Pegawai SPPG di Bantul Diduga Ejek Korban Keracunan MBG, BGN DIY Beri Klarifikasi

  • 21 Sep 2026 07:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Unggahan berupa video salah seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bantul yang diduga mengejek korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat viral di jagat maya. Dalam video tersebut, pria itu terlihat mengolok-olok korban keracunan MBG di Karo, Sumatra Utara, yang mengalami hilang ingatan.

“Keji dan nirhati! Di saat ratusan siswa di Berastagi terbaring sakit akibat keracunan MBG, oknum pegawai BGN bernama Gerardus Permanaditya malah bikin konten video makan ayam goreng yang diduga kuat mengejek Febiona Purba, siswi yang sempat kejang hingga hilang ingatan,” tulis akun Instagram @reset.feeds.

“Kelakuan yang dinilai sama sekali tak punya empati ini langsung memancing murka publik. Tak butuh waktu lama, netizen bergerak cepat menguliti akun media sosial hingga melacak keberadaan sang pegawai,” lanjut akun tersebut.

Menanggapi hal itu, Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, segala kejadian yang berhubungan dengan keamanan pangan dan berdampak kepada penerima manfaat harus disikapi dengan serius, penuh empati, dan rasa kemanusiaan.

“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ucapnya, Minggu, 20 September 2026.

Gagat menambahkan, pihaknya telah menelusuri identitas pria yang ada di unggahan tersebut. Ia pun membenarkan bahwa pria itu merupakan pegawai SPPG di wilayah Dlingo, Bantul.

“Betul (pembuat video adalah pegawai SPPG di Dlingo). Yang bersangkutan berposisi sebagai pengawas keuangan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Gagat juga mengaku telah melakukan klarifikasi terhadap pegawai yang dimaksud. Nantinya, hasil klarifikasi akan disampaikan kepada publik.

“Yang bersangkutan sudah diklarifikasi oleh jajaran kami, dan nanti akan disampaikan kepada publik secara pribadi maupun dari SPPG yang bersangkutan,” katanya.

Lebih lanjut, pihaknya mengingatkan seluruh jajaran agar menjaga etika komunikasi, termasuk dalam penggunaan media sosial. Ia tak ingin adanya kejadian yang menimpa penerima manfaat justru menjadi bahan candaan, olok-olok, atau komentar yang dapat melukai pihak yang sedang menghadapi kondisi sulit.

“Kejadian di satu wilayah harus menjadi perhatian dan pembelajaran bagi seluruh jajaran SPPG di wilayah lainnya. Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian. Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan,” ucapnya menambahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....