Resah Banyak Kasus Keracunan, Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Detektor MBG
- 06 Agt 2026 14:02 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Berawal dari keresahan terhadap banyaknya kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) yang terjadi di Sleman, dua pelajar SMPN 1 Turi berinovasi menciptakan alat pendeteksi MBG. Alat detektor ini bisa mendeteksi kandungan alkohol dalam makanan yang menyebabkan makanan basi. Selain itu, alat ini juga bisa mendeteksi keberadaan pestisida pada buah.
Siswa SMPN 1 Turi yang juga pembuat detektor MBG Abyan Syahlefi menjelaskan alat akan mendeteksi uap, suhu, dan alkohol. Mesin di dalam detektor itu akan terhubung dengan website Google Chrome melalui sambungan wifi. Proses deteksi makanan hanya dalam hitungan detik dan diterjemahkan oleh sensor. Jika makanan tidak basi dan layak konsumsi, maka website dan alat detektor akan memunculkan indikator tulisan aman. Sebaliknya, jika terdeteksi makanan basi, maka akan muncul indikator tulisan terdeteksi.
“Alat ini digunakan untuk mendeteksi makanan setiap MBG datang,” kata Abyan saat ditemui di SMPN 1 Turi, Kamis, 6 Agustus 2026.
Abyan menyebut proses penciptaan mesin detektor ini turut didampingi guru pendamping ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) dan memakan waktu hingga 5 bulan. Sementara, website pendeteksi kandungan MBG dibuat dalam kurun waktu satu minggu. Abyan mengaku sempat melakukan trial dan error sebanyak tiga kali. Kendala paling sulit ada pada proses coding mesin detektor.
“Kesulitannya dalam membuat alatnya adalah memprogram alat ini untuk dikoneksikan ke handphone, agak sulit,” ucap Abyan.
Sementara, Pradipta Widhi Nugroho, siswa kelas IXB SMPN 1 Turi yang juga menciptakan alat detektor ini mengaku pemrograman alat juga menjadi tantangan yang paling sulit. Sebab, dia juga belum mendapatkan pelajaran mengenai coding di bangku SMP dan hanya mengembangkan secara otodidak serta pendampingan dari guru pendamping. Dipta mengatakan, karyanya bersama Abyan telah diajukan pada kompetisi olimpiade penelitian siswa Indonesia (OPSI).
“(Kompetisi OPSI) lolos tahap satu,” kata Dipta.
Sementara, Kepala SMPN 1 Turi Hospita Henny Koerniati menjelaskan pihak sekolah turut memberikan dukungan penuh bagi inovasi siswanya ini. Hospita mengatakan, kemunculan ide murni berawal dari inisiasi Dipta dan Abyan. Berbagai pihak juga disebut turut memberikan apresiasi. Mulai dari Komisi D DPRD Sleman hingga staf ahli Badan Gizi Nasional. Hospita berharap, inovasi alat pendeteksi MBG ini bisa menjadi pilot project dan dikembangkan di sekolah lainnya.
“Ke depan kalau memang ini kita bisa bekerja sama untuk bisa kita tularkan ke sekolah-sekolah yang lain. kami akan membuat hak patennya bahwa ini adalah yang menemukan dari putra-putra kami,” ujar Hospita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....