Pendekatan kreatif
Alur cerita yang dekat dengan kehidupan anak dan remaja menjadi ruang untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya kewaspadaan, keberanian mengambil keputusan, serta memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
Kepala BNNP DIY Brigjen Pol Faried Zulkarnain, SIK, mengatakan pencegahan narkotika membutuhkan pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan relevan dengan karakter generasi muda. Menurutnya, edukasi tidak harus selalu disampaikan melalui sosialisasi formal, tetapi dapat memanfaatkan berbagai media yang mampu menarik perhatian sekaligus mengajak pelajar melakukan refleksi.
“Film dapat menjadi sarana edukasi yang menarik bagi anak dan remaja. Melalui cerita, mereka tidak hanya melihat sebuah tontonan, tetapi juga dapat belajar mengenali situasi, memahami konsekuensi dari sebuah pilihan, dan membangun keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat,” ujar Faried.
Faried menambahkan, pemanfaatan film sebagai media edukasi diharapkan dapat membuka ruang komunikasi yang lebih dekat antara pelajar, pendidik, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ketahanan diri terhadap ancaman narkotika.
“Pencegahan narkotika perlu dilakukan dengan cara yang dekat dengan dunia anak dan remaja agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Kegiatan nonton bareng tersebut sekaligus menjadi salah satu implementasi program Ananda Bersinar, yang mendorong terciptanya lingkungan pendidikan bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dengan melibatkan anak, keluarga, sekolah, serta lingkungan sekitar.
BNNP DIY berharap pemanfaatan sinema sebagai media edukasi dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari inovasi P4GN. Melalui kolaborasi berbagai pihak, setiap ruang diharapkan dapat menjadi ruang edukasi untuk membangun generasi muda yang sehat, produktif, memiliki ketahanan diri, dan berani memilih masa depan tanpa narkotika.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....